“Saya sebagai seorang sineas menyimpulkan seperti itu,” tandas Raden Aditya Damar Wijaya yang merupakan trah dari Prabu Siliwangi dan juga sebagai Pengageng Kasepuhan Mandiri Kulon Keraton Salakanegara atau Tarumanegara.
Masih menurut sutradara yang film-film garapannya banyak diputar di sejumlah negara ini, kesimpulan yang diambilnya karena tidak adanya bukti kaum Ba’alawi secara ilmiah baik berupa tesis, teologi, sosiologis, bahkan manuskrip kuno yang membuktikan mereka sebagai dzuriyah (keturunan) Rasul.
“Mereka hanya mengklaim bahwa kelompok mereka adalah ras termulia. Ini jelas sangat berbahaya sekali jika dibiarkan,” tegasnya.
Iklan
Empat Dalil yang Membatalkan Klaim Habib
Ketua Umum KSSI ini menyebutkan juga bahwa menurut ahli fikih Nusantara yang terhimpun dalam Majma Fukoha Jawa bermaklumat, nasab Ba’alawi tidak tersambung pada Rasulullah Muhammad SAW.
Aditya Damar Wijaya menyebutkan, pembatalan nasab Ba’alawi oleh Majma Fukoha Jawa itu berdasarkan bukan saja dari satu alasan, tetapi sedikitnya ada empat dalil yang membatalkannya.
Dari keempat dalil tersebut mengindikasikan lemahnya nasab habib untuk tetap diakui sebagai keturunan Nabi Muhammad. Apalagi diakui sebagai nasab yang paling suci dan paling mulia. Keempat dalil tersebut menurut Aditya Damar Wijaya sangat kuat dan tidak bisa dibantah.
“Pertama adalah dalil syara’, yaitu dalil yang berasal dari kitab-kitab nasab otoritatif. Dalam kitab-kitab nasab menyebutkan bahwa Ahmad bin Isa hanya memiliki tiga anak, yakni Muhammad, Ali, dan Husein. Tidak ada nama Ubed (Ubaidillah) atau Abdullah yang selama ini jadi rujukan utama klaim nasab klan Ba’alawi,” jelas sutradara yang hampir semua film garapannya masuk box office tersebut.
“Kedua adalah dalil sejarah. Ada sebelas nama dalam rantai silsilah Habib Ba’alawi dari Ubed sampai dengan Maula Alwi dinilai sebagai tokoh fiktif. Bahkan nama yang sering diagung-agungkan mereka, termasuk Faqih Muqodam, menurut para fukoha tidak ada dalam sumber sezaman serta tidak memiliki jejak sejarah sama sekali, baik secara sosiologis maupun data yang bisa diverifikasi.”
“Dalil ketiga adalah dalil uji genetika tes DNA. Uji kromosom Y-DNA yang telah dilakukan terhadap 183 lebih para habib dengan bermacam marganya, menunjukkan bahwa Ba’alawi berasal dari haplogrup G, sementara jalur Bani Hasyim keluarga Nabi yang diakui secara luas berada di haplogrup J1. Sedangkan haplogrup G justru berasal dari bangsa Yahudi Azkenazi. Sangat jauh melenceng, kan?”
Sementara, untuk dalil keempat menurut Aditya Damar Wijaya adalah dalil tentang pemalsuan sejarah yang dilakukan oleh klan Ba’alwi. Ia menyebut banyak upaya pemalsuan sejarah yang dilakukan kaum Ba’alwi ini. Mulai dari narasi sejarah nasional, narasi berdirinya Nahdlatul Ulama, tokoh-tokoh besar Nusantara, hingga dugaan pembangunan makam-makam palsu yang dinisbatkan pada figur kuno Ba’alawi tanpa sumber yang sahih.




