JAKARTA, ifakta.co – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan Kamis, 10 September 2026, dengan kinerja positif. IHSG naik 19,23 poin atau 0,29 persen ke level 6.697,43.

Pada awal perdagangan, IHSG berada di level 6.688,18. Indeks kemudian bergerak naik hingga menyentuh level tertinggi 6.702,73.

Sementara itu, level terendah IHSG pada perdagangan pagi berada di 6.684,76. Pergerakan tersebut menunjukkan penguatan indeks yang masih terbatas pada awal sesi perdagangan.

Iklan

Aktivitas transaksi pasar saham juga tercatat cukup ramai. Total volume perdagangan mencapai 32,60 juta lot dengan nilai transaksi Rp2,17 triliun.

Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 119,85 ribu kali. Khusus perdagangan di pasar reguler, nilai transaksi mencapai Rp915,45 miliar.

Sektor Teknologi Pimpin Penguatan IHSG

Pergerakan sektor saham pada perdagangan pagi didominasi penguatan. Sektor teknologi menjadi pemimpin dengan kenaikan 1,48 persen.

Sektor energi menyusul dengan penguatan 0,92 persen. Kemudian, sektor barang baku atau basic materials naik 0,76 persen.

Penguatan juga terjadi pada sektor infrastruktur sebesar 0,63 persen. Sektor properti naik 0,39 persen, sedangkan sektor barang konsumen non-primer menguat 0,31 persen.

Berikutnya, sektor industri tumbuh 0,13 persen. Sektor keuangan juga berada di zona hijau setelah naik tipis 0,12 persen.

Namun, tidak semua sektor mampu mempertahankan kinerja positif. Sejumlah sektor masih bergerak di zona merah.

Sektor barang konsumen primer mencatat penurunan paling dalam sebesar 0,27 persen. Sektor transportasi kemudian melemah 0,13 persen.

Sementara itu, sektor kesehatan terkoreksi tipis 0,03 persen.

Daftar Saham Penguat dan Pelemah

Di jajaran saham dengan kenaikan terbesar, PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI) menjadi pemimpin. Saham dari sektor barang konsumen primer tersebut melonjak 27,64 persen ke level 254.

PT Victoria Investama Tbk (VICO) menyusul dengan kenaikan 23,60 persen ke posisi 199. Saham dari sektor keuangan tersebut mencatat penguatan signifikan pada perdagangan pagi.

Selanjutnya, PT Jembo Cable Company Tbk (JECC) menguat 21,97 persen hingga berada di level 805. PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) juga naik 20,72 persen ke harga 268.

Sementara itu, PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) menguat 12,14 persen ke posisi 157.

Sebaliknya, PT Pool Advista Finance Tbk (POLA) menjadi saham dengan penurunan terdalam. Saham sektor keuangan tersebut merosot 8,64 persen ke harga 74.

PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG) kemudian terkoreksi 7,53 persen ke posisi 675. PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID) juga turun 5,85 persen ke level 805.

PT Mineral Sumberdaya Mandiri Tbk (AKSI) melemah 5,10 persen ke posisi 298. Kemudian, PT Soho Global Health Tbk (SOHO) turun 5,01 persen ke harga 1.705.

IHSG Masih Berisiko Mengalami Koreksi

Di tengah penguatan IHSG hari ini, analis tetap mengingatkan investor terhadap potensi koreksi. Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih menghadapi tekanan setelah perdagangan sebelumnya berakhir di zona merah.

Dalam riset hariannya, Herditya menilai IHSG sedang memasuki tahap akhir wave v dari wave (c). Kondisi tersebut membuat investor perlu mencermati area pergerakan indeks dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya.

“IHSG saat ini diperkirakan sedang berada di akhir wave v dari wave (c), cermati area penguatan yang berada di 6.736-6.812,” tulis Herditya dalam riset MNCS Daily Scope Wave, Kamis, 10 September 2026.

