JAKARTA, ifakta.co – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada penutupan perdagangan Selasa. Rupiah turun 22 poin atau 0,12 persen ke level Rp17.744 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.722 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai kenaikan harga minyak global menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah. Harga minyak naik hingga sekitar 91 dolar AS per barel di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara AS dan Iran.

“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi oleh global kenaikan harga minyak seiring meningkatnya eskalasi konflik AS dan Iran,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Iklan

Ketegangan AS-Iran kembali memengaruhi sentimen pasar setelah pasukan AS menyerang dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8/2026). Serangan tersebut menjadi aksi pertama terhadap wilayah Iran sejak akhir Juli.

Operasi militer itu berlangsung setelah jeda sekitar satu bulan dalam keterlibatan militer langsung. Pasukan AS menargetkan sistem rudal yang diduga sedang dipersiapkan untuk meluncurkan roket bermuatan ranjau laut ke Selat Hormuz.

Sebagai respons, Sputnik melaporkan bahwa pasukan bersenjata Iran diduga melancarkan serangan terhadap posisi militer AS di Yordania.

Selain konflik geopolitik, pasar juga menghadapi tekanan dari meningkatnya ekspektasi inflasi Amerika Serikat. Kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS turut menjadi perhatian investor.

Rully mencatat ekspektasi inflasi AS berada di angka 0,39 persen secara bulanan dan 3,6 persen secara tahunan. Sementara itu, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 5,8 basis points menjadi 4,77 persen.

Yield obligasi pemerintah AS tenor 20 tahun juga meningkat 6,7 basis points menjadi 5,27 persen.

Pergerakan tersebut menambah tekanan terhadap rupiah di pasar valuta asing. Investor mencermati perkembangan harga energi, inflasi AS, serta arah yield obligasi pemerintah AS sebagai faktor yang dapat memengaruhi pergerakan mata uang.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah berdasarkan Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia justru tercatat menguat. JISDOR berada di level Rp17.727 per dolar AS, membaik dari posisi sebelumnya Rp17.746 per dolar AS.

Dengan demikian, pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa menunjukkan perbedaan antara kurs pasar dan JISDOR. Pasar tetap mencermati sentimen global, terutama perkembangan konflik AS-Iran dan pergerakan harga minyak, yang berpotensi memengaruhi nilai tukar rupiah berikutnya.

(den/jo)

Iklan