Konsep tersebut mencakup pengembangan sejumlah subsektor secara terintegrasi, mulai dari pertanian, perkebunan, peternakan hingga perikanan. Integrasi tersebut diharapkan menciptakan rantai produksi yang lebih efisien sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

Tidak berhenti pada produksi, investasi juga diarahkan pada pembangunan infrastruktur pendukung, termasuk fasilitas logistik dan pengolahan hasil pertanian serta perikanan.

Dengan adanya fasilitas pengolahan di daerah, komoditas tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Produk lokal diharapkan dapat diolah menjadi produk bernilai tambah sehingga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Iklan

Aspek transfer teknologi juga menjadi bagian penting dari konsep investasi tersebut. Penerapan teknologi agribisnis modern diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat kapasitas sumber daya manusia lokal.

Tim Pangan Strategis Nasional menilai keberhasilan program tersebut membutuhkan keterlibatan lintas sektor melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi dan mitra internasional.

“Kolaborasi Pentahelix ini mencakup komitmen kuat dalam menghadirkan investasi, teknologi modern, serta infrastruktur pendukung yang komprehensif bagi sektor kelautan, perikanan, dan pertanian di Maluku Utara,” ujarnya.

Ketergantungan Pasokan dari Luar Capai 85 Persen

Di balik besarnya potensi tersebut, Maluku Utara masih menghadapi persoalan serius dalam pemenuhan kebutuhan pangan.

Dalam forum disebutkan sekitar 85 persen kebutuhan pangan Maluku Utara masih dipasok dari luar daerah. Ketergantungan tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah sekaligus menunjukkan besarnya peluang pengembangan produksi pangan lokal.

Kondisi itu membuat pembangunan lumbung pangan terpadu dinilai memiliki arti strategis. Selain meningkatkan kapasitas produksi dalam daerah, program tersebut diharapkan mampu memperkuat rantai pasok dan mengurangi kerentanan akibat ketergantungan terhadap pasokan eksternal.

Jika dikelola secara tepat, pengembangan kawasan pangan juga berpotensi menciptakan lapangan kerja dan memperluas pasar bagi petani, nelayan, peternak serta pelaku usaha lokal.

Investasi Jadi Alternatif Pembiayaan

Pengembangan food estate juga dinilai relevan di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.

Tim Pangan Strategis Nasional menegaskan pembangunan ketahanan pangan tidak harus sepenuhnya mengandalkan APBN dan APBD. Pelibatan investasi swasta dan mitra strategis dapat menjadi alternatif pembiayaan untuk mempercepat pembangunan kawasan pangan terpadu.

Namun, investasi tersebut perlu diarahkan tidak sekadar mengejar peningkatan produksi, melainkan memastikan adanya manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat lokal. Penguatan petani, nelayan dan pelaku usaha daerah, transfer teknologi, pembangunan infrastruktur serta hilirisasi menjadi bagian penting agar investasi memberikan nilai tambah berkelanjutan.

Menuju Kesepakatan Investasi

Iklan