JAKARTA, ifakta.co – Lobster menjadi salah satu makanan laut yang kerap hadir dalam menu istimewa. Dagingnya lembut dengan rasa gurih dan sedikit manis. Namun, lobster tidak hanya menawarkan cita rasa.

Makanan laut ini juga menyediakan protein serta berbagai mineral penting. Kandungan tersebut dapat mendukung sejumlah fungsi tubuh. Karena itu, lobster bisa menjadi bagian dari pola makan bergizi jika seseorang mengonsumsinya dalam porsi wajar.

Meski begitu, lobster juga mengandung natrium dan kolesterol cukup tinggi. Oleh sebab itu, cara memasak dan jumlah konsumsi tetap perlu mendapat perhatian.

Iklan

Kandungan Nutrisi

Lobster menyediakan beragam nutrisi dalam setiap porsinya. Dalam 100 gram lobster, terdapat sekitar 88 kalori dan 19 gram protein. Selain itu, lobster mengandung lemak dalam jumlah relatif rendah, yakni sekitar 0,9 gram.

Lobster juga menyediakan sejumlah mineral. Kandungan tersebut meliputi kalium, fosfor, kalsium, kolin, selenium, magnesium, dan zinc. Selain itu, lobster mengandung omega-3, tembaga, vitamin B3, vitamin B6, dan folat.

Namun, lobster juga mengandung natrium. Karena itu, konsumsi lobster perlu menyesuaikan kebutuhan tubuh, terutama bagi orang yang perlu membatasi asupan garam.

Manfaat Lobster

1. Menunjang kesehatan otak

Lobster mengandung omega-3 yang dapat mendukung fungsi otak. Salah satu jenis omega-3, yaitu DHA, berperan dalam menjaga struktur dan fungsi sel otak.

Selain itu, tubuh membutuhkan DHA untuk menjalankan berbagai fungsi saraf. Karena itu, konsumsi makanan sumber omega-3 dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tersebut.

Meski demikian, konsumsi lobster saja tidak cukup untuk menjaga kesehatan otak. Pola makan seimbang, tidur cukup, aktivitas fisik, dan stimulasi mental tetap memegang peranan penting.

2. Membantu memenuhi kebutuhan protein

Protein menjadi salah satu nutrisi utama dalam lobster. Tubuh menggunakan protein untuk membangun dan memperbaiki jaringan.

Selain itu, protein mendukung pembentukan enzim, hormon, serta berbagai komponen sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu, lobster dapat menjadi salah satu pilihan sumber protein hewani.

Agar kebutuhan nutrisi lebih lengkap, kombinasikan lobster dengan sumber protein lain, sayuran, buah, serta sumber karbohidrat yang sesuai.

3. Mendukung fungsi tiroid

Lobster menyediakan selenium dan yodium yang berkaitan dengan fungsi kelenjar tiroid. Kelenjar ini menghasilkan hormon yang membantu mengatur metabolisme tubuh.

Selain itu, hormon tiroid turut berperan dalam fungsi sistem saraf dan berbagai organ tubuh. Jadi, kecukupan nutrisi pendukung fungsi tiroid penting untuk menjaga kerja tubuh tetap optimal.

4. Membantu menjaga kesehatan tulang

Kandungan protein, kalsium, fosfor, dan kalium dalam lobster dapat mendukung kesehatan tulang. Tubuh membutuhkan kalsium dan fosfor untuk mempertahankan struktur tulang.

Sementara itu, protein membantu mempertahankan jaringan tubuh, termasuk jaringan yang menopang tulang. Karena itu, lobster dapat melengkapi asupan nutrisi untuk menjaga kekuatan tulang.

Namun, Anda tetap perlu mengonsumsi sumber kalsium lain, seperti susu, ikan tertentu, tahu, tempe, dan sayuran hijau.

5. Mendukung sistem kekebalan tubuh

Lobster mengandung protein dan zinc. Keduanya berperan dalam mendukung fungsi sistem imun.

Zinc, misalnya, membantu tubuh menjalankan berbagai proses yang berkaitan dengan pertahanan terhadap infeksi. Sementara itu, protein mendukung pembentukan berbagai komponen tubuh, termasuk bagian dari sistem kekebalan.

Karena itu, konsumsi lobster sebagai bagian dari menu bergizi dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tersebut.

6. Berpotensi membantu menurunkan risiko kanker

Kandungan omega-3 dan selenium dalam lobster membuat makanan laut ini berpotensi memberikan manfaat tambahan. Sejumlah penelitian mengaitkan asupan nutrisi tersebut dengan risiko beberapa jenis kanker.

Namun, bukti tersebut belum cukup untuk menyatakan lobster sebagai makanan pencegah kanker. Jadi, jangan menjadikan lobster sebagai pengganti pola hidup sehat atau pemeriksaan medis.

Peringatan

Lobster memang bergizi. Namun, Anda perlu memperhatikan cara mengolahnya. Pilih lobster yang masih segar dan masak hingga matang sempurna. Cara tersebut membantu mengurangi risiko paparan bakteri penyebab keracunan makanan.

Lobster juga dapat memicu alergi pada orang tertentu. Gejalanya dapat berupa gatal, ruam, mual, muntah, pembengkakan, hingga gangguan pernapasan. Jika muncul sesak napas atau pembengkakan setelah makan lobster, segera cari pertolongan medis.

Selain itu, perhatikan penggunaan garam, mentega, saus, atau bahan tinggi lemak saat memasak lobster. Penggunaan bahan tersebut secara berlebihan dapat meningkatkan kandungan natrium dan kalori dalam hidangan.

(naf/lex)

Iklan