JAKARTA — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang mengamuk di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Nusa Tenggara Barat (NTB), kian meluas hingga diperkirakan mencapai 1.098,75 hektare. Kendati tim gabungan telah berhasil memadamkan sejumlah titik api, kobaran merah masih terpantau menyala di lereng utara Puncak Sangkareang, Senin (28/9/2026).
Menanggapi situasi darurat tersebut, Balai TNGR bergerak cepat membatasi pergerakan pengunjung demi keselamatan jiwa. Pengelola mengarahkan seluruh pendaki yang berada di dalam kawasan dan sebelumnya berencana keluar melalui Jalur Senaru maupun Torean untuk memutar rute dan turun melalui Jalur Sembalun.
Kepala Subbagian Tata Usaha TNGR, Astekita Ardiaristo, mengimbau seluruh pendaki untuk disiplin mematuhi arahan petugas di lapangan selama proses pengendalian kebakaran berlangsung.
Iklan
“Bagi pendaki yang masih melakukan aktivitas pendakian dan sebelumnya memilih Jalur Senaru atau Torean sebagai pintu keluar, kami arahkan untuk mengalihkan perjalanan turun melalui Jalur Sembalun,” tegas Astekita dalam keterangan resminya.
Astekita mengungkapkan bahwa amukan si jago merah di kawasan pegunungan tersebut telah berlangsung selama sekitar enam hari. Sebelumnya, petugas berhasil menjinakkan api di sektor Bukit Setampol dan area sekitarnya. Namun, pemantauan udara dan darat menemukan munculnya titik api baru di sektor Puncak Sangkareang yang memotong jalur pendakian Senaru.
“Berdasarkan perkembangan terakhir sampai hari ini, api pada sejumlah sektor telah berhasil dipadamkan. Namun, kebakaran masih menyala di lereng utara Puncak Sangkareang, sehingga kegiatan pemadaman dan pemantauan tetap kami lanjutkan,” tambahnya.
Data sementara Balai TNGR mencatat area yang hangus terbakar telah menyentuh angka 1.098,75 hektare. Pihaknya menegaskan jumlah tersebut masih bersifat sementara dan akan diperbarui seiring proses verifikasi faktual di lapangan.
Untuk menaklukkan kobaran api, sebanyak 90 personel gabungan dan tenaga pendukung telah diterjunkan ke titik-titik krusial, meliputi Bukit Setampol, jalur pendakian Torean, sektor Senaru, Pos 3 Senaru, hingga jalur yang mengarah ke Puncak Sangkareang-Pelawangan Senaru.
Meski demikian, upaya pemadaman menghadapi rintangan amat berat. Hembusan angin kencang di dataran tinggi membuat lidah api meloncat dengan cepat, diperparah oleh vegetasi savana pegunungan, semak, serta serasah organik yang mengering akibat kemarau.
Faktor geografi juga memperlambat pergerakan tim. Medan pegunungan yang jauh, curam, dan terjal menguras fisik petugas serta memperlambat mobilisasi peralatan dan logistik pemadam.
“Keselamatan personel tetap menjadi pertimbangan utama kami dalam menentukan waktu pergerakan, akses menuju titik api, hingga metode pemadaman yang diterapkan di lapangan,” pungkas Astekita.
(fa/fza)



