YOGYAKARTA, ifakta.co – Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) mencatat capaian positif dalam penyerapan lulusan ke dunia kerja. Sebanyak 50,01 persen mahasiswa bahkan telah memperoleh pekerjaan sebelum menyelesaikan studi. Capaian tersebut menunjukkan peran pendidikan terapan dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi kebutuhan industri.
Dekan Sekolah Vokasi UGM, Dr. Ir. Wiryanta, S.T., M.T., menjelaskan bahwa kurikulum menjadi salah satu faktor pendukung capaian tersebut. Sekolah Vokasi mewajibkan mahasiswa mengikuti program magang selama dua semester. Melalui kegiatan itu, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam lingkungan industri sekaligus mengenali tuntutan pekerjaan.
“Lulusan kita 50,01% itu sudah diterima kerja sebelum lulus,” ujar Wiryanta dalam Rapat Senat Terbuka sebagai puncak Dies Natalis Ke-17 Sekolah Vokasi UGM, Selasa (27/10), di Ballroom Teaching Industry Learning Center (TILC) SV UGM.
Iklan
Selain program magang, prestasi mahasiswa pada tingkat nasional dan internasional turut membuka peluang kolaborasi. Berbagai pencapaian tersebut mendorong mitra untuk menjalin kerja sama melalui program pembinaan yang lebih intensif.
Hingga saat ini, Sekolah Vokasi UGM telah menjalin kemitraan dengan 385 pihak. Kerja sama tersebut mencakup penyediaan tempat magang, keterlibatan praktisi dalam pembelajaran, hingga peluang rekrutmen tenaga kerja. Karena itu, kampus terus mengembangkan kurikulum agar semakin sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Meski baru memasuki usia 17 tahun, Sekolah Vokasi UGM terus memperkuat posisinya sebagai institusi pendidikan terapan. Fakultas ini mengusung prinsip harmoni, progresif, kolaboratif, inovatif, solutif, dan sejahtera. Selain meningkatkan kualitas pembelajaran, Sekolah Vokasi juga menargetkan perluasan kiprah akademik di tingkat internasional.
Wiryanta menyebut Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan sebagai lima negara prioritas dalam pengembangan mobilitas internasional. Sekolah Vokasi ingin memperluas hubungan jangka panjang dengan negara-negara tersebut melalui program gelar ganda, International Undergraduate Program (IUP), dan penelitian bersama.
Di sisi lain, fakultas juga mempercepat pengembangan penelitian serta pengabdian kepada masyarakat. Fokusnya mencakup hilirisasi, monetisasi, dan publikasi pada jurnal bereputasi. Penelitian yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan industri turut menghasilkan kekayaan intelektual. Hingga kini, Sekolah Vokasi telah mengumpulkan 271 Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Salah satu inovasi unggulannya ialah Roadster, perangkat untuk mengukur dan menilai kerusakan jalan. Wiryanta menyampaikan bahwa tim pengembang akan mempresentasikan produk tersebut dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 17 November 2026. Kegiatan itu berlangsung di United Nations Conference Center (UNCC), Bangkok, Thailand.
UGM Dorong Vokasi Perkuat Riset dan Keterampilan Terapan
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., mengapresiasi berbagai upaya Sekolah Vokasi dalam meningkatkan mutu pendidikan. Menurutnya, sejumlah capaian menunjukkan perkembangan positif fakultas tersebut. Salah satunya terlihat dari 10 dari total 24 program studi yang telah meraih predikat unggul.
Selain itu, minat masyarakat terhadap pendidikan vokasi UGM juga terus menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi. Hal tersebut tercermin dari rasio keketatan penerimaan mahasiswa yang mencapai 1:19. Prestasi mahasiswa pada tingkat nasional dan internasional turut memperkuat reputasi fakultas.
Ova juga menyoroti kontribusi penelitian dan pengabdian Sekolah Vokasi terhadap ekosistem riset serta inovasi di lingkungan UGM. Namun, ia mengingatkan bahwa universitas tetap perlu memperkuat arah pengembangan akademik. UGM saat ini mengusung kebijakan sebagai Research University dengan meningkatkan proporsi mahasiswa pascasarjana.
“Melalui semangat Dies Natalis Ke-17 ini, semoga SV senantiasa menjadi lembaga pendidikan yang unggul, kompeten, dan berkarakter dalam menghasilkan SDM berkualitas di masa depan,” harap Ova.
