JAKARTA, ifakta.co – Isu genangan dan banjir telah lama menjadi momok tahunan bagi sebagian besar wilayah DKI Jakarta, dan Kelurahan Jelambar Baru di Grogol Petamburan, Jakarta Barat, bukan pengecualian.

Menyadari urgensi penanganan masalah ini, Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth, turun langsung ke lapangan.

Ia melakukan inspeksi mendalam terhadap progres pengerjaan saluran air di wilayah RT 02/RW 06, Kelurahan Jelambar Baru, sebuah proyek infrastruktur krusial yang dirancang khusus untuk meminimalisir potensi genangan air yang kerap mengganggu aktivitas dan kenyamanan warga saat musim penghujan tiba.

Iklan

Kunjungan Kenneth pada Rabu lalu bukanlah sekadar rutinitas, melainkan bagian integral dari agenda Reses (Serap Aspirasi Masyarakat) ke-II Masa Persidangan II Tahun Sidang 2025-2026. Momen ini dimanfaatkan Kenneth tidak hanya untuk memantau pengerjaan fisik, tetapi juga untuk memastikan bahwa setiap aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat dapat dikawal secara serius hingga terwujud menjadi pembangunan yang nyata, bermanfaat, dan berkelanjutan bagi seluruh elemen masyarakat di konstituennya.

Komitmen Legislator dan Pengawalan Aspirasi Warga

Dalam pertemuan dengan warga dan pihak pelaksana proyek, Hardiyanto Kenneth menegaskan kembali peran strategis seorang wakil rakyat dalam mengawal setiap janji pembangunan. Ia menekankan bahwa reses merupakan jembatan langsung antara kebutuhan masyarakat dengan kebijakan pemerintah daerah.

“Pengerjaan saluran air tersebut merupakan salah satu upaya untuk memperlancar aliran air sekaligus membantu mengurangi potensi genangan di lingkungan warga,” ujar Kenneth.

Kenneth tidak hanya berhenti pada tujuan proyek, melainkan juga menyoroti detail teknis pengerjaan di lapangan. Ia memberikan instruksi tegas kepada pihak pelaksana agar proses pembongkaran maupun konstruksi dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Perhatian khusus ditekankan pada perlindungan pondasi dan struktur bangunan rumah warga di sekitar area proyek, guna menghindari kerusakan yang tidak diinginkan. Selain itu, aspek krusial lainnya adalah memastikan pasokan air bersih yang vital bagi warga tetap aman dan tidak terganggu sama sekali sepanjang periode pengerjaan berlangsung.

“Kami ingin memberikan manfaat, terutama dalam mengurangi genangan ketika hujan. Karena itu, pengerjaan harus dilakukan dengan baik, sesuai perencanaan dan memperhatikan kualitas agar bisa digunakan dalam jangka panjang,” tegas Kenneth.

Komitmen terhadap kualitas ini merupakan investasi jangka panjang, memastikan bahwa infrastruktur yang dibangun tidak hanya berfungsi sesaat, tetapi mampu menopang kebutuhan masyarakat hingga bertahun-tahun ke depan.

Menjaga Kualitas dan Harmoni Lingkungan

Lebih lanjut, Kenneth juga meminta pihak pelaksana untuk senantiasa memperhatikan kondisi di sekitar lokasi pengerjaan. Aktivitas masyarakat, termasuk mobilitas sehari-hari dan kegiatan ekonomi lokal, harus tetap berjalan lancar tanpa hambatan berarti.

Oleh karena itu, koordinasi yang solid dan transparan antara pelaksana pekerjaan, pemerintah daerah setempat, dan warga menjadi kunci utama. Sinergi ini diperlukan untuk meminimalisir potensi konflik atau persoalan baru yang mungkin timbul akibat dampak pembangunan, serta memastikan bahwa proyek berjalan selaras dengan kehidupan sosial masyarakat.

Kenneth menekankan bahwa pembangunan infrastruktur harus selalu berorientasi pada peningkatan kenyamanan dan kualitas hidup masyarakat secara langsung.

Untuk mencapai tujuan tersebut, pengawasan terhadap setiap tahapan pengerjaan menjadi mutlak. Pengawasan ketat ini bertujuan untuk memastikan bahwa hasil pembangunan benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil warga dan tidak melenceng dari perencanaan awal yang telah disepakati bersama.

“Saya akan terus mendorong agar pembangunan infrastruktur ini bisa menyentuh langsung kebutuhan masyarakat dan agar bisa dilakukan secara berkelanjutan,” janjinya, menegaskan komitmen jangka panjangnya.

Keterlibatan Masyarakat sebagai Kunci Keberlanjutan

Salah satu poin penting yang diutarakan Kenneth adalah mengenai tanggung jawab kolektif pasca-pembangunan. Ia mengingatkan bahwa saluran air yang telah dibangun dengan susah payah dan menelan anggaran pemerintah merupakan fasilitas bersama. Oleh karena itu, tanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya juga harus diemban bersama oleh seluruh warga.

“Yang tidak kalah penting adalah bagaimana setelah selesai nanti masyarakat ikut menjaga,” imbuhnya.

Kenneth berharap tidak ada lagi kasus di mana saluran yang sudah berfungsi baik kembali macet akibat perilaku membuang sampah sembarangan.

“Ini fasilitas bersama sehingga tanggung jawab menjaganya juga menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.

Ia juga mengharapkan dukungan penuh dari warga selama proses pengerjaan berlangsung, termasuk kesediaan untuk bersabar apabila terdapat gangguan sementara, seperti penyesuaian akses jalan yang mungkin diperlukan demi kelancaran pembangunan.

Pada akhirnya, Kenneth mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga ikut aktif mengawasi dan memberikan masukan konstruktif apabila ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Kolaborasi semacam ini sangat vital untuk mencapai hasil terbaik.

“Kalau semua ikut menjaga, manfaatnya tentu akan kembali kepada masyarakat sendiri,” pungkasnya.

(yes/wal)

Iklan