Melihat hal tersebut, kalangan sineas Indonesia yang mendukung tesis KH. Imaduddin akhirnya tergerak untuk ikut serta terlibat dalam polemik nasab habib ini. Salah satunya adalah Aditya Damar Wijaya, seorang sutradara senior yang juga Ketua Umum Komunitas Sineas Seluruh Indonesia (KSSI).
Jurnalis IFAKTA, Bahril Ulum, secara khusus mewawancarai Aditya Damar Wijaya melalui sambungan WhatsApp seputar polemik nasab yang masih terus berlangsung hingga kini. Ketika diminta waktunya untuk wawancara khusus, Aditya Damar Wijaya menyambutnya dengan antusias. Ia mengatakan pihaknya merasa berkewajiban untuk turut tampil dalam perjuangan menyadarkan bangsa Indonesia dari pembodohan yang dilakukan klan Ba’alwi. Saat ditanya bagaimana tanggapannya terhadap kasus nasab habib sebagai seorang sineas, Aditya Damar Wijaya mengatakan pihaknya sangat setuju kepalsuan nasab habib terus dibongkar.
Menurut Aditya Damar Wijaya yang masih trah dari Kesultanan Banten, klan Ba’alwi adalah sebuah kelompok masyarakat yang mengklaim dirinya sebagai manusia termulia dibandingkan dengan kelompok lain di Indonesia, sehingga layak untuk dipuja dan diikuti.
Iklan
“Dalam hal ini saya, Pangersa Raden Aditya Damar Wijaya Al-Jakerta sebagai seorang sineas, sutradara melihat adanya indikasi bahwa mereka kaum Ba’alawi mengklaim sebagai manusia termulia. Ini menjadi sorotan publik hingga kerap terjadi doktrinisasi bahwa kaum Ba’alawi memiliki trah darah suci kakek moyang mereka yaitu Rasulullah SAW. Siapapun yang memuliakan kaum Ba’alawi serta mematuhinya akan mendapat jaminan berkah dunia akhirat lalu akan masuk surga berkat syafaat Rasulullah SAW,” tulis Aditya Damar Wijaya melalui WhatsApp kepada Bahril Ulum.
“Doktrinisasi seperti ini,” lanjutnya, “yang selalu terlontar dari kaum Ba’alawi. Ini adalah bagian dari penyimpangan akidah kaum Ba’alawi. Dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13, Allah tidak melihat rupa, harta dan keturunan melainkan ketaqwaannya dalam menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya. Sehingga kesimpulannya orang yang paling mulia di sisi Allah itu orang yang paling bertakwa, bukan karena keturunannya.” tutur sutradara yang pada 2024 menjadi dosen termuda di Universitas Balidwipa, Fakultas Sinematografi Denpasar, Bali.
Lebih lanjut Damar Wijaya, sutradara film Pelacur Suci bertemakan kemanusiaan yang pada 2021 meraih penghargaan Film Terbaik dengan produser BRAY Erna Santoso dalam ajang APFF (Asean Pacific Film Festival) itu menjelaskan, dalam perspektif dunia persineasan, ini merupakan rancangan cerita turun-temurun karangan kaum Ba’alawi dalam bentuk skenario yang berisi doktrin sesat dan menyesatkan. Doktrin itu sengaja dirancang kaum Ba’alawi untuk menguasai Nusantara dalam bidang ekonomi, sosial, budaya dan politik.



