JAKARTA, ifakta.co – Kerusakan lingkungan yang terus terjadi bukan lagi sekadar persoalan alam. Dampaknya kini merambah kehidupan sosial, ekonomi, hingga keberlangsungan peradaban manusia. Guru Besar Bidang Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Sudaryono, menilai manusia harus segera mengubah cara memandang pembangunan agar tidak meninggalkan beban yang semakin berat bagi generasi mendatang.

Menurut Sudaryono, bumi merupakan titipan yang harus dijaga bersama. Namun, laju eksploitasi sumber daya alam dan penggunaan energi fosil sejak Revolusi Industri justru mempercepat kerusakan lingkungan dalam skala global.

Ia menjelaskan bahwa peningkatan emisi karbon beberapa dekade terakhir menjadi salah satu penyebab utama krisis iklim yang saat ini mulai dirasakan berbagai negara.

Iklan

“Sekitar 50 persen karbon yang saat ini beredar di atmosfer justru disumbangkan hanya dalam 30 tahun terakhir. Dalam kurun waktu tersebut manusia telah merusak lingkungan secara luar biasa,” katanya.

Sudaryono menilai kondisi tersebut bukan hanya meninggalkan persoalan ekologis. Sebaliknya, manusia juga mewariskan utang moral dan utang ekonomi kepada generasi berikutnya.

Karena itu, ia mengingatkan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak lagi bisa dianggap sebagai pilihan. Langkah tersebut harus menjadi tanggung jawab bersama agar bumi tetap layak dihuni pada masa depan.

Menurutnya, ancaman yang muncul akibat krisis iklim akan semakin kompleks apabila berbagai pihak tidak segera mengambil tindakan nyata.

Ia bahkan memprediksi dunia akan menghadapi situasi yang jauh lebih berat pada 2050 apabila laju kerusakan lingkungan terus berlangsung.

“Bertarung memperebutkan makanan dengan sesama atau meninggalkan negaranya demi bertahan hidup,” ujarnya.

Ilmu Teknik Harus Bertanggung Jawab kepada Masyarakat

Sudaryono menilai ilmu teknik memiliki posisi yang sangat strategis dalam menentukan arah pembangunan. Oleh sebab itu, setiap inovasi dan teknologi tidak cukup hanya mengejar kemajuan, tetapi juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap manusia dan lingkungan.

Menurutnya, ilmu teknik memiliki sifat preskriptif atau mampu menciptakan perubahan. Karena itu, setiap penerapan teknologi harus mempertanggungjawabkan manfaatnya kepada masyarakat.

“Ilmu teknik memiliki sifatnya yang preskriptif ya, maka dia harus bisa mempertanggungjawabkan aksiologi yang itu mempertanggungjawabkan pemanfaatannya di tingkat masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa setiap cabang ilmu dibangun melalui pendekatan epistemologi, sedangkan penerapannya harus berpijak pada aksiologi atau nilai kemanfaatan.

Dalam pandangannya, ilmu teknik selama ini berhasil mendorong kemajuan peradaban melalui berbagai inovasi. Namun, pada saat yang sama, perkembangan tersebut juga melahirkan konsekuensi berupa kerusakan lingkungan.

Sudaryono menyebut ilmu teknik menghadirkan paradoks. Di satu sisi, teknologi meningkatkan kualitas hidup manusia. Akan tetapi, di sisi lain, pembangunan yang tidak terkendali justru mempercepat penurunan kualitas lingkungan.

Menurutnya, berbagai pencapaian sejak Revolusi Industri memang memperkuat peradaban modern. Namun, seluruh kemajuan itu juga menyisakan beban ekologis yang kini harus ditanggung bersama.

Karena itu, ia mengajak kalangan akademisi, insinyur, dan pengambil kebijakan untuk menempatkan keberlanjutan sebagai bagian utama dalam setiap proses pembangunan.

Keseimbangan Pembangunan Menjadi Kunci Masa Depan

Sudaryono menegaskan bahwa perubahan tidak dapat ditunda lagi. Ia menilai seluruh institusi pendidikan, khususnya bidang teknik, perlu terus memperbaiki sistem pembelajaran agar mampu melahirkan inovasi yang selaras dengan kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Menurutnya, pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, pembangunan harus mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi, kesejahteraan manusia, dan keberlanjutan alam.

Ia juga menilai setiap hasil penelitian semestinya lahir dari kepekaan terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak berhenti sebagai teori, tetapi mampu memberikan solusi bagi berbagai tantangan global.

(naf/lex)

Iklan