Pada perdagangan Rabu, IHSG melemah 0,12 persen ke level 6.678. Pelemahan tersebut juga disertai munculnya tekanan jual.

Herditya memperkirakan IHSG memiliki risiko koreksi terdekat menuju kisaran 6.643-6.653. Jika tekanan jual berlanjut, level 6.610 menjadi support berikutnya yang perlu diperhatikan.

Support selanjutnya berada di level 6.561. Sebaliknya, jika IHSG mampu melanjutkan penguatan, area 6.705 dan 6.755 menjadi resistance yang harus dilewati.

Dengan demikian, ruang pergerakan IHSG masih terbuka ke dua arah. Indeks berpeluang menguat menuju 6.736-6.812, tetapi risiko koreksi dalam jangka dekat tetap perlu menjadi perhatian investor.

Empat Saham Pilihan yang Perlu Dicermati

Herditya juga memberikan perhatian terhadap sejumlah saham berdasarkan pola teknikal dan indikator pergerakannya. Empat saham tersebut adalah BIPI, HMSP, TINS, dan PTBA.

PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) sebelumnya menguat 5,33 persen ke level 158. Penguatan tersebut disertai peningkatan volume pembelian.

Namun, laju BIPI tertahan di sekitar MA200 atau rata-rata pergerakan harga dalam 200 hari perdagangan. Herditya memperkirakan BIPI mulai memasuki wave [iii] dari wave C.

Dalam skenario tersebut, area 151-156 menjadi rentang yang perlu diperhatikan. BIPI berpotensi bergerak menuju 175 dan 186. Sementara itu, level 147 menjadi batas risiko yang perlu dicermati.

Saham berikutnya adalah PT H.M. Sampoerna Tbk (HMSP). Saham ini turun 2,61 persen ke level 745 dan mengalami tekanan jual.

Koreksi tersebut membuat HMSP menembus MA20 dan MA200. Meski demikian, Herditya masih melihat peluang pergerakan lanjutan selama saham mampu bertahan di atas level 725.

“Selama masih mampu berada di atas 725 sebagai stoplossnya, maka HMSP sedang berada di awal wave [v] dari wave 1,” tulis Herditya.

Berdasarkan skenario tersebut, area 730-740 menjadi rentang yang perlu diperhatikan. HMSP berpotensi bergerak menuju 795 dan 820.

Adapun level 725 menjadi batas bawah atau stoploss yang perlu diperhatikan investor.

Selanjutnya, PT Timah Tbk (TINS) menguat 4,55 persen ke level 4.600. Kenaikan tersebut juga mendapat dukungan dari peningkatan volume pembelian.

Herditya memperkirakan TINS sedang berada pada awal wave [iv] dari wave C. Area 4.220-4.470 menjadi rentang harga yang perlu dicermati.

Jika momentum penguatan berlanjut, TINS berpotensi menuju level 4.720 dan 4.820. Sementara itu, level 4.120 menjadi batas bawah yang perlu diperhatikan.

Saham terakhir adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Saham tersebut naik 3,33 persen ke level 3.100 dengan dukungan peningkatan volume pembelian.

Meski mencatat penguatan, Herditya menilai ruang kenaikan PTBA mulai terbatas. Berdasarkan perhitungan teknikalnya, PTBA berada di bagian akhir wave [iii] dari wave 3.

Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya koreksi wave [iv] menuju area 2.830-2.950. Investor juga perlu mencermati rentang 3.110-3.150 sebelum potensi koreksi terjadi.

Herditya menilai pergerakan PTBA relatif terbatas dan mulai rawan mengalami tekanan setelah mencatat penguatan sebelumnya.

Pergerakan empat saham tersebut tetap perlu dilihat bersama kondisi IHSG secara keseluruhan. Dengan indeks masih menghadapi risiko koreksi menuju 6.643-6.653, investor perlu mencermati level support dan resistance dalam menentukan strategi perdagangan hari ini.

(den/joj)

Iklan