JAKARTA, ifakta.co – Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan alternatif baru untuk transaksi digital. Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) UGM mengembangkan Polpay, sistem pembayaran berbasis biometrik sidik jari.
Inovasi tersebut memungkinkan pengguna melakukan transaksi tanpa kartu maupun telepon genggam. Pengguna cukup melakukan autentikasi melalui sidik jari pada perangkat yang tersedia.
Tim Polpay menggabungkan sensor sidik jari dengan perangkat Electronic Data Capture (EDC). Selanjutnya, sistem memproses data biometrik menggunakan teknologi edge computing.
Iklan
Tim juga menerapkan enkripsi Advanced Encryption Standard 256-bit (AES-256). Setelah itu, sistem mengirim data ke server melalui protokol SSL/TLS untuk proses berikutnya.
Ketua tim Polpay, Tiara Ramadhani, mengatakan timnya ingin menghadirkan sistem pembayaran biometrik yang lebih terjangkau. Sebab, sejumlah teknologi biometrik masih membutuhkan infrastruktur dengan biaya relatif tinggi.
Selain itu, tim merancang Polpay dengan mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan pengguna. Mereka juga mengembangkan sistem agar proses transaksi berlangsung cepat.
“Melalui inovasi ini, diharapkan masyarakat dapat menikmati pengalaman pembayaran yang lebih praktis dan aman, serta tidak lagi bergantung pada kartu maupun perangkat seluler,” ujar Tiara.
Menurut Tiara, pengembangan Polpay tidak berjalan tanpa tantangan. Tim harus menguji berbagai komponen dan sistem agar inovasi tersebut mampu memenuhi standar keamanan.
Tim Polpay terdiri atas Tiara Ramadhani, Al Farabi Obiansyah, Marcelino Budi Prakasya, M. Fakhri Ghonim Setyanda, dan M. Rakhma Aifil Indira.
Polpay Andalkan Keamanan Data dan Edge Computing
Al Farabi Obiansyah menjelaskan bahwa keamanan menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan Polpay. Tim harus memastikan setiap bagian sistem mampu melindungi data pengguna.
“Tantangan utama dalam pembuatan Polpay adalah memastikan seluruh sistem yang ada memiliki tingkat keamanan yang tinggi,” kata Farabi.
Menurut Farabi, gagasan Polpay muncul dari kondisi pembayaran berbasis sidik jari yang belum banyak masyarakat gunakan di Indonesia. Karena itu, tim melihat peluang untuk mengembangkan teknologi tersebut.
Namun, tim juga menemukan tantangan pada aspek perlindungan data. Mereka kemudian melakukan berbagai pengembangan agar sistem mampu memberikan keamanan sekaligus menjaga privasi pengguna.
Marcelino Budi Prakasya mengatakan tim menerapkan privacy-preserved architecture dan edge computing architecture. Kedua pendekatan tersebut membantu tim menjaga keamanan serta privasi dalam proses transaksi.
“Pengembangan sistem ini membutuhkan riset yang mendalam dan waktu yang cukup panjang. Setiap hari, kami masih menemukan berbagai celah yang dapat diinovasikan, baik melalui pembaruan cara kerja software maupun penggunaan komponen yang lebih optimal,” ujar Marcelino.
Selain keamanan, tim juga mengejar kecepatan transaksi. Karena itu, Polpay memanfaatkan teknologi edge computing untuk mengurangi beban pemrosesan pada server pusat.
Teknologi tersebut memungkinkan sebagian proses berlangsung lebih dekat dengan perangkat pengguna. Dengan begitu, sistem dapat mempercepat proses transaksi.
Meski demikian, penggunaan teknologi tersebut menghadirkan tantangan lain. Tim harus menjaga agar biaya pengembangan tetap terjangkau.
M. Fakhri Ghonim Setyanda mengatakan tim terus mencari solusi untuk menekan kebutuhan biaya tanpa mengurangi kemampuan sistem.
“Kami harus memutar otak untuk mencari solusi agar teknologi edge computing yang kami gunakan tetap dapat diterapkan dengan biaya yang terjangkau,” ujar Fakhri.
Sementara itu, M. Rakhma Aifil Indira mengatakan pengembangan Polpay telah membawa tim memperoleh pendanaan melalui PKM bidang Karsa Cipta. Pencapaian tersebut menjadi langkah penting bagi tim untuk melanjutkan pengembangan inovasi.
Selanjutnya, tim mulai mempersiapkan diri menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Ajang tersebut akan berlangsung di Universitas Diponegoro pada November mendatang..
(naf/lex)



