JAKARTA, ifakta.co – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Jumat, 18 September 2026. Hingga pukul 09.30 WIB, rupiah berada di level Rp17.738 per dolar AS.
Kurs rupiah tersebut menguat 15 poin atau sekitar 0,08 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Penguatan ini terjadi setelah rupiah pada perdagangan sehari sebelumnya mengalami tekanan di pasar spot.
Pada Kamis, 17 September 2026, rupiah di pasar spot ditutup melemah 57 poin atau 0,32 persen. Saat itu, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.753 per dolar AS berdasarkan data pasar yang mengacu pada Bloomberg.
Iklan
Pergerakan rupiah juga terlihat sejak perdagangan Kamis pagi. Saat itu, mata uang Garuda sempat berada di level Rp17.739 per dolar AS.
Posisi tersebut melemah 43 poin atau 0,24 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.696 per dolar AS.
Pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir berlangsung di tengah perhatian pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Federal Reserve atau The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen hingga 4,00 persen.
Kebijakan The Fed menjadi salah satu sentimen penting yang diperhatikan pelaku pasar valuta asing domestik. Perubahan suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan dolar serta mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa sebelumnya mengatakan kondisi pasar global dan kebijakan moneter AS masih menjadi faktor yang memengaruhi rupiah.
“Pergerakan rupiah saat ini masih dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan moneter AS dan kondisi pasar global,” ucapnya dikutip dari Antara, Jumat (18/9/2026).
Selain kebijakan The Fed, pergerakan dolar AS juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi arah nilai tukar rupiah dalam perdagangan berikutnya.
Harga komoditas turut menjadi salah satu sentimen yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah. Perubahan harga komoditas dapat berdampak terhadap kondisi perdagangan dan arus valuta asing.
Sementara itu, sentimen pasar global juga tetap menjadi perhatian. Perubahan kondisi ekonomi dan keuangan global dapat memicu perubahan permintaan terhadap dolar AS maupun mata uang negara berkembang.
Dengan demikian, penguatan rupiah ke level Rp17.738 per dolar AS pada Jumat pagi belum terlepas dari dinamika pasar global. Pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan The Fed serta perkembangan dolar AS.
Pergerakan rupiah selanjutnya juga akan dipengaruhi oleh harga komoditas dan perubahan sentimen investor di pasar global. Faktor-faktor tersebut menjadi perhatian dalam menentukan arah kurs rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan berikutnya.
(den/joj)



