YOGYAKARTA, ifakta.co – Penyakit Newcastle Disease (ND) atau tetelo masih menjadi ancaman serius dalam industri perunggasan Indonesia. Virus Avian orthoavulavirus-1 menyebar dengan cepat dan kerap memicu kematian tinggi pada unggas, terutama ketika menyerang dalam bentuk yang ganas.
Di Indonesia, peneliti pertama kali menemukan penyakit ini pada Maret 1926 di Batavia. Saat itu, peneliti Belanda Kraneveld mengidentifikasi penyakit tersebut melalui uji laboratorium di Bogor dan menamainya Batavia Disease.
Dampak Besar: Kematian Hingga Kerugian Ekonomi
Pakar dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Michael Haryadi Wibowo, menjelaskan bahwa virus ND menyerang berbagai sistem tubuh unggas sekaligus, mulai dari pernapasan, pencernaan, hingga saraf.
Iklan
Akibatnya, peternak harus menghadapi berbagai kerugian serius, seperti kematian massal, penurunan produksi telur, pertumbuhan terganggu, hingga meningkatnya biaya pengendalian penyakit.
“Kondisi ini membuat ND menjadi salah satu faktor yang menghambat produktivitas dan keberlanjutan usaha peternakan unggas,” kata Haryadi, Kamis (16/4).
Perubahan Virus Jadi Tantangan Baru
Selama ini, peternak mengandalkan vaksin berbasis strain klasik seperti LaSota (genotipe II). Namun, kondisi lapangan menunjukkan bahwa virus telah mengalami perubahan signifikan.
Kini, virus yang paling banyak beredar merupakan genotipe VII, khususnya sub-genotipe VII-i yang lebih ganas dan telah menyebar luas pada berbagai jenis unggas.
“Saat ini, virus ND yang paling banyak adalah genotipe VII, khususnya sub-genotipe VII-i, yang bersifat lebih ganas dan telah menyebar luas pada berbagai jenis unggas,” paparnya.
Perbedaan antara virus dalam vaksin dan virus di lapangan kemudian membuat pengendalian penyakit menjadi kurang optimal. Oleh karena itu, peneliti mendorong pembaruan seed vaksin agar lebih sesuai dengan kondisi terkini.
UGM Kembangkan Vaksin Berbasis Isolat Lokal
Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti FKH UGM melakukan riset mendalam, mulai dari pengambilan sampel lapangan, analisis gen penting, hingga pemetaan genetik virus secara menyeluruh.
“Berdasarkan hasil penelitian kami, kasus ND saat ini virus genotipe VII-i yang bersifat virulen mendominasi di Indonesia,” jelasnya.
Selanjutnya, tim berhasil menyeleksi isolat virus lokal sub-genotipe VII-i yang menunjukkan performa stabil. Tidak hanya itu, isolat tersebut juga mampu berkembang dengan baik dalam media penelitian.
“Isolat ini memenuhi kriteria sebagai kandidat seed virus untuk pengembangan vaksin ND inaktif yang sesuai dengan virus yang beredar di lapangan,” tambahnya.
Kolaborasi Nasional Percepat Pengembangan Vaksin
Selain itu, Balai Besar Veteriner Farma menjalin kerja sama dengan tim UGM untuk mengembangkan vaksin berbasis isolat lokal terbaru. Kolaborasi ini juga mengarah pada pengembangan vaksin kombinasi ND dan Avian Influenza (ND-AI).
“Pengembangan vaksin berbasis isolat lokal yang sesuai dengan virus di lapangan menjadi langkah penting untuk meningkatkan efektivitas pengendalian penyakit,” ujarnya.
Melalui kerja sama ini, akademisi dan industri berupaya menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan di lapangan. Selain itu, akademisi dan industri juga memperkuat sistem pengendalian penyakit unggas di Indonesia.
Harapan: Industri Perunggasan Lebih Tangguh
Dengan pendekatan vaksin yang lebih relevan terhadap kondisi virus saat ini, peneliti berharap vaksin ND-AI mampu memberikan perlindungan yang lebih optimal. Selain itu, inovasi ini diharapkan dapat menekan penyebaran virus serta meningkatkan kesehatan unggas secara menyeluruh.
(naf/kho)



