SURABAYA, ifakta.co – Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya menggelar kuliah tamu atau guest lecture secara daring melalui Zoom Meeting pada Selasa (10/3).
Kegiatan bertajuk Connecting between Asia and Southeast Asia tersebut menghadirkan Associate Professor Dr. Pham Van Thuy dari University of Social Sciences and Humanities, Vietnam National University, sebagai pembicara utama.
Dalam pemaparannya, Pham Van Thuy menjelaskan peran Vietnam dalam memperkuat konektivitas antara kawasan Asia dan Asia Tenggara. Ia mengulas dinamika sejarah, politik, ekonomi, hingga budaya yang membentuk hubungan kedua kawasan tersebut.
Iklan
Pham memaparkan bahwa pada akhir abad ke-19, wilayah Vietnam berada di bawah kekuasaan kolonial Prancis sebagai bagian dari French Indochina. Pada masa itu, wilayah Vietnam terbagi menjadi tiga bagian utama, yakni Cochinchina yang berstatus koloni langsung, serta Annam dan Tonkin yang berada di bawah sistem protektorat. Pembentukan French Indochina menjadi salah satu bukti kuatnya pengaruh kolonial Eropa terhadap dinamika politik di kawasan Vietnam.
Lebih lanjut, Pham menjelaskan hubungan antara Asia dan Asia Tenggara telah terjalin sejak lama melalui berbagai interaksi lintas wilayah. Interaksi tersebut mencakup kerja sama politik, hubungan ekonomi, hingga pertukaran budaya yang berkembang sepanjang sejarah kawasan.
Sejak bergabung dengan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) pada tahun 1995, Vietnam semakin aktif memperkuat kerja sama regional melalui berbagai inisiatif di bidang politik, ekonomi, dan diplomasi kawasan.
“Asia Tenggara sejak lama telah terhubung dengan kawasan Asia yang lebih luas melalui perdagangan, pertukaran budaya, dan interaksi politik. Partisipasi Vietnam dalam ASEAN sejak 1995 juga semakin memperkuat perannya dalam mendorong kerja sama dan konektivitas kawasan,” ungkap Pham.
Ia juga menyoroti peran penting Asia Tenggara dalam jalur perdagangan maritim yang sejak lama menjadi penghubung berbagai peradaban besar dunia, termasuk India dan Tiongkok. Posisi strategis tersebut menjadikan kawasan Asia Tenggara memiliki kesamaan keterkaitan sejarah, ekonomi, dan budaya dengan wilayah Asia lainnya.
Menurut Pham, hubungan tersebut terbentuk melalui aktivitas perdagangan, pertukaran budaya, serta interaksi masyarakat lintas negara yang berlangsung selama berabad-abad.
“Jalur perdagangan maritim menjadikan Asia Tenggara sebagai penghubung antar negara. Melalui jalur tersebut, terjadi proses pertukaran budaya dan ekonomi yang membentuk dinamika wilayah hingga saat ini,” ujar Pham.
Melalui kegiatan kuliah tamu ini, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai hubungan historis antara Asia dan Asia Tenggara, serta melihat bagaimana dinamika kawasan tersebut terus berkembang hingga saat ini.
(naf/kho)



