JAKARTA, ifakta.co – Behel atau kawat gigi kerap menarik perhatian karena mampu memperbaiki susunan gigi. Namun, sebagian orang masih menganggap alat tersebut sebagai bagian dari tren penampilan.
Padahal, behel termasuk bagian dari perawatan ortodonti. Karena itu, penggunaannya perlu mengikuti kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien. Dokter juga perlu melakukan pemeriksaan sebelum menentukan tindakan.
Berikut sejumlah anggapan yang masih berkembang soal behel menurut penjelasan drg. Puspitarini Nindya Wardana, Sp.Ort., dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKG UMY).
Iklan
Mitos Seputar Penggunaan Behel
1. Behel Membuat Pipi Menjadi Tirus
Sebagian orang menganggap penggunaan behel otomatis membuat pipi terlihat lebih tirus. Anggapan itu sering muncul karena perubahan susunan gigi dapat memengaruhi tampilan wajah.
Namun, Puspitarini menegaskan bahwa behel tidak secara langsung membuat pipi menjadi tirus.
“Behel itu tidak dapat menjadikan pipi tirus. Kalaupun ada perubahan wajah, itu karena pencabutan gigi.”
Artinya, perubahan bentuk wajah tidak serta-merta muncul hanya karena seseorang memakai kawat gigi. Kondisi tersebut juga bergantung pada tindakan perawatan yang dokter lakukan.
2. Behel Murah Memiliki Kualitas yang Sama
Harga juga sering menjadi pertimbangan utama ketika seseorang ingin memasang behel. Sebagian orang bahkan menganggap semua behel memiliki kualitas yang sama selama mampu merapikan gigi.
Padahal, keamanan perawatan tidak hanya bergantung pada harga. Dokter perlu mempertimbangkan kondisi gigi dan mulut pasien terlebih dahulu.
Selain itu, kualitas bahan, perencanaan perawatan, serta kompetensi tenaga medis ikut menentukan keamanan dan hasil perawatan. Karena itu, calon pasien sebaiknya tidak memilih layanan hanya berdasarkan harga paling murah.
3. Kawat Semakin Ketat, Gigi Semakin Cepat Rapi
Mitos lain menyebutkan bahwa dokter dapat mempercepat pergerakan gigi dengan mengencangkan kawat secara berlebihan. Padahal, gigi bergerak melalui proses biologis yang membutuhkan waktu.
Puspitarini menjelaskan bahwa pergerakan gigi memiliki batas tertentu setiap bulan. Karena itu, pasien tidak perlu memaksakan proses agar gigi cepat berubah posisi.
“Kalau kontrol rutin setiap bulan, pergerakan maksimalnya sekitar satu milimeter. Kalau terlalu dikejar, itu justru enggak bagus.”
Tekanan yang terlalu besar justru dapat meningkatkan risiko efek yang tidak diinginkan. Salah satunya berupa resorpsi akar gigi.
Fakta yang Perlu Dipahami Sebelum Pasang Behel
1. Tidak Semua Orang Membutuhkan Behel
Behel bukan kebutuhan setiap orang. Dokter perlu menemukan indikasi medis sebelum pasien menjalani perawatan ortodonti.
Beberapa kondisi dapat menjadi alasan seseorang membutuhkan behel. Misalnya, gigi berjejal, celah gigi yang tidak normal, deep bite, open bite, dan crossbite.
Namun, kondisi tersebut tetap membutuhkan pemeriksaan profesional. Dokter akan menilai keadaan gigi serta struktur mulut sebelum menentukan jenis perawatan yang sesuai.
“Klaim bahwa semua orang perlu behel itu mitos. Penggunaan behel itu harus ada indikasi medis.”
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak memasang behel hanya karena mengikuti tren. Keputusan perawatan juga sebaiknya tidak hanya berlandaskan keinginan untuk mengubah penampilan.
2. Perawatan Tidak Berhenti Setelah Behel Lepas
Perawatan ortodonti juga tidak selalu selesai ketika dokter melepas behel. Pasien umumnya masih membutuhkan retainer untuk membantu mempertahankan posisi gigi.
Lama penggunaan retainer dapat berbeda pada setiap pasien. Dokter akan menyesuaikannya dengan kondisi gigi dan hasil perawatan yang sudah tercapai.
Karena itu, pasien tetap perlu mengikuti arahan dokter meskipun kawat gigi sudah tidak lagi terpasang.
3. Kebiasaan Pasien Menentukan Keberhasilan Perawatan
Selain tindakan dokter, kebiasaan pasien juga berperan dalam proses perawatan. Pasien perlu menjaga kebersihan gigi dan mengikuti jadwal kontrol secara rutin.
Selanjutnya, pasien juga perlu mematuhi anjuran dokter selama menjalani perawatan. Kebiasaan tersebut membantu menjaga kondisi gigi sekaligus mendukung proses pergerakan gigi sesuai rencana.
Dengan demikian, pasien tidak bisa hanya mengandalkan alat ortodonti. Perawatan membutuhkan kerja sama antara dokter dan pasien.
Pada akhirnya, penggunaan behel sebaiknya tidak mengikuti tren semata. Calon pasien perlu berkonsultasi dengan dokter gigi untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan perawatannya.
Pemahaman terhadap mitos dan fakta juga membantu masyarakat mengambil keputusan secara lebih tepat. Dengan begitu, perawatan dapat berlangsung sesuai indikasi medis dan tetap memperhatikan keamanan pasien.
(naf/lex)



