JAKARTA, ifakta.co – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, 11 September 2026 pagi. Rupiah berada di posisi Rp17.585 per dolar AS.

Kurs tersebut menunjukkan pelemahan 38 poin atau sekitar 0,22 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika dolar AS kembali menguat di tengah perkembangan pasar global.

Pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, mayoritas mata uang kawasan Asia bergerak di zona hijau. Yen Jepang tercatat menguat 0,02 persen terhadap dolar AS.

Iklan

Yuan China juga menguat 0,03 persen. Sementara itu, won Korea Selatan naik 0,22 persen dan dolar Singapura menguat tipis 0,01 persen.

Dolar Hong Kong turut mencatat penguatan sebesar 0,01 persen pada awal perdagangan. Namun, sejumlah mata uang Asia lainnya justru bergerak melemah.

Baht Thailand turun 0,13 persen. Peso Filipina juga melemah 0,33 persen pada perdagangan pagi.

Dengan demikian, pergerakan mata uang Asia pada Jumat pagi menunjukkan kondisi yang beragam. Rupiah sendiri menjadi salah satu mata uang yang mengalami tekanan terhadap dolar AS.

Mata Uang Negara Maju Bergerak Bervariasi

Sementara itu, mata uang utama negara maju juga menunjukkan pergerakan yang tidak seragam. Euro Eropa menguat tipis 0,01 persen terhadap dolar AS.

Sebaliknya, poundsterling Inggris melemah 0,02 persen. Franc Swiss juga turun 0,04 persen pada perdagangan pagi.

Dolar Australia mencatat penguatan sebesar 0,03 persen. Di sisi lain, dolar Kanada melemah 0,04 persen.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa penguatan dolar AS masih memberikan pengaruh terhadap pasar valuta asing global. Kondisi pasar komoditas dan perkembangan geopolitik turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Perhatian

Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah terhadap dolar AS. Menurutnya, dolar AS kembali menguat seiring kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan harga minyak dunia.

“Hal ini seiring kekhawatiran bahwa gangguan pasokan imbas perang di Timur Tengah dapat berlangsung lebih lama,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar. Kekhawatiran mengenai gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah dapat memengaruhi sentimen terhadap mata uang.

Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi AS turut memberikan dukungan terhadap dolar AS. Kondisi tersebut kemudian menciptakan tekanan terhadap rupiah dalam perdagangan Jumat pagi.

Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.500 hingga Rp17.650 per dolar AS.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih perlu mencermati perkembangan dolar AS, imbal hasil obligasi Amerika Serikat, harga minyak dunia, serta situasi geopolitik di Timur Tengah yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah.

(den/jo)

Iklan