JAKARTA, Ifakta.co – Pembangunan dan pengembangan lumbung pangan terpadu atau food estate di Provinsi Maluku Utara mulai diarahkan pada skema investasi untuk memperkuat kemandirian pangan daerah sekaligus menekan ketergantungan terhadap pasokan dari luar provinsi.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Meeting Investasi Pembangunan dan Pengembangan Lumbung Pangan Terpadu (Food Estate) yang digelar di Jakarta. Forum ini mempertemukan Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah, pemerintah pusat, dunia usaha nasional, serta mitra strategis dari China.
Pertemuan tersebut dihadiri Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe, Bupati Halmahera Tengah Ikram M. Sangadji, President Director China National Building Material Group Zhang Guo Ming, Ketua Umum Indonesia-China Economic Cooperation Center Agung Laksono, serta sejumlah pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Iklan
Turut hadir Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Provinsi Maluku Utara sekaligus Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku Utara Kadri La Etje, perwakilan KADIN Indonesia, KADIN Maluku Utara dan Halmahera Tengah, HKTI, Brigade Pangan Cendekia Indonesia, serta Tim Pangan Strategis Nasional.
Maluku Utara Dinilai Punya Modal Besar
Dalam forum tersebut, Tim Pangan Strategis Nasional menilai Maluku Utara memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi salah satu pusat lumbung pangan di kawasan timur Indonesia.
Potensi itu tidak hanya bertumpu pada sektor pertanian, tetapi juga mencakup kekuatan kelautan dan perikanan, perkebunan serta peternakan. Seluruh sektor tersebut dinilai dapat dikembangkan dalam satu ekosistem pangan terpadu yang menghubungkan produksi, pengolahan, distribusi hingga pemasaran.
“Ketahanan pangan nasional bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan strategis demi kedaulatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” demikian disampaikan dalam forum tersebut.
Selain kekayaan sumber daya alam, Maluku Utara juga memiliki pertumbuhan ekonomi yang dinilai menjadi modal penting untuk menarik investasi. Berdasarkan data BPS 2025 yang disampaikan dalam forum, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara mencapai 34,17 persen.
Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang dipandang dapat memperkuat daya tarik investasi, terutama untuk pengembangan sektor pangan dan industri turunannya.
Investasi Diarahkan dari Hulu hingga Hilir
Investasi yang ditawarkan China National Building Material Group mengusung konsep pembangunan ekosistem pangan terpadu dari hulu hingga hilir.



