BANYUMAS, ifakta.co – Minyak goreng bekas yang selama ini berakhir di selokan atau tanah kini memiliki nilai ekonomi bagi warga Banyumas. Melalui program pengumpulan berbasis koperasi, masyarakat dapat menukarkan minyak jelantah dengan uang sekaligus membantu menyediakan bahan baku energi terbarukan.

Rasmini, warga Kelurahan Dawuhan, Kecamatan Banyumas, menjadi salah satu warga yang memanfaatkan program tersebut. Minyak itu berasal dari sisa kegiatan memasak selama sepekan terakhir.

Rasmini mengumpulkan minyak bekas menggoreng ayam dan mendoan untuk kebutuhan makan keluarganya. Daripada membuangnya, ia memilih menyetorkan minyak tersebut agar memperoleh tambahan uang.

Petugas kemudian memeriksa kualitas dan volume minyak melalui mesin pengumpulan. Setiap liter minyak jelantah memiliki nilai tukar sekitar Rp5.000 hingga Rp6.500.

Rasmini mengaku sebelumnya tidak pernah mengumpulkan minyak bekas setelah masa pakainya habis. Ia biasanya langsung membuang minyak tersebut ke selokan, terutama setelah menggunakannya beberapa kali.

“Biasanya, tidak dikumpulkan. Kalau sudah tidak layak digunakan untuk menggoreng, dibuang ke selokan begitu saja,” katanya.

Namun, kehadiran fasilitas penukaran minyak jelantah mengubah kebiasaannya. Rasmini memilih menyimpan minyak bekas di rumah dan membawanya ke koperasi ketika jumlahnya cukup.

Ia juga membatasi penggunaan minyak goreng. Menurutnya, minyak yang sudah melewati tiga kali penggorengan tidak lagi ia gunakan untuk memasak.

Program pengumpulan minyak jelantah melalui koperasi merupakan hasil kolaborasi Kementerian Koperasi dan PT Pertamina (Persero). Kedua pihak mengembangkan proyek percontohan bertajuk Piloting Pengumpulan Minyak Jelantah (Used Cooking Oil) oleh Koperasi.

Melalui program ini, pemerintah ingin menghubungkan limbah rumah tangga dengan rantai pasok industri energi nasional. Karena itu, koperasi desa dan kelurahan memperoleh peran sebagai pengumpul minyak jelantah dari masyarakat.

Banyumas menjadi lokasi awal pelaksanaan proyek percontohan tersebut. Pemerintah dan Pertamina memilih empat koperasi sebagai titik pengumpulan, yakni KDKMP Dawuhan, Kelurahan Kober, Karanglewas, dan Karangwangkal.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono mendorong koperasi desa dan kelurahan agar mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan minyak jelantah. Menurutnya, minyak goreng bekas dapat menjadi bahan baku energi ramah lingkungan, termasuk bahan bakar pesawat atau bioavtur.

Ia berharap model usaha di Banyumas dapat berkembang dan menjadi contoh bagi daerah lain. Dengan demikian, koperasi tidak hanya menjalankan kegiatan ekonomi bagi anggota, tetapi juga berkontribusi terhadap pengelolaan lingkungan.

Pemilihan Banyumas juga memiliki latar belakang historis. Daerah ini merupakan tempat kelahiran Margono Djojohadikusumo, tokoh yang berperan dalam perkembangan gerakan koperasi Indonesia sekaligus sahabat Mohammad Hatta.

Selain itu, Dawuhan memiliki catatan dalam pengembangan koperasi setempat. Pada 21 Juni 2025, wilayah tersebut menjadi lokasi peluncuran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) pertama di Banyumas.

Ferry menyebut sekitar 30 ribu KDKMP di Indonesia telah memiliki bangunan fisik. Dari jumlah tersebut, pemerintah menargetkan sekitar 10 ribu koperasi siap beroperasi hingga Desember 2026. Ke depan, seluruh koperasi diharapkan dapat berperan sebagai agen pengumpul minyak jelantah.

