JAKARTA, ifakta.co – Mengelola penghasilan bulanan membutuhkan perencanaan yang jelas. Besarnya gaji tidak selalu menjamin seseorang memiliki kondisi keuangan yang stabil. Tanpa pembagian anggaran, pengeluaran sehari-hari dapat menghabiskan seluruh pendapatan sebelum bulan berakhir.

Karena itu, setiap pekerja perlu mengetahui jumlah penghasilan bersih dan menentukan penggunaannya sejak awal. Langkah ini membantu seseorang memenuhi kebutuhan pokok, membayar cicilan, menyiapkan dana darurat, serta mencapai target tabungan.

Salah satu cara sederhana untuk memulainya ialah membagi gaji berdasarkan persentase tertentu. Sebagai contoh, seseorang dengan penghasilan bersih Rp5.500.000 dapat menggunakan metode 50-30-20 sebagai pedoman awal.

Berikut panduan menghitung dan mengalokasikan gaji bulanan agar penghasilan dapat memenuhi berbagai kebutuhan secara terencana.

1. Hitung Gaji Bersih Setiap Bulan

Langkah pertama, tentukan jumlah uang yang benar-benar masuk ke rekening setelah perusahaan memotong berbagai kewajiban. Jangan langsung menggunakan nominal gaji pokok sebagai dasar penyusunan anggaran.

Gunakan rumus berikut:

Gaji Bersih = Gaji Pokok + Tunjangan − Total Potongan

Beberapa komponen yang perlu diperiksa antara lain:

  • Gaji pokok.
  • Tunjangan makan, transportasi, atau jabatan.
  • Iuran BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
  • Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh 21).
  • Iuran pensiun atau potongan lainnya.

Sebagai contoh, seorang karyawan memiliki rincian penghasilan berikut:

KomponenNominal
Gaji pokokRp5.000.000
TunjanganRp750.000
Total potonganRp250.000
Gaji bersihRp5.500.000

Dengan demikian, karyawan tersebut memiliki anggaran Rp5.500.000 untuk memenuhi kebutuhan selama satu bulan. Jika nominal Rp5.500.000 yang diterima sudah merupakan gaji bersih, gunakan angka tersebut sebagai dasar perhitungan.

2. Pilih Metode Pembagian Gaji

Setelah mengetahui jumlah penghasilan bersih, tentukan persentase pembagian anggaran. Setiap orang dapat menggunakan metode yang berbeda sesuai kebutuhan, tanggungan keluarga, dan jumlah cicilan.

Berikut tiga metode yang dapat menjadi pilihan.

Metode 50-30-20

Metode ini membagi penghasilan menjadi tiga kelompok utama. Sebanyak 50 persen dialokasikan untuk kebutuhan, 30 persen untuk keinginan, dan 20 persen untuk tabungan serta investasi.

AlokasiPersentaseNominal dari Rp5.500.000
Kebutuhan50%Rp2.750.000
Keinginan30%Rp1.650.000
Tabungan dan investasi20%Rp1.100.000
Total100%Rp5.500.000

Metode ini cocok sebagai titik awal bagi pekerja yang ingin membangun kebiasaan mengatur uang. Namun, sesuaikan kembali persentasenya apabila biaya tempat tinggal atau kebutuhan pokok cukup tinggi.

Metode 45-25-20-10

Metode berikut dapat membantu pekerja yang memiliki cicilan rutin. Pembagiannya mencakup kebutuhan pokok, tabungan, cicilan, dan dana darurat.

AlokasiPersentaseNominal dari Rp5.500.000
Kebutuhan pokok45%Rp2.475.000
Tabungan25%Rp1.375.000
Cicilan20%Rp1.100.000
Dana darurat10%Rp550.000
Total100%Rp5.500.000

Metode 40-30-20-10

Pekerja dengan kewajiban cicilan lebih besar dapat mempertimbangkan metode ini. Akan tetapi, pastikan jumlah cicilan tetap sesuai kemampuan membayar.

