JAKARTA, ifakta.co – Hantavirus terbaru kembali menjadi sorotan dunia setelah Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO melaporkan dugaan wabah di sebuah kapal pesiar yang berlayar di Samudra Atlantik.

WHO menjelaskan, dari enam orang yang terdampak, tiga di antaranya telah meninggal dunia dan satu pasien kini dirawat intensif di Afrika Selatan.

Lembaga itu juga menyatakan investigasi lanjutan masih berlangsung, termasuk pengujian laboratorium tambahan, analisis epidemiologis, serta koordinasi lintas negara untuk penanganan penumpang yang menunjukkan gejala.

Iklan

Dalam laporan tersebut, WHO menegaskan bahwa mereka terus memfasilitasi koordinasi antara negara anggota dan operator kapal untuk evakuasi dua penumpang yang bergejala.

Selain itu, WHO juga melakukan penilaian risiko kesehatan masyarakat secara menyeluruh terhadap para penumpang lain yang masih berada di kapal.

Secara umum, hantavirus dikenal sebagai penyakit langka yang menular melalui paparan urin, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi.

Dalam sejumlah kasus, virus ini dapat memicu gangguan pernapasan berat dan berpotensi fatal bila tidak ditangani cepat.

Kondisi di Indonesia

Kementerian Kesehatan RI pada 19 Juni 2025 melaporkan delapan kasus penyakit virus Hanta tipe HFRS yang tersebar di empat provinsi, yakni DI Yogyakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menyampaikan bahwa seluruh kasus tersebut sudah sembuh.

Ia juga menyebutkan bahwa di Indonesia sejauh ini baru ditemukan manifestasi HFRS, bukan HPS.

Dalam pernyataannya kepada media pada 19 Juni 2025, Aji mengatakan, “per tanggal 19 Juni 2025, telah dilaporkan 8 kasus penyakit virus Hanta tipe HFRS di Indonesia yang ditemukan melalui surveilans,” dan menegaskan seluruh kasus itu sudah sembuh.

 Ia juga menjelaskan bahwa KLB virus Hanta baru dapat ditetapkan jika ditemukan minimal dua kasus konfirmasi dalam satu masa inkubasi, yakni dua pekan, sedangkan kasus di Bandung Barat saat itu belum memenuhi kriteria tersebut.

Gejala dan pencegahan

WHO menyebut hantavirus dapat menimbulkan gejala seperti demam, nyeri otot, lemas, sakit kepala, batuk, hingga sesak napas, tergantung jenis sindrom yang muncul. Untuk pencegahan, WHO menekankan pengurangan kontak antara manusia dan tikus melalui kebersihan rumah, penyimpanan makanan yang aman, penutupan celah masuk hewan pengerat, serta pembersihan area terkontaminasi dengan cara yang benar.

Langkah pencegahan ini menjadi penting karena hantavirus tidak menyebar cepat antarmanusia dalam kebanyakan kasus, melainkan lebih sering terkait lingkungan yang terpapar rodensia.

Karena itu, kewaspadaan terhadap rumah, gudang, kapal, atau ruangan tertutup yang berisiko menjadi sarang tikus tetap perlu dijaga.

Penutup informatif

Dengan munculnya dugaan wabah terbaru di kapal pesiar Atlantik, hantavirus kembali menegaskan dirinya sebagai ancaman kesehatan yang langka tetapi serius.

Di sisi lain, data resmi Kemenkes menunjukkan Indonesia pernah menemukan kasus, namun seluruh pasien telah sembuh dan kondisi nasional saat itu belum mengarah pada KLB.

 Pemantauan cepat, respon laboratorium, dan edukasi pencegahan menjadi kunci agar hantavirus tidak berkembang menjadi ancaman yang lebih luas.

(min/my)