JAKARTA, ifakta.co – Kebutuhan kedelai di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, sebagian besar pasokan masih berasal dari luar negeri. Kondisi tersebut membuat upaya mewujudkan kemandirian pangan menghadapi tantangan besar, terutama karena tahu dan tempe telah menjadi makanan pokok bagi banyak masyarakat Indonesia.

Saat ini, Indonesia membutuhkan sekitar 2,7 juta ton kedelai setiap tahun. Sayangnya, hampir 90 persen kebutuhan tersebut masih bergantung pada impor. Ketergantungan itu mendorong berbagai pihak mencari solusi agar produksi kedelai lokal mampu memenuhi kebutuhan nasional.

Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) kemudian menawarkan pendekatan berbeda. Mereka tidak hanya berfokus pada peningkatan hasil panen, tetapi juga membangun ekosistem kedelai yang menghubungkan petani, industri, hingga pasar dalam satu sistem yang saling mendukung.

Iklan

Langkah tersebut bermula melalui program Smart Agricultural Enterprise (SAE) Kedelai. Program itu menjadi fondasi untuk memperkuat sektor perkedelaian nasional mulai dari penyediaan benih unggul, pendampingan petani, hingga penguatan rantai pasok.

Melalui program tersebut, tim peneliti berhasil menghasilkan benih kedelai yang memenuhi standar sertifikasi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., M.T., yang menjadi anggota tim peneliti, menjelaskan seluruh proses berlangsung secara bertahap melalui kelompok penangkar benih.

“Kami memulainya secara bertahap melalui kelompok-kelompok penangkar benih. Berbagai uji coba kami lakukan hingga memperoleh kesimpulan bahwa produktivitas, kualitas, dan kandungan protein kedelai lokal dapat ditingkatkan,” katanya saat ditemui di Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Rabu (1/7).

Menurut Atris, peningkatan produksi saja belum cukup untuk mencapai swasembada kedelai. Sebaliknya, seluruh pihak perlu membangun ekosistem yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi petani sekaligus menjamin keberlanjutan usaha tani.

“Tujuan kami adalah meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan nilai ekonomi kedelai lokal dengan membangun sebuah ekosistem yang utuh,” jelasnya.

Pendampingan Petani dan Teknologi Modern Perkuat Kedelai Lokal

Atris mengungkapkan bahwa riset mengenai kedelai lokal telah berlangsung sejak 2012. Selama lebih dari satu dekade, tim peneliti tidak hanya mengembangkan varietas dan benih unggul, tetapi juga mencari cara agar petani memiliki kepastian usaha.

Menurutnya, banyak petani enggan menanam kedelai apabila belum memperoleh jaminan pasar, kepastian pembeli, maupun pendampingan budidaya.

“Petani tentu tidak akan tertarik menanam kedelai lokal apabila mereka belum memperoleh kepastian mengenai siapa yang akan membeli hasil panennya, bagaimana jaminan pasarnya, serta bagaimana teknik budidayanya,” ungkapnya.

Karena itu, tim UGM memperluas pendampingan ke berbagai daerah, antara lain Grobogan, Bantul, Kulon Progo, Sukoharjo, Sragen, dan sejumlah wilayah lainnya. Selain mengajarkan teknik budidaya, tim juga menjembatani kerja sama antara petani dan pelaku industri sebagai off-taker hasil panen.

Hasilnya mulai terlihat. Pada 2026, kedelai yang berasal dari petani binaan berhasil memperoleh sertifikasi keamanan pangan bersama mitra industri.

Atris menjelaskan, CV Java Agro Prima berperan sebagai off-taker yang menyerap hasil panen petani sekaligus memastikan produk memenuhi standar keamanan pangan.

Selanjutnya, tim peneliti juga mulai memperkenalkan sistem pertanian modern melalui pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT). Teknologi tersebut membantu petani memantau kualitas benih secara real time sehingga proses budidaya menjadi lebih efisien dan terukur.

Kabupaten Bantul menjadi salah satu lokasi pendampingan. Sebelum program berjalan, sebagian besar petani masih mengandalkan bantuan benih dan pupuk pemerintah serta menerapkan pola budidaya konvensional. Akibatnya, nilai ekonomi hasil panen belum mampu menarik minat petani untuk terus menanam kedelai.

“Karena itu, alih-alih menggelontorkan dana terus menerus, kita harus benahi terlebih dahulu kapasitas petani, baik dari sisi pengetahuan dan keterampilan,” tegas Atris.

Ia menambahkan bahwa pengembangan ekosistem kedelai juga menjadi wujud pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. Menurutnya, perguruan tinggi perlu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan yang masyarakat hadapi, bukan sekadar menghasilkan penelitian di ruang akademik.

“Harapannya, hasil-hasil hilirisasi dari hulu ke hilir ini harus benar-benar mengalir hingga dapat dirasakan masyarakat. Pada akhirnya, masyarakat lah yang akan menilai,” tutupnya.

Upaya tersebut juga mendapat perhatian pemerintah. Dalam pertemuan antara tim peneliti UGM dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada 29 Juni lalu, Kementerian Pertanian menyatakan kesiapan menjalin kerja sama untuk memperkuat produksi kedelai lokal.

Menteri Pertanian menilai varietas kedelai hasil pengembangan UGM memiliki sejumlah keunggulan. Selain berstatus non-genetically modified organism (non-GMO), kedelai tersebut juga memiliki ukuran biji yang lebih besar dibandingkan kedelai impor.

Pemerintah bahkan berencana mengawal uji coba pengembangan kedelai dan bawang putih pada lahan seluas 1.000 hingga 2.000 hektare di wilayah Jawa Tengah sebagai langkah awal memperkuat produksi dalam negeri.

(naf/lex)

Iklan