YOGYAKARTA, ifakta.co – Universitas Gadjah Mada (UGM) terus mendorong inovasi teknologi dengan menghadirkan kendaraan listrik terbaru bernama eKarsa. Tim peneliti merancang kendaraan ini untuk mendukung mobilitas di kawasan terbatas, khususnya rumah sakit, dengan fokus pada efisiensi, ergonomi, dan keberlanjutan.

Berangkat dari Kebutuhan Nyata di Rumah Sakit

Tim Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) Fakultas Teknik UGM mengembangkan eKarsa untuk menjawab kebutuhan mobilitas di Rumah Sakit Akademik UGM (RSA). Tim kemudian menamai kendaraan ini eKarsa sebagai singkatan dari kendaraan elektrik RSA.

Dekan Fakultas Teknik UGM, Selo, menjelaskan bahwa tim melanjutkan pengembangan kendaraan listrik yang sudah berjalan sejak 2012. Saat itu, tim menargetkan sektor pariwisata, industri, hingga agrikultur.

Iklan

Ia juga mengingatkan bahwa tim sebelumnya mengembangkan Mobil Semar dan GATe (Gadjah Mada Airport Transporter) untuk kebutuhan bandara dan pariwisata.

“Waktu itu kita daftarkan mereknya GATe,” ujarnya, Rabu (15/4).

Teknologi Mandiri dan Potensi Produksi Lokal

Tim UGM menghadirkan peningkatan teknologi pada eKarsa. Tim mengembangkan battery pack lithium ferro phosphate dan sistem pengendali motor secara mandiri. Meski demikian, tim masih menggunakan beberapa komponen impor.

Namun, Selo melihat peluang besar untuk produksi dalam negeri jika pasar terus berkembang.

“Di masa mendatang, bila pasarnya sustain, seluruh lini komponen sangat mungkin difabrikasi secara lokal,” ungkapnya.

Desain Ergonomis dan Siap Guna

Kepala DTETI FT UGM, Hanung Adi Nugroho, menegaskan bahwa tim merancang eKarsa berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Tim menargetkan mobilitas dari area parkir menuju gedung utama rumah sakit.

“Permintaan dari RSA cukup spesifik dan menantang, termasuk target waktu pengembangan yang hanya tiga bulan, dari Januari–Mare). Namun, berbekal pengalaman tim dari Dr. Eka Firmansyah dan kolaborasi dengan mitra industri, kendaraan ini berhasil terwujud sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Untuk mempercepat proses, tim menggandeng PT Inastek yang berasal dari alumni Fakultas Teknik. Kolaborasi ini membantu tim mempercepat pengembangan sekaligus memastikan kesiapan penggunaan.

Secara teknis, eKarsa mampu mengangkut delapan penumpang. Selain itu, kendaraan ini hanya membutuhkan waktu pengisian daya sekitar tiga jam. Tim juga merancang bodi tanpa sudut tajam agar pengguna lebih aman.

“Semua aspek didesain agar ramah pengguna, ergonomis, dan mudah dirawat. Kami ingin memastikan bahwa kendaraan ini benar-benar siap digunakan, bukan sekadar prototipe yang berhenti di konsep,” tambah Hanung.

Dorong Hilirisasi dan Industri Nasional

Hanung menilai peluncuran eKarsa menjadi langkah penting dalam mendorong hilirisasi teknologi kampus. Ia menegaskan bahwa tim fokus pada riset dan pengembangan, sementara industri perlu melanjutkan ke tahap produksi.

Di sisi lain, Selo melihat peluang besar dari pengembangan ini. Ia menilai eKarsa mampu membuka pasar baru, mendorong industri, dan menyerap tenaga kerja.

“GATe dan eKarsa sangat mungkin dijual secara umum selama spesifikasinya sesuai untuk pengguna,” ungkapnya.

Dengan langkah ini, UGM tidak hanya menghasilkan inovasi teknologi, tetapi juga mendorong lahirnya kendaraan listrik yang siap guna di dalam negeri.

(naf/kho)