TEHERAN, ifakta.co – Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan serangan udara ke sejumlah lokasi di Iran selama enam hari berturut-turut. Situasi tersebut memicu spekulasi tentang kemungkinan operasi darat terhadap Iran, termasuk peluang keterlibatan kelompok oposisi Kurdi.
Kelompok oposisi Kurdi Iran yang bermarkas di wilayah Irak utara mengaku telah lama menyiapkan rencana untuk menyeberangi perbatasan menuju Iran. Namun, mereka membantah kabar yang menyebut pasukan mereka sudah bergerak.
Hana Yazdanpana dari Partai Kebebasan Kurdistan (PAK) mengatakan rencana tersebut telah dipersiapkan sejak berdirinya Republik Islam Iran pada 1979.
Iklan
“Kami telah mempersiapkan hal ini selama 47 tahun. Namun sampai sekarang tidak ada satu pun Peshmerga yang bergerak,” kata Yazdanpana.
Istilah Peshmerga dalam bahasa Kurdi merujuk pada para pejuang yang siap menghadapi kematian dalam pertempuran.
Menunggu Dukungan Amerika Serikat
Yazdanpana menjelaskan bahwa enam kelompok oposisi Kurdi saat ini telah membentuk koalisi dan terus melakukan koordinasi politik serta militer.
Meski demikian, mereka belum akan mengambil langkah militer tanpa adanya dukungan internasional, khususnya dari Amerika Serikat.
Menurutnya, pergerakan pasukan hanya mungkin terjadi jika Amerika Serikat lebih dulu membuka jalan melalui dominasi udara.
“Kami tidak bisa bergerak jika langit di atas kami belum dibersihkan.
Gudang senjata rezim juga harus dihancurkan terlebih dahulu. Jika tidak, itu sama saja dengan bunuh diri,” ujarnya.
Ia menilai persenjataan kelompoknya masih terbatas dibanding kekuatan militer Iran yang jauh lebih modern.
Kelompok oposisi Kurdi juga kembali mendesak Amerika Serikat untuk menetapkan zona larangan terbang guna melindungi pasukan mereka jika konflik semakin meluas.
Namun demikian, Gedung Putih membantah laporan yang menyebut Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan untuk mempersenjatai kelompok Kurdi Iran.
Serangan Iran Terhadap Kelompok Kurdi
Di tengah meningkatnya spekulasi soal kemungkinan pergerakan pasukan Kurdi, Iran juga dilaporkan meningkatkan serangan terhadap kelompok oposisi tersebut.
Serangan rudal balistik dilaporkan menghantam markas Partai Kebebasan Kurdistan (PAK) di wilayah Irak utara dan menewaskan seorang pejuang.
Beberapa kelompok oposisi bahkan telah memindahkan markas serta pasukan mereka untuk menghindari serangan lanjutan.
Harapan Lama Jatuhnya Rezim Iran
Mustafa Mauludi, Wakil Ketua Partai Demokrat Kurdistan Iran (KDPI), mengakui bahwa Amerika Serikat dan Israel memiliki kepentingan sendiri dalam konflik tersebut.
“Amerika dan Israel tidak memulai perang ini demi harapan kami, melainkan demi kepentingan mereka sendiri. Namun jika mereka menargetkan markas Garda Revolusi Iran, itu akan menguntungkan kami,” katanya.
Mauludi yang kini berusia 67 tahun mengaku telah menunggu hampir sepanjang hidupnya untuk melihat perubahan di Iran.
Ia juga menceritakan bahwa keluarganya menjadi korban tekanan politik, mulai dari pembunuhan hingga penahanan oleh otoritas Iran.
Peran Kurdi dalam Masa Depan Iran
Kelompok Kurdi merupakan salah satu etnis terbesar di Timur Tengah yang tersebar di Iran, Irak, Suriah, dan Turki. Di Iran sendiri, jumlah etnis Kurdi diperkirakan mencapai sekitar 10 persen dari total populasi negara tersebut yang berjumlah sekitar 90 juta jiwa.
Abdullah Mohtadi, Sekretaris Jenderal Partai Komala Kurdistan Iran, menyatakan kelompok Kurdi ingin memastikan mereka ikut menentukan masa depan politik Iran jika perubahan terjadi.
“Kami adalah kelompok yang terorganisir secara politik di Iran, dan kami tidak ingin kesempatan ini terlewat,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah Irak menegaskan tidak akan mengizinkan kelompok mana pun menggunakan wilayahnya untuk melancarkan serangan ke Iran.
Situasi tersebut menempatkan Irak dalam posisi sulit karena berpotensi terseret ke dalam konflik regional yang lebih luas.
Bagi sebagian kelompok Kurdi, kemungkinan kembali ke tanah kelahiran di Iran menjadi harapan besar yang telah lama dinantikan.
“Pulang ke tanah saya akan sangat emosional. Saya tidak tahu harus merasa bahagia atau sedih karena banyak anggota keluarga saya sudah tiada,” kata Yazdanpana. (AMN)