Sementara itu, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UGM, Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D., IPU., mengangkat persoalan pendidikan vokasi melalui orasi ilmiah bertajuk “Peran dan Tantangan Sekolah Vokasi dalam Mengembangkan Talenta Produktif bagi Kemajuan Bangsa”.
Tumiran menilai perkembangan teknologi dan kompleksitas persoalan masyarakat menuntut pendidikan vokasi untuk terus beradaptasi. Lembaga pendidikan perlu memperbarui kemampuan mahasiswa sekaligus memperluas kontribusi lulusan terhadap pembangunan.
Ia mencontohkan sektor energi yang masih menghadapi kendala dalam menerapkan hasil penelitian. Menurut Tumiran, lemahnya komitmen politik pemerintah untuk meningkatkan kapasitas berbasis kemampuan lokal menjadi salah satu penghambat.
Selain itu, Indonesia belum memiliki peta jalan hilirisasi yang jelas mengenai tujuan akhir pengolahan sumber daya alam. Padahal, hilirisasi membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengelola kekayaan alam melalui penguasaan teknologi dan pengembangan pengetahuan.
Tumiran mencontohkan Jepang, Korea Selatan, dan China sebagai negara yang berhasil memanfaatkan ilmu pengetahuan serta teknologi untuk menghasilkan nilai tambah. Pengalaman negara-negara tersebut menunjukkan bahwa penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan keterampilan, kapasitas produksi, dan kesejahteraan masyarakat.
Namun, proses tersebut tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis. Pemerintah juga perlu membangun tata kelola yang baik, memberikan kepastian hukum, serta menjaga konsistensi kebijakan.
“Pengetahuan dan teknologi perlu diterapkan secara tepat agar menghasilkan manfaat. Suatu rancangan harus dapat diwujudkan, mesin harus dapat dioperasikan dan dipelihara, proses produksi harus dikendalikan, mutu produk harus dijamin, persoalan di lapangan harus dapat diselesaikan,” tutur Tumiran.
Ia kemudian memaparkan lima kemampuan utama yang perlu dimiliki alumni vokasi untuk mendukung pembangunan. Pertama, lulusan harus mampu menerjemahkan rancangan dan teknologi menjadi proses kerja yang dapat diterapkan. Kedua, mereka perlu menyesuaikan teknologi dengan kondisi lapangan, mulai dari ketersediaan bahan baku, skala usaha, biaya, hingga kemampuan pengguna.
Ketiga, alumni vokasi harus mampu mengelola tenaga kerja sekaligus menjaga keselamatan dan mutu. Keempat, mereka perlu menguasai kemampuan analisis untuk menemukan masalah serta menyusun perbaikan berdasarkan data. Terakhir, lulusan perlu memperluas pemanfaatan teknologi melalui pelatihan, pendampingan masyarakat, dan pengembangan kewirausahaan berbasis kompetensi.
“Kontribusi vokasi menjangkau berbagai sektor dan wilayah, ukuran manfaatnya dapat kita lihat melalui peningkatan mutu, efisiensi, pendapatan yang meningkat, serta keberlanjutan kegiatan masyarakat,” jelasnya.
Tumiran menegaskan bahwa penguatan pendidikan vokasi menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian bangsa. Oleh sebab itu, perguruan tinggi perlu membiasakan mahasiswa menguji manfaat setiap solusi yang mereka kembangkan. Sebuah inovasi harus mampu meningkatkan kualitas, menekan biaya, memperbaiki keandalan, atau memberikan manfaat nyata bagi pengguna.
Dengan pendekatan tersebut, praktik langsung menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga perlu menguasai keterampilan untuk menghadapi persoalan di lapangan.
Pada akhirnya, pendidikan vokasi diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang siap bekerja, mengembangkan inovasi, merintis usaha, dan meningkatkan kapasitas lingkungan tempat mereka berkarya. Tumiran juga menilai kedekatan riset terapan dengan kebutuhan masyarakat dapat memperkuat fungsi pendidikan sekaligus pengabdian perguruan tinggi.
“Pendidikan dan riset terapan yang semakin dekat dengan persoalan nyata masyarakat dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus ruang pengabdian,” katanya.
(naf/lex)




























