YOGYAKARTA, ifakta.co – Mi instan, gorengan, roti, hingga aneka camilan berbahan tepung telah menjadi bagian dari menu harian banyak masyarakat Indonesia.
Harganya yang terjangkau, mudah ditemukan, dan mengenyangkan membuat makanan berbasis tepung semakin digemari. Bahkan, muncul istilah “Republik Tepung” untuk menggambarkan tingginya konsumsi makanan jenis ini di Tanah Air.
Meski menjadi sumber energi, konsumsi makanan berbahan tepung secara berlebihan bukan tanpa risiko. Jika kebiasaan tersebut berlangsung dalam jangka panjang tanpa diimbangi pola makan bergizi dan aktivitas fisik yang cukup, berbagai penyakit tidak menular berpotensi muncul.
Iklan
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer, dr. Iman Permana, menjelaskan bahwa tepung pada dasarnya merupakan sumber karbohidrat yang dibutuhkan tubuh. Namun, manfaat tersebut hanya dapat diperoleh apabila konsumsinya sesuai kebutuhan energi harian.
“Tepung akan diubah menjadi glukosa sebagai sumber energi. Akan tetapi, jika jumlahnya berlebihan dan tidak seimbang dengan kebutuhan kalori, risikonya dapat meningkatkan penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, hingga stroke,” jelasnya.
Bukan Hanya Soal Kalori, tetapi Juga Kualitas Makanan
Menurut