JAKARTA, ifakta.co – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak terbatas pada perdagangan Rabu. Pelaku pasar memilih bersikap wait and see sambil menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.
IHSG pada pembukaan perdagangan tercatat melemah 41,65 poin atau 0,65 persen ke level 6.408,18.
Sementara itu, Indeks LQ45 justru naik tipis 0,15 poin atau 0,02 persen dan berada di posisi 631,18.
Iklan
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim memperkirakan IHSG hari ini akan bergerak sideways dalam rentang terbatas.
“IHSG diperkirakan akan bergerak sideways di kisaran 6,400-6,500 pada perdagangan Rabu,” ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Pelaku pasar domestik kini menantikan pengumuman hasil RDG Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu siang.
Konsensus pasar memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Perkiraan tersebut muncul karena inflasi domestik masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia.
Selain menjaga inflasi, kebijakan tersebut juga dinilai berkaitan dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Pasar juga memperkirakan deposit facility rate tetap berada di level 4,75 persen. Sementara itu, lending facility diproyeksikan bertahan pada level 6,5 persen.
Di sisi lain, pertumbuhan kredit diperkirakan meningkat menjadi 13 persen secara tahunan pada Juli 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit pada Juni 2026 yang tercatat sebesar 12,67 persen secara tahunan.
“Investor diperkirakan juga akan mencermati penjelasan Bank Indonesia mengenai arah-arah kebijakan selanjutnya,” ujar Ratna.
Selain keputusan Bank Indonesia, pergerakan IHSG hari ini juga mendapat tekanan dari sentimen pasar global.
Harga minyak mentah sebelumnya ditutup menguat terbatas. Kondisi tersebut terjadi setelah Iran menyatakan akan mengambil langkah yang lebih ofensif dan Selat Hormuz tetap ditutup.
Sentimen lain datang dari keputusan Amerika Serikat yang tidak memperpanjang gencatan senjata.
Situasi tersebut kemudian mendorong kekhawatiran investor terhadap kemungkinan harga minyak bertahan pada level tinggi. Jika kondisi itu berlangsung lama, tekanan inflasi global berpotensi kembali meningkat.
Kekhawatiran tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi di sejumlah negara.
Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade. Sementara itu, imbal hasil obligasi Jepang dengan tenor 10 tahun juga menyentuh posisi tertinggi dalam tiga dekade.
Kenaikan serupa terjadi di Eropa. Imbal hasil obligasi Jerman tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2011.
Adapun imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 30 tahun menyentuh posisi tertinggi sejak 2008.
Kondisi tersebut memberikan tekanan cukup besar terhadap saham sektor teknologi yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Selain itu, kekhawatiran pasar juga meningkat akibat penerbitan obligasi dalam jumlah besar oleh perusahaan teknologi untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan atau AI.
Di kawasan Eropa, mayoritas indeks saham ditutup melemah pada perdagangan Selasa (18/8/2026).
Indeks Euro Stoxx 50 turun 0,94 persen. Indeks DAX Jerman melemah 0,80 persen dan CAC 40 Prancis turun 0,82 persen.
Namun, FTSE 100 Inggris masih mampu menguat tipis 0,07 persen.
Tekanan juga terjadi di bursa saham Amerika Serikat. Wall Street ditutup melemah secara bersamaan.
Indeks S&P 500 turun 0,69 persen ke level 7.691,76. Nasdaq Composite melemah 1,68 persen menjadi 29.490,91.
Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 0,22 persen ke posisi 53.343,40.
Pergerakan bursa saham Asia pada perdagangan pagi juga menunjukkan arah yang beragam.
Indeks Nikkei melemah 2,61 persen ke level 65.702,00. Kospi turun cukup dalam sebesar 5,42 persen menjadi 6.497,41.
Hang Seng juga melemah 0,17 persen ke level 25.428,81. Sementara Straits Times turun 0,24 persen menjadi 5.687,26.
Di tengah tekanan tersebut, indeks Shanghai justru bergerak menguat 1,83 persen ke posisi 3.917,4.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG hari ini diperkirakan tetap terbatas. Investor akan mencermati keputusan Bank Indonesia serta perkembangan pasar keuangan global sebagai penentu arah perdagangan selanjutnya.
(den/jo)


