JAKARTA, ifakta.co – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat pada perdagangan Kamis setelah sempat dibuka melemah. Pelaku pasar masih mencermati perubahan regulasi pasar modal domestik dan perkembangan konsultasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait klasifikasi pasar saham Indonesia.
Pada pukul 10.00 WIB, IHSG naik 67,88 poin atau 1,27 persen ke level 5.396,24. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 bertambah 7,18 poin atau 1,34 persen ke posisi 542,94.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai pergerakan IHSG selanjutnya bergantung pada kemampuan indeks mempertahankan level teknikal penting.
Iklan
“Jika IHSG mampu bertahan di atas 5.317, IHSG berpeluang lanjut menguji level 5.404 dan jika breakout lanjut menuju resistance 5.607-5.631. Namun, jika tekanan kembali meningkat dan IHSG tidak mampu bertahan di atas 5.317, IHSG bisa kembali ke support 4.999 atau 4.907, jika breakdown rentan melanjutkan pelemahan menuju area 4.456,” ujar Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Perubahan Aturan BEI Jadi Perhatian Investor
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada sejumlah kebijakan BEI untuk memperkuat tata kelola pasar modal. Salah satunya adalah penyesuaian batas Auto Rejection Bawah (ARB) saham menjadi asimetris.
BEI mengubah batas ARB dari sebelumnya 15 persen menjadi 7 persen. Ketentuan tersebut berlaku mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.
Selain perubahan batas ARB, BEI mengumumkan dua inisiatif lainnya. Pertama, penambahan keterangan afiliasi saham bagi kepemilikan sebesar 1 persen. Kedua, seluruh saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) akan dikeluarkan dari IHSG.
BEI mencatat terdapat 80 saham dalam kategori HSC. Sejumlah saham dalam kelompok tersebut juga menerima sanksi karena melakukan pelanggaran terhadap ketentuan pasar modal.
Regulator juga telah menyampaikan surat sanksi kepada sejumlah pihak yang dinilai melanggar aturan. Nama yang disebutkan antara lain DSSA, BREN, dan CUAN.
Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari respons regulator terhadap pengumuman MSCI yang membuka konsultasi dengan pelaku pasar. Konsultasi itu membahas usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
MSCI dijadwalkan mengumumkan keputusan final paling lambat pada akhir Juni 2027. Selama masa konsultasi, lembaga tersebut juga dapat menyampaikan pembaruan sementara mengenai masukan yang diterima dari pelaku pasar.
Bank Indonesia Perkuat Stabilitas Rupiah
Di sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level 5,75 persen. BI juga menjaga suku bunga Lending Facility sebesar 6,50 persen.
Sementara itu, BI menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 21–22 Oktober 2026.
BI juga memperkuat insentif lindung nilai melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Kebijakan ini mencakup pengurangan biaya lindung nilai hingga 45 persen untuk menarik aliran modal asing, menjaga stabilitas rupiah, dan memperdalam pasar keuangan domestik.
Sejak Juni hingga Oktober 2026, optimalisasi instrumen swap dan DNDF disebut telah menarik aliran modal masuk atau inflow sebesar 9,9 miliar dolar AS.
Selain itu, BI berencana menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) bank umum konvensional secara bertahap dari 9 persen menjadi 7 persen mulai November hingga Desember 2026. Kebijakan tersebut diperkirakan menambah likuiditas perbankan sekitar Rp190 triliun.
Rangkaian kebijakan itu berlangsung di tengah tekanan arus modal keluar setelah evaluasi MSCI terhadap klasifikasi pasar saham Indonesia. BI menegaskan stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas, sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan inflasi pada sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen selama 2026–2027.
Sentimen Global Pengaruhi Pasar Saham
Dari pasar global, sentimen investor membaik seiring kinerja perusahaan teknologi dan optimisme terhadap permintaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Meski demikian, prospek inflasi Amerika Serikat masih menjadi perhatian. Data indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) pada pekan sebelumnya mengindikasikan peningkatan tekanan harga. Selain itu, data sektor perumahan menunjukkan suku bunga hipotek yang tinggi masih membebani permintaan.
“Investor akan mencermati perkembangan data ekonomi dan laporan keuangan perusahaan untuk menilai keberlanjutan reli pasar,” ujar Liza.
Pasar juga menunggu keputusan suku bunga Federal Reserve atau The Fed yang dijadwalkan pada pekan depan. Pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 85 persen bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga. Namun, peluang kenaikan 25 basis poin pada Desember 2026 diperkirakan mencapai sekitar 75 persen.
Di kawasan Timur Tengah, ketegangan meningkat setelah serangan rudal menargetkan kapal tanker di Selat Hormuz dan fasilitas energi Arab Saudi. Risiko gangguan distribusi energi pun masih tinggi, meskipun volume pengiriman minyak mentah dari kawasan tersebut telah melampaui tingkat sebelum perang.
Sementara itu, Rusia dijadwalkan mengirim kapal tanker diesel pertamanya ke Amerika Serikat berdasarkan kesepakatan Donald Trump dan Vladimir Putin. Washington juga menjajaki kerja sama energi dengan Reliance Industries India.
Bursa Global Menguat, Pasar Asia Melemah
Perdagangan di bursa Eropa pada Rabu (22/10) ditutup menguat. Euro Stoxx 50 naik 1,50 persen, FTSE 100 Inggris bertambah 0,19 persen, DAX Jerman menguat 1,35 persen, dan CAC 40 Prancis naik 1,06 persen.
Wall Street juga berakhir di zona hijau pada hari yang sama. Indeks S&P 500 naik 0,58 persen, Nasdaq Composite menguat 1,05 persen, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,69 persen.
Berbeda dengan pasar Eropa dan Amerika Serikat, sejumlah indeks saham Asia bergerak melemah pada perdagangan pagi. Nikkei turun 1,02 persen ke 64.008,00, Hang Seng melemah 2,78 persen ke 23.998,95, Kospi turun 2,24 persen ke 5.607,17, dan Straits Times terkoreksi 0,11 persen ke 5.431,36.
Data yang tersedia juga mencantumkan penurunan indeks Shanghai sebesar 1,30 persen, tetapi angka level penutupannya tidak terbaca dengan jelas. Perbedaan arah perdagangan di berbagai kawasan menunjukkan investor masih merespons beragam faktor, mulai dari prospek suku bunga global dan perkembangan geopolitik hingga kebijakan regulator pasar modal. Di dalam negeri, perkembangan aturan BEI dan keputusan MSCI tetap menjadi perhatian pelaku pasar dalam memantau.
(may/mby)







