BKSAP: Indonesia Berkomitmen Tinggi Selesaikan Isu Lingkungan

  • Whatsapp

JAKARTA – Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Achmad Hafisz Tohir mengatakan, saat ini umat manusia sedang menuju ke suatu era, dimana Bumi yang ditempati selama ini sudah menua. Hal tersebut dapat disaksikan dari banyaknya ekosistem yang rusak, salah satunya diakibatkan pengaruh gas emisi yang meningkat.

“Artinya apa, umat manusia di bumi mengalami ancaman serius terhadap menipisnya ozon dan juga global climate change yang terjadi. Apalagi kalau kita kaitkan dengan naiknya air laut dan mencairnya es di Kutub Utara dan Selatan yang menyebabkan meningkatnya volume air laut, daratan menyempit, laut melebar dan ini merupakan ekses daripada kerusakan lingkungan sebagai efek dari rumah kaca,” urai Hafisz di Tangerang, Banten, Selasa (2/11/2021).

Bacaan Lainnya

Sebagai bangsa yang berdaulat dan mempunyai tanggung jawab terhadap ketertiban dunia, Hafisz menegaskan, Bangsa Indonesia ikut serta dan aktif di dalam program perbaikan iklim ini. Hal tersebut tercermin dari Pidato Presiden Joko Widodo pada KTT Pemimpin Dunia COP26 di Glasgow yang dihadiri 121 kepala negara dan kepala pemerintahan.

“Presiden menyampaikan dalam pidatonya di Glasgow kemarin bahwa Indonesia mempunyai komitmen yang tinggi. Bahkan kita mengambil tenggat waktu yang sangat ekstrim sampai dengan 2030 kita sudah akan siap (mengurangi gas emisi). Artinya apa? Ada lompatan besar yang harus kita lakukan di situ,” terang Hafisz.

Sebagai Anggota DPR RI yang bertugas di Komisi XI, Hafisz menjelaskan, untuk melakukan lompatan besar tersebut diperlukan inivestasi atau biaya yang sangat besar.

“Tadi kita lihat, perlu Rp77.000 triliun hingga tahun 2045. Itu artinya 33.3 persen dari GDP per tahun investasi yang harus kita siapkan dalam rangka untuk ikut serta menyelesaikan permasalahan iklim dunia ini,” tutur politisi Fraksi PAN itu.

Ia menyampaikan, perlu ada insentif dari negara maju kepada negara seperti Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar, ditambah Indonesia bersama Brazil adalah pemilik setengah dari paru-paru dunia.

“Tidak terlalu muluk kalau kita mengatakan oke kita ikut tapi kami tolong dibantu, didorong, dan dikawal dalam melakukan transformasi ini,” kilahnya.

Dirinya berharap, pemerintah berhasil meyakinkan dunia bahwa Indonesia ikut bertanggungjawab dalam pemulihan iklim. Negara lain perlu mengetahui bahwasanya Indonesia support untuk membangun infrastruktur hijau sekaligus menyelesaikan permasalahan lingkungan.

“Sebagai bangsa yang besar dan memiliki paru-paru dunia, wajar jika kita diberikan rasa keadilan untuk sama-sama menyelesaikan masalah lingkungan. Agar pembangunan infrastruktur hijau berjalan baik, tentu memerlukan dukungan-dukungan negara-negara yang telah lebih dulu maju dalam hal teknologi dan lingkungannya. Kami akan memperjuangkan di Glasgow dalam parlemen di COP26,” pungkasnya.

(My)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.