BANYUMAS, ifakta.co – Sejumlah pedagang di Pasar Manis Purwokerto, Kabupaten Banyumas, mengaku kembali menghadapi kenaikan harga beberapa kebutuhan pokok.
Komoditas yang mengalami kenaikan antara lain telur ayam, daging ayam broiler, beras, serta sejumlah sayuran. Sementara itu, harga daging sapi, tahu, tempe, dan minyak goreng relatif stabil.
Para pedagang menilai lonjakan harga mulai terasa setelah aktivitas sekolah kembali normal dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan. Akibatnya, harga beberapa komoditas naik, sedangkan daya beli masyarakat justru mengalami penurunan.
Iklan
Ian (30), salah seorang pedagang sembako, mengatakan telur ayam menjadi komoditas yang mengalami kenaikan paling mencolok. Sebelumnya, selama masa libur sekolah, harga telur sempat turun hingga berkisar Rp22 ribu sampai Rp23 ribu per kilogram. Kini, harga kembali naik menjadi sekitar Rp25 ribu per kilogram.
“Jadi turun itu saat libur sekolah, program MBG libur. Tapi ini naik lagi,” katanya (14/7).
Selain telur, harga beras juga masih bertahan tinggi. Beras saat ini berada di kisaran Rp16 ribu per kilogram dan kondisi tersebut telah berlangsung sekitar dua bulan terakhir.
Ian menambahkan harga minyak goreng kemasan belum mengalami perubahan berarti dan masih bertahan sekitar Rp23 ribu per kemasan.
Menurutnya, telur menjadi komoditas yang paling terdampak oleh kembali berjalannya program MBG. Ketika harga telur turun, daya beli masyarakat justru meningkat sehingga aktivitas jual beli di pasar menjadi lebih ramai.
Pedagang lain, Sikin (58), juga merasakan kondisi serupa. Ia menjelaskan harga telur sempat turun hingga Rp19.500 per kilogram sekitar tiga pekan lalu. Namun, dalam tiga hari terakhir harga kembali naik menjadi sekitar Rp23.500 per kilogram.
Selain telur, harga beras premium kini mencapai sekitar Rp17 ribu per kilogram, sedangkan beras medium berada di kisaran Rp14.500 per kilogram.
“Kenaikan harga telur sudah tiga hari terakhir. Mungkin stok di kandang habis karena diborong MBG. Kalau stoknya sedikit harga pasti naik,” ujarnya.
Menurut Sikin, harga telur yang murah justru lebih menguntungkan pedagang. Saat harga rendah, ia mampu menjual hingga 15 peti telur per hari. Sebaliknya, ketika harga naik, penjualan turun menjadi sekitar delapan sampai sepuluh peti setiap hari.
“Lauk yang paling mudah itu kan telur, jadi kalau harga murah banyak yang beli. Saya berharap harganya selalu stabil,” katanya.
Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas daging ayam broiler. Harga ayam yang sempat turun menjadi sekitar Rp30 ribu per kilogram saat libur sekolah kini kembali naik menjadi Rp36 ribu hingga Rp37 ribu per kilogram.
Hartini (35), pedagang ayam di Pasar Manis Purwokerto, mengaku kenaikan harga cukup terasa sejak program MBG kembali berjalan.
“Ini lebih mahal lagi, sekarang Rp37 ribu per kilogram,” ujarnya.
Menurut Hartini, penjualan justru lebih baik ketika harga ayam turun selama masa libur sekolah. Saat itu, daya beli masyarakat meningkat sehingga volume penjualan ikut bertambah.
Ia mengaku mampu menjual sekitar 70 hingga 80 kilogram ayam broiler per hari ketika MBG libur. Kini, jumlah penjualan turun menjadi sekitar 40 sampai 50 kilogram setiap hari.
Hartini juga menyebut pelaksanaan program MBG selama ini tidak melibatkan pedagang kecil sebagai pemasok daging ayam. Pasokan ayam untuk program tersebut berasal dari perusahaan yang menjadi mitra resmi.
Pendapat serupa datang dari pedagang ayam lainnya, Dwi Prasetyo (41). Menurutnya, stok ayam di pasaran lebih banyak saat MBG libur sehingga harga ikut turun. Sebaliknya, ketika program kembali berjalan, pasokan berkurang dan harga naik.
Dwi menilai Program Makan Bergizi Gratis memiliki tujuan yang baik untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak. Namun, ia berharap pemerintah juga memberi ruang bagi pedagang kecil agar dapat ikut memperoleh manfaat ekonomi dari program tersebut.
Ia menambahkan selisih keuntungan sebenarnya tidak terlalu besar. Akan tetapi, penjualan saat harga lebih murah jauh lebih tinggi karena masyarakat lebih mampu membeli.
Saat libur sekolah, Dwi mengaku mampu menjual sekitar 1,2 kuintal ayam broiler setiap hari. Kini, penjualan turun menjadi sekitar 80 kilogram per hari.
Para pedagang berharap harga kebutuhan pokok kembali stabil. Dengan harga yang lebih terjangkau, mereka meyakini daya beli masyarakat akan meningkat sehingga aktivitas perdagangan di pasar tradisional kembali ramai.
(naf/lex)



