JAKARTA, ifakta.co – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan rempah terbesar di dunia. Selama berabad-abad, rempah tidak hanya menjadi komoditas perdagangan bernilai tinggi, tetapi juga bagian penting dari budaya, kesehatan, dan kehidupan masyarakat. Kini, potensi tersebut kembali mendapat perhatian melalui penguatan riset dan kolaborasi internasional.
Komitmen tersebut terlihat dalam penyelenggaraan International Conference on Spices, Herbs, and Aromatics (ICSHA) 2026 yang digelar di Bogor. Forum internasional ini menjadi ruang bertemunya peneliti, akademisi, pelaku industri, hingga pemangku kebijakan dari berbagai negara.
Melalui kegiatan tersebut, berbagai pihak membahas strategi untuk meningkatkan nilai tambah rempah, herbal, dan tanaman aromatik. Selain itu, peserta juga mengeksplorasi peluang pemanfaatan komoditas tersebut dalam bidang kesehatan, pangan, dan industri modern.
Iklan
Ketua Pelaksana ICSHA 2026, Dr. Rudi Heryanto, menjelaskan bahwa konferensi tersebut berlangsung secara luring dan daring. Kegiatan itu diikuti lebih dari 150 peserta dari berbagai negara dengan latar belakang profesi yang beragam.
Menurutnya, forum tersebut menjadi sarana penting untuk mempertemukan para ahli dari berbagai bidang. Melalui diskusi dan pertukaran gagasan, peserta dapat membangun jejaring sekaligus memperluas peluang kerja sama riset.
“Kami senang dan terhormat dapat mempertemukan para peneliti, akademisi, industri, dan pemangku kepentingan lainnya untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan keahlian dalam pengembangan rempah, herbal, dan aromatik,” ujar Dr. Rudi.
Selain menghadirkan pembicara dari Indonesia, konferensi itu juga melibatkan pakar dari India, Thailand, dan Malaysia. Puluhan hasil penelitian terbaru turut dipresentasikan untuk memperkaya wawasan peserta mengenai perkembangan sektor rempah dunia.
Lebih lanjut, Dr. Rudi berharap konferensi dan berbagai lokakarya yang telah berlangsung sebelumnya mampu memperkuat kapasitas penelitian serta mempercepat lahirnya inovasi baru.
Rempah Bukan Sekadar Bumbu Masakan
Kepala Lembaga Riset Internasional Pangan, Gizi, Kesehatan, dan Halal IPB University, Prof. Erika B. Laconi, menilai tema yang diangkat dalam konferensi tersebut sangat relevan bagi Indonesia.
Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan besar karena menjadi salah satu pusat biodiversitas tropis dunia. Kondisi tersebut membuat berbagai jenis rempah, herbal, dan tanaman aromatik tumbuh dengan baik di tanah air.
Prof. Erika menjelaskan bahwa rempah tidak hanya memberikan manfaat ekonomi. Lebih dari itu, komoditas tersebut juga memiliki nilai sejarah, budaya, kesehatan, hingga diplomasi antarbangsa.
“Warisan rempah yang dimiliki Indonesia harus ditransformasikan menjadi kekuatan ilmiah, daya saing industri, dan pembangunan berkelanjutan. Karena itu, kolaborasi antara peneliti, industri, pemerintah, dan masyarakat menjadi sangat penting,” katanya.
Ia menambahkan bahwa penguatan riset dan inovasi dapat membantu meningkatkan posisi rempah Indonesia di pasar global. Karena itu, pengembangan standardisasi mutu, produk inovatif, serta kerja sama internasional perlu terus diperluas.
Perkembangan ilmu pengetahuan turut membuka peluang baru bagi pemanfaatan rempah dan herbal. Jika dahulu rempah lebih dikenal sebagai penyedap masakan, kini dunia mulai melihat manfaatnya dari sisi kesehatan.
Chairperson ISO/TC 34 Spices and Culinary Herbs dari India, Dr. A.B. Rema Shree, menjelaskan bahwa rempah telah menjadi bagian penting dari peradaban manusia selama ribuan tahun.
Selain digunakan dalam makanan, rempah juga berperan dalam pengobatan tradisional dan berbagai praktik budaya di berbagai negara. Bahkan, perdagangan rempah pernah menjadi faktor yang membentuk hubungan antarbangsa pada masa lalu.
Saat ini, perhatian dunia terhadap rempah semakin meningkat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sejumlah rempah mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan fungsional, nutraseutikal, produk kesehatan, hingga bahan baku industri farmasi.
“Saat ini, dunia tidak lagi memandang rempah hanya sebagai agen pemberi rasa, tetapi juga sebagai sumber senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan menjadi pangan fungsional, nutraseutikal, produk kesehatan, dan bahan baku industri farmasi,” ujar Dr. Shree.
Menurutnya, kemajuan teknologi riset modern memungkinkan para ilmuwan mengkaji manfaat rempah secara lebih mendalam. Pendekatan seperti metabolomik, bioteknologi, dan eksplorasi senyawa alami kini membantu memvalidasi berbagai pengetahuan tradisional secara ilmiah.
Melalui kolaborasi global dan dukungan riset yang berkelanjutan, rempah Indonesia berpeluang menjadi komoditas strategis yang tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan kesehatan dan industri masa depan.



