BANDUNG, ifakta.co – Krisis air yang kerap melanda kawasan pertanian dataran tinggi mendorong sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menghadirkan solusi inovatif. Berangkat dari permasalahan petani, mereka mengembangkan teknologi pemanen kabut berbasis kecerdasan buatan yang mampu membantu penyediaan air sekaligus mendukung produktivitas pertanian.

Gagasan tersebut kemudian melahirkan M.I.S.T.E.R. K.U.C.U.R atau Machine-learning Intelligent System for Terrestrial & Environmental Rainwater-fog Utility Cloud-to-Runoff. Inovasi itu berhasil menarik perhatian dunia dan mengantarkan tim mahasiswa ITB meraih Gold Award dalam World Young Inventors Exhibition (WYIE) yang menjadi bagian dari International Invention, Innovation, Technology Competition & Exhibition (ITEX) 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Ajang tersebut populer sebagai salah satu kompetisi inovasi internasional bergengsi yang mempertemukan peneliti muda dari berbagai negara untuk menawarkan solusi terhadap tantangan global.

Iklan

Tim Amreta Amretaan yang mengusung inovasi tersebut berasal dari Program Studi Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air (TPSDA), Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB. Tim ini berada di bawah bimbingan Dr. Ir. Ana Nurganah Chaidar, S.T., M.T.

Berawal dari Keluhan Petani Dataran Tinggi

Ide pengembangan M.I.S.T.E.R. K.U.C.U.R muncul setelah tim melakukan survei langsung kepada petani di kawasan Jatinangor. Dari hasil pengamatan lapangan, mereka menemukan persoalan serius berupa keterbatasan sumber air untuk kebutuhan pertanian.

Di banyak wilayah dataran tinggi, petani masih mengandalkan pompa untuk mengalirkan air dari kawasan yang lebih rendah. Namun cara tersebut membutuhkan energi besar dan berpotensi memicu penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah secara terus-menerus.

Melihat kondisi tersebut, tim mulai mencari alternatif yang lebih ramah lingkungan. Mereka kemudian terinspirasi dari kemampuan tanaman kaktus yang mampu menangkap uap air dari udara.

Berbekal inspirasi tersebut, tim mengadaptasi teknologi fog harvesting atau pemanenan kabut yang selama ini banyak diterapkan di sejumlah negara. Namun mereka menyesuaikannya dengan karakter iklim tropis Indonesia yang memiliki tingkat kelembapan tinggi.

Melalui sistem yang dikembangkan, kabut dan uap air di udara dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan sebagai sumber air tambahan bagi lahan pertanian. Selanjutnya, sistem machine learning mengatur kebutuhan air dan nutrisi tanaman secara otomatis sehingga proses budidaya menjadi lebih efisien.

Teknologi tersebut tidak hanya membantu mengatasi keterbatasan air, tetapi juga mendukung praktik pertanian yang lebih berkelanjutan. Karena itu, inovasi tersebut mendapat perhatian dari para juri maupun peserta lain dalam kompetisi internasional tersebut.

Hadapi Keterbatasan Dana dan Minim Waktu Istirahat

Perjalanan menuju podium juara tidak berlangsung mudah. Tim harus menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait pendanaan untuk mengikuti kompetisi di luar negeri.

Salah satu anggota tim, Alniro Fahrezel Wibowo, mengaku mereka sempat berada dalam situasi sulit karena kebutuhan biaya yang cukup besar.

“Kami hampir menyerah karena butuh dana cukup besar, tapi kami percaya diri untuk melanjutkan hingga akhir,” ujarnya dikutip dari laman ITB, Senin (1/6).

Selain persoalan dana, tim juga menghadapi tekanan fisik dan mental selama berada di Malaysia. Mereka harus menyelesaikan maket, mempersiapkan presentasi, sekaligus berlatih pitching hingga larut malam.

Bahkan, anggota tim hanya memiliki waktu tidur sekitar dua hingga tiga jam setiap hari selama masa kompetisi berlangsung. Mereka juga harus menghadapi tantangan komunikasi saat menjelaskan konsep teknologi pertanian yang cukup kompleks kepada pengunjung internasional.

Namun seluruh perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika nama ITB diumumkan sebagai peraih penghargaan emas.

Buka Peluang Kolaborasi Global

Selain membawa pulang penghargaan, kompetisi tersebut juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas bagi tim. Selama kegiatan berlangsung, mereka berdiskusi dengan para ahli sumber daya air dan inovator dari berbagai negara.

Interaksi tersebut memperluas wawasan sekaligus membuka kesempatan pengembangan teknologi melalui kolaborasi internasional. Tim juga memperoleh masukan yang dapat mendukung penyempurnaan inovasi agar lebih siap diterapkan di lapangan.

Bagi Tim Amreta Amretaan, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa inovasi tidak cukup berhenti pada tahap ide. Sebaliknya, keberhasilan lahir ketika sebuah gagasan mampu diwujudkan menjadi solusi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

Melalui pencapaian tersebut, mereka juga mengajak mahasiswa Indonesia untuk berani menunjukkan karya di tingkat internasional. Menurut mereka, kreativitas dan inovasi anak bangsa memiliki peluang besar untuk bersaing sekaligus memberikan solusi terhadap berbagai persoalan global, termasuk tantangan krisis air yang semakin nyata di sektor pertanian.

(naf/lex)

Iklan