AlokasiPersentaseNominal dari Rp5.500.000
Kebutuhan40%Rp2.200.000
Cicilan30%Rp1.650.000
Tabungan20%Rp1.100.000
Dana darurat10%Rp550.000
Total100%Rp5.500.000

Ketiga metode tersebut bukan aturan mutlak. Pilih pembagian yang paling sesuai dengan kondisi keuangan dan kemampuan memenuhi kebutuhan bulanan.

3. Susun Daftar Kebutuhan dan Keinginan

Setelah memilih metode anggaran, buat daftar pengeluaran rutin. Catat biaya makan, transportasi, tempat tinggal, listrik, komunikasi, dan kebutuhan harian lainnya.

Selanjutnya, pisahkan kebutuhan dari keinginan. Kebutuhan mencakup pengeluaran yang harus seseorang penuhi, sedangkan keinginan mencakup pengeluaran yang masih dapat ditunda.

Misalnya, membeli bahan makanan termasuk kebutuhan pokok. Sebaliknya, mengganti ponsel yang masih berfungsi dengan model terbaru termasuk keinginan.

Dengan membedakan kedua jenis pengeluaran tersebut, seseorang dapat mengendalikan belanja impulsif. Selain itu, kebiasaan ini membantu pekerja menghindari FOMO atau dorongan mengikuti tren yang sebenarnya tidak sesuai kemampuan finansial.

4. Sisihkan Tabungan Begitu Menerima Gaji

Jangan menunggu uang tersisa pada akhir bulan untuk mulai menabung. Terapkan prinsip pay yourself first dengan memindahkan sebagian penghasilan ke rekening tabungan segera setelah menerima gaji.

Sebagai contoh, pekerja dengan gaji bersih Rp5.500.000 dapat menyisihkan Rp1.100.000 apabila menggunakan metode 50-30-20. Jumlah tersebut dapat dibagi lagi untuk tabungan tujuan tertentu, dana darurat, dan investasi sesuai kebutuhan.

Prioritaskan dana darurat sebelum meningkatkan investasi. Dana ini berfungsi untuk menghadapi kebutuhan mendesak, seperti kehilangan pekerjaan, perbaikan kendaraan, atau biaya kesehatan yang tidak terduga.

Sebagai gambaran, seseorang yang hidup sendiri dapat menargetkan dana darurat sebesar tiga hingga enam kali pengeluaran bulanan. Sementara itu, keluarga dengan tanggungan anak dapat menyiapkan cadangan lebih besar, misalnya enam hingga dua belas kali pengeluaran bulanan.

5. Evaluasi Pengeluaran Secara Berkala

Selanjutnya, catat setiap transaksi selama satu bulan. Gunakan aplikasi pencatat keuangan, lembar kerja, atau buku catatan sederhana.

Bandingkan total pengeluaran dengan anggaran awal. Jika biaya makan atau transportasi melebihi batas, cari penyebabnya dan sesuaikan rencana untuk bulan berikutnya.

Selain itu, hindari penggunaan kartu kredit tanpa perhitungan. Batasi cicilan agar tidak mengganggu kebutuhan pokok dan kemampuan menabung.

Apabila penghasilan belum mencukupi, pertimbangkan pekerjaan tambahan sesuai keterampilan dan waktu luang. Namun, jangan mengabaikan kesehatan maupun pekerjaan utama demi memperoleh pendapatan tambahan.

6. Mulai Investasi Sesuai Kemampuan

Setelah kebutuhan pokok dan dana darurat memiliki alokasi yang jelas, seseorang dapat mempertimbangkan investasi. Pilih instrumen berdasarkan tujuan keuangan, jangka waktu, dan profil risiko.

Beberapa pilihan investasi meliputi reksa dana, saham, obligasi, dan emas. Setiap instrumen memiliki karakteristik serta risiko yang berbeda. Karena itu, pelajari mekanisme dan biaya sebelum menempatkan uang.

(naf/lex)