JAKARTA, ifakta.co – Abu vulkanik dapat membuat aktivitas harian berubah dalam waktu singkat. Ketika partikel abu terbawa angin, masyarakat perlu meningkatkan perlindungan diri, terutama saat harus beraktivitas di luar rumah.
Abu vulkanik juga bukan sekadar debu biasa. Partikelnya dapat berukuran sangat kecil dan membawa material yang terasa kasar. Karena itu, paparan abu dapat mengganggu saluran pernapasan, mata, serta kulit.
Selain itu, partikel abu yang menempel pada wajah dapat menimbulkan rasa kering, gatal, atau perih pada sebagian orang. Gesekan berlebihan saat membersihkan wajah bahkan dapat membuat iritasi semakin terasa.
Iklan
Karena itu, masyarakat perlu melakukan beberapa langkah sederhana untuk mengurangi paparan. Berikut lima cara yang dapat kamu lakukan ketika abu vulkanik berada di sekitar tempat tinggal.
1. Jaga Udara Rumah agar Tetap Bersih
Perlindungan tidak hanya perlu kamu lakukan saat berada di luar rumah. Kamu juga perlu mengurangi jumlah abu yang masuk ke dalam ruangan.
Tutup pintu dan jendela ketika udara luar membawa banyak abu. Perhatikan pula celah pada pintu atau jendela yang memungkinkan partikel masuk.
Selain itu, tutup makanan dan sumber air agar abu tidak mencemarinya. Jangan konsumsi makanan atau air yang sudah terkena abu secara langsung.
Jika kamu menggunakan kipas atau pendingin ruangan, perhatikan sumber udara alat tersebut. Hindari perangkat yang menarik banyak udara luar ketika lingkungan sekitar sedang penuh abu.
2. Bersihkan Wajah dengan Cara yang Lembut
Wajah membutuhkan perhatian khusus setelah beraktivitas di tengah paparan abu. Jangan langsung menggosok kulit ketika melihat banyak partikel menempel.
Sebaliknya, bilas wajah terlebih dahulu menggunakan air mengalir. Langkah tersebut membantu mengangkat partikel dari permukaan kulit tanpa memberikan banyak gesekan.
Setelah itu, gunakan pembersih wajah dengan lembut. Usapkan produk secara perlahan, lalu bilas hingga bersih.
Saat mengeringkan wajah, jangan menggosoknya dengan handuk. Tepuk permukaan kulit secara perlahan menggunakan handuk bersih.
Cara sederhana ini dapat membantu mengurangi gesekan pada kulit.
3. Gunakan Perlindungan Saat Harus Keluar
Tetap berada di dalam ruangan menjadi pilihan terbaik ketika kondisi abu cukup pekat. Namun, tidak semua orang bisa menghentikan aktivitas di luar rumah.
Jika kamu harus keluar, gunakan masker yang mampu menutup hidung dan mulut dengan baik. Masker membantu mengurangi masuknya partikel abu ke saluran pernapasan.
Selain itu, gunakan pakaian yang menutupi sebagian besar permukaan kulit. Pelindung mata juga dapat membantu mengurangi kontak abu dengan mata.
Jangan lupa memperhatikan kondisi jalan saat bepergian. Abu yang menumpuk dapat mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan lebih licin.
Karena itu, kurangi kecepatan kendaraan dan jaga jarak aman. Selanjutnya, ikuti arahan petugas serta informasi terbaru dari pihak berwenang.
4. Sederhanakan Perawatan Kulit
Paparan abu dapat membuat kulit terasa lebih sensitif. Karena itu, kamu tidak perlu menggunakan terlalu banyak produk skincare saat kondisi kulit mulai tidak nyaman.
Fokuskan perawatan pada pembersihan lembut dan pelembap. Gunakan produk yang sudah cocok dengan kondisi kulitmu.
Jika kulit terasa perih atau mengalami kemerahan, kurangi sementara produk yang berpotensi memicu iritasi. Produk eksfoliasi dan beberapa bahan aktif dapat terasa lebih menyengat pada kulit yang sedang sensitif.
Selain itu, hindari penggunaan kapas atau alat lain yang membutuhkan banyak gesekan. Perlakukan kulit secara perlahan agar lapisan pelindung kulit tetap terjaga.
5. Kenali Gejala dan Pantau Informasi Resmi
Abu vulkanik dapat memengaruhi beberapa bagian tubuh. Karena itu, jangan abaikan keluhan setelah kamu mengalami paparan.
Batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, mata perih, atau kulit terasa gatal dapat muncul setelah kontak dengan abu.
Segera cari pertolongan jika kamu mengalami sesak napas berat, nyeri dada, gangguan penglihatan, atau iritasi mata yang semakin parah.
Kelompok rentan juga perlu mendapatkan perhatian lebih. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit jantung sebaiknya mengurangi paparan sebanyak mungkin.
Selain menjaga kondisi tubuh, pantau perkembangan situasi melalui sumber resmi. Informasi mengenai aktivitas gunung api dan sebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi cuaca serta arah angin.
Karena itu, jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya. Gunakan informasi dari lembaga berwenang seperti PVMBG, BMKG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah.
(naf/lex)



