JAKARTA, ifakta.co – Harga minyak dunia bergerak turun tipis pada Jumat (25/9/2026). Pasar mencermati peluang tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sementara kekhawatiran terhadap potensi serangan fasilitas minyak di Timur Tengah masih membayangi perdagangan.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent pada Jumat pagi waktu Asia turun 74 sen atau 0,69 persen menjadi US$105,85 per barel. Pada saat yang sama, minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 81 sen atau 0,86 persen ke level US$93,80 per barel.

Pergerakan harga tersebut terjadi setelah pasar minyak mengalami volatilitas tinggi sepanjang pekan. Pada Kamis (24/9/2026), harga Brent dan WTI sempat melonjak hingga 5 persen.

Iklan

Brent kemudian mengakhiri perdagangan dengan kenaikan 3,4 persen. Sementara itu, WTI ditutup menguat 2,7 persen. Harga penutupan Brent tersebut menjadi level tertinggi sejak 15 September 2026.

Kenaikan WTI sekaligus mengakhiri penurunan selama enam sesi perdagangan berturut-turut. Dalam periode tersebut, harga WTI telah terkoreksi sekitar 13 persen.

Meski menguat pada perdagangan sebelumnya, kinerja mingguan kedua jenis minyak masih berbeda. WTI tercatat turun 6,42 persen secara mingguan, sedangkan Brent masih membukukan kenaikan 2,09 persen.

Pasar kini mengamati perkembangan pembicaraan antara AS dan Iran. Negosiator kedua negara yang berada di New York tengah menjajaki tahapan untuk mengakhiri perang.

Salah satu rencana yang dibahas mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Teheran. Selain itu, terdapat pembahasan mengenai pencabutan blokade ekonomi AS terhadap Iran.

Perkembangan diplomasi tersebut turut memengaruhi pergerakan harga minyak. Pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan berkurangnya tekanan terhadap pasokan energi apabila tercapai kesepakatan antara kedua negara.

“Harapan diplomatik pada dasarnya membantu harga minyak bertahan dari serangkaian serangan militer terbaru di Timur Tengah. Harga minyak mentah bergerak sedikit lebih rendah meskipun terjadi serangan,” kata kepala analis KCM Trade, Tim Waterer.

Sejak perang dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia disebut mengalami gangguan. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak hingga 50 persen hanya dalam satu bulan pada Maret.

Gangguan distribusi energi juga berdampak pada pasar gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG). Para pembeli LNG mencari pemasok dari wilayah yang lebih jauh untuk memperoleh pasokan yang lebih stabil.

Dengan kondisi tersebut, harga minyak dunia masih bergerak dalam bayang-bayang perkembangan konflik Timur Tengah. Pelaku pasar kini menunggu perkembangan diplomasi AS-Iran sekaligus mencermati risiko terhadap pasokan energi global.

(den/joj)

Iklan