YOGYAKARTA, ifakta.co – Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mencatatkan prestasi di tingkat internasional. Dua mahasiswa S2 Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), berhasil meraih tiga penghargaan sekaligus dalam ajang 2nd International Student Summit (ISS) di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 14–15 Februari.
Kedua mahasiswa tersebut, Nur Afni Rezkika dan Fiki Nimatul Jannah, meraih Gold Medal Sub Theme Food, Best Presentation, serta 3rd Winner. Dengan capaian ini, mereka berhasil unggul dari ribuan peserta yang berasal dari berbagai negara.
Bersaing dengan Ribuan Peserta Internasional
Afni menjelaskan bahwa kompetisi ini diikuti oleh 1.002 mahasiswa dari enam negara dengan beragam bidang keilmuan. Selain itu, panitia menyelenggarakan beberapa tahapan seleksi, mulai dari seleksi paper, presentasi poster, hingga presentasi final.
Iklan
Setelah lolos sebagai finalis, tim melanjutkan tahap akhir secara langsung di Malaysia selama dua hari. Oleh karena itu, mereka harus mempersiapkan diri secara maksimal di tengah kesibukan akademik.
“Beruntung, kami lolos sebagai peserta terbaik di sub theme food, dan masuk ke tahap final. Kalau untuk perjuangan terberatnya, kami harus rela membagi waktu untuk persiapan presentasi, edit poster, dan latihan sebelum lomba, sejalan dengan penelitian tesis S2,” ungkapnya, Selasa (14/4).
Inovasi Smart Packaging dari Limbah Kulit Buah Naga
Dalam kompetisi tersebut, Afni dan tim mengusung inovasi berupa intelligent biopackaging berbasis kulit buah naga yang terintegrasi dengan aplikasi MeatSafe. Inovasi ini hadir dalam bentuk stiker pintar (smart sticker) yang memanfaatkan ekstrak kulit buah naga.
Ia menjelaskan bahwa stiker tersebut mengandung pigmen betalain yang sensitif terhadap perubahan pH. Dengan demikian, teknologi ini mampu mendeteksi perubahan kualitas daging secara real-time.
“Teknologi ini, dirancang untuk memantau kualitas daging ayam secara real-time,” ujarnya.
Selain itu, sistem ini terhubung dengan aplikasi MeatSafe yang memanfaatkan kamera ponsel untuk membaca perubahan warna. Oleh sebab itu, konsumen dapat mengetahui kualitas daging secara lebih praktis dan objektif.
“Karena konsepnya biopackaging, material yang kami gunakan sifatnya biodegradable. Selain ramah lingkungan ini sekaligus berpotensi menjadi alternatif kemasan yang lebih ekonomis,” pungkasnya
Dorong Solusi Berkelanjutan dan Keamanan Pangan
Lebih lanjut, Afni menilai bahwa keikutsertaan dalam kompetisi ini memberikan pengalaman berharga. Tidak hanya itu, ajang ini juga membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan komunikasi ilmiah.
Selain itu, kompetisi ini membuka peluang untuk bertukar ide dengan peserta dari berbagai negara. Dengan demikian, wawasan global tim semakin berkembang.
“Kami berusaha memberikan presentasi yang komprehensif didukung dengan argumentasi ilmiah yang kuat, akhirnya membawa kami meraih penghargaan,” ujarnya.
Ke depan, tim berkomitmen untuk mengembangkan inovasi ini agar dapat diterapkan secara nyata. Terlebih lagi, pemanfaatan limbah kulit buah naga memiliki potensi besar sebagai solusi berkelanjutan.
Dengan demikian, inovasi ini tidak hanya mendukung keamanan pangan, tetapi juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
(naf/kho)



