SURABAYA, ifakta.co – Tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mengharumkan nama kampus pada ajang ilmiah tingkat nasional. Kreativitas mereka mengolah jurnal ilmiah menjadi video edukasi berhasil mengantarkan tim meraih Juara 1 kategori Video Edukasi dalam Padjadjaran Dentistry Scientific Meeting (PDSM) 2026.
Kompetisi yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KEMA) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran itu mengajak peserta menyampaikan informasi ilmiah melalui media yang mudah dipahami masyarakat. Karena itu, peserta tidak hanya membutuhkan pemahaman akademik, tetapi juga kemampuan menyusun pesan yang menarik.
Tim pemenang berasal dari Helena Najwa Syakila Lukmana, Natasha Raihan, dan Zaki Septiyono Saputra. Ketiganya menghadirkan video berjudul Setan VS Malaikat: Kesehatan Gigi di Ujung Tanduk.
Iklan
Melalui video tersebut, mereka mengangkat pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan pendekatan drama singkat. Alur cerita yang ringan membuat pesan kesehatan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Helena selaku ketua tim menjelaskan proses pembuatan video berlangsung melalui berbagai tahapan. Tim memulai pekerjaan dari sesi brainstorming, menentukan topik, menyusun alur cerita, hingga menyelesaikan proses penyuntingan video.
Menurut Helena, tantangan terbesar bukan hanya menghasilkan tayangan yang menarik. Tim juga harus menjaga agar seluruh materi tetap sesuai dengan referensi ilmiah sehingga informasi yang tersampaikan tetap akurat.
“Kompetisi ini menantang kami membuat video edukasi berdasarkan jurnal ilmiah. Tantangannya bukan hanya membuat video yang menarik, tetapi juga memastikan seluruh informasi yang tersampaikan tetap akurat dan mudah dipahami masyarakat,” ujarnya, dikutip dari laman UNAIR (9/7).
Video berdurasi sekitar empat menit tersebut bercerita tentang seorang kreator konten kuliner yang gemar mengonsumsi makanan serta minuman manis. Namun, tokoh utama mengabaikan kebiasaan merawat gigi sehingga mulai mengalami berbagai gangguan kesehatan mulut.
Melalui alur cerita tersebut, tim menjelaskan dampak konsumsi gula berlebihan sekaligus mengajak masyarakat membangun kebiasaan merawat gigi sejak dini.
Angkat Pesan Sederhana
Salah seorang anggota tim, Zaki Septiyono Saputra, menjelaskan pemilihan judul memiliki makna khusus. Menurutnya, frasa Setan VS Malaikat melambangkan pertarungan antara kebiasaan baik dan kebiasaan buruk yang setiap hari memengaruhi kesehatan gigi seseorang.
Sementara itu, kalimat Kesehatan Gigi di Ujung Tanduk menggambarkan kondisi tokoh utama yang mulai mengalami kerusakan gigi akibat pola hidup yang kurang sehat.
“Judul Setan VS Malaikat menggambarkan pertarungan antara kebiasaan baik dan buruk yang setiap hari menentukan kesehatan gigi seseorang. Sementara Kesehatan Gigi di Ujung Tanduk menjadi metafora kondisi tokoh utama yang mulai mengalami kerusakan gigi akibat pola hidupnya,” jelas Zaki.
Natasha Raihan menambahkan tujuan utama video tersebut bukan sekadar memberi informasi. Tim juga ingin mendorong masyarakat menerapkan kebiasaan sederhana yang mampu menjaga kesehatan gigi dalam jangka panjang.
Menurutnya, langkah kecil seperti mengurangi konsumsi gula, berkumur setelah makan, serta menyikat gigi secara rutin mampu memberi manfaat besar apabila dilakukan secara konsisten.
“Kami berharap masyarakat tidak hanya memahami risikonya, tetapi juga terdorong menerapkan langkah sederhana seperti mengurangi konsumsi gula, berkumur, dan menyikat gigi secara rutin. Merawat gigi merupakan investasi kesehatan jangka panjang,” tuturnya.
Melalui keberhasilan tersebut, ketiga mahasiswa berharap semakin banyak mahasiswa berani mengembangkan ide kreatif melalui berbagai kompetisi ilmiah. Mereka meyakini setiap proses belajar akan memberikan pengalaman berharga sekaligus membuka peluang menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Jangan menunggu menjadi sempurna untuk memulai. Beranilah mencoba dan menghasilkan karya yang bisa memberi manfaat bagi masyarakat. Menang memang membanggakan, tetapi pengalaman dan proses belajar adalah hal yang jauh lebih berharga,” pungkas Helena.
(naf/lex)