Ferry juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang minyak bekas secara sembarangan. Menurutnya, satu liter minyak dapat mencemari hingga satu juta liter air bersih.

Oleh sebab itu, pengumpulan secara terorganisasi dapat membantu mengurangi pencemaran sekaligus membuka peluang usaha baru. Ia juga mengaitkan program tersebut dengan ekonomi sirkular, yaitu pemanfaatan kembali bahan yang sebelumnya dianggap limbah menjadi sumber daya bernilai.

Pertamina Siapkan Pengolahan di Kilang Cilacap

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa Banyumas memiliki potensi besar sebagai lokasi pengumpulan minyak jelantah. Aktivitas rumah tangga dan usaha kuliner di daerah tersebut menghasilkan minyak goreng bekas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi.

Salah satu faktor pendukungnya ialah budaya kuliner Banyumas, termasuk produksi mendoan. Kegiatan memasak di rumah maupun tempat usaha berpotensi menghasilkan minyak jelantah dalam jumlah besar.

Simon menjelaskan bahwa Pertamina membuka peluang pengolahan minyak tersebut menjadi sejumlah produk energi. Produk yang menjadi perhatian antara lain Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat berkelanjutan serta green gasoline.

Pertamina juga telah menguji penggunaan SAF yang dicampur dengan avtur konvensional. Dalam uji coba tersebut, komposisi SAF mencapai tiga persen. Pertamina turut mengujicobakan campuran itu untuk penerbangan bersama maskapai Garuda Indonesia.

Penggunaan bahan bakar berkelanjutan tersebut diharapkan mampu menekan emisi dibandingkan pemakaian bahan bakar konvensional sepenuhnya. Meski demikian, Simon menekankan pentingnya edukasi agar masyarakat memahami proses pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku energi.

Menurutnya, koperasi memiliki posisi strategis untuk menghubungkan masyarakat sebagai penghasil minyak bekas dengan kebutuhan industri energi. Pertamina ingin membangun rantai pengumpulan yang melibatkan warga, koperasi, dan fasilitas pengolahan.

Simon merangkum empat manfaat utama program tersebut. Pertama, pengumpulan minyak jelantah dapat mendukung ketahanan energi nasional melalui penyediaan bahan baku alternatif. Kedua, kegiatan ini membantu mengurangi pencemaran akibat pembuangan minyak secara sembarangan.

Ketiga, program tersebut membuka peluang kerja dan menambah penghasilan masyarakat. Keempat, pemanfaatan bahan baku alternatif berpotensi meningkatkan efisiensi biaya produksi industri.

Pertamina akan mengambil peran sebagai mitra koperasi sekaligus penyerap minyak jelantah yang terkumpul. Dengan dukungan teknologi katalis Merah Putih, perusahaan akan memproses bahan tersebut di kilang minyak Cilacap.

“Kilang menjadi pihak yang menyerap atau offtaker minyak jelantah dari jaringan pengumpulan koperasi.”

“Kerja sama ini menjadi contoh kekuatan koperasi dapat dipadukan dengan kemampuan industri nasional menciptakan nilai tambah dari limbah rumah tangga,” ucap Simon.

Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono juga mendukung pengembangan program tersebut. Ia menilai pengumpulan minyak jelantah dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekaligus membuka peluang usaha bagi koperasi.

Sadewo berharap program percontohan di empat lokasi dapat berkembang ke lebih banyak koperasi. Saat ini, Banyumas memiliki target pengembangan 331 KDKMP. Sebanyak 182 gerai telah dibangun, sedangkan 41 koperasi telah beroperasi.

Menurutnya, kolaborasi pemerintah, koperasi, dan Pertamina dapat membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan limbah rumah tangga. Selain itu, kerja sama tersebut berpeluang menghubungkan kegiatan ekonomi masyarakat dengan kebutuhan industri energi.