Wisnu menilai kenaikan suku bunga memberi tekanan besar kepada pelaku UMKM dan masyarakat kelas menengah. Beban cicilan meningkat, sedangkan akses modal semakin terbatas.
“Dari perspektif ekonomi pembangunan, kelompok ini sebenarnya cukup resilien, tapi tidak kebal terhadap guncangan berkepanjangan,” terangnya.
Karena itu, ia meminta pemerintah segera menghadirkan perlindungan di sektor pembiayaan melalui restrukturisasi kredit, penundaan cicilan, serta subsidi bunga yang benar-benar menyasar kelompok yang membutuhkan.
Iklan
“Yang paling mendesak adalah proteksi sementara di sisi kredit, mirip dengan kebijakan saat pandemi: restrukturisasi pinjaman, penundaan cicilan, atau subsidi bunga yang sangat targeted. Selain itu, perlu ditambah program pendampingan non-kredit, seperti bantuan pemasaran, digitalisasi sederhana, dan akses pasar,” ucapnya.
Pada akhir pemaparannya, Wisnu menegaskan bahwa pemerintah perlu memerhatikan kondisi riil masyarakat, bukan hanya mengejar stabilitas angka inflasi.
“Fenomena kenaikan harga saat inflasi makro terlihat terkendali menunjukkan bahwa tantangan kita saat ini bukan sekadar angka, melainkan distribusi beban ekonomi. Kebijakan perlu lebih sensitif terhadap struktur konsumsi masyarakat, bukan hanya stabilitas agregat,” pungkasnya.
(naf/lex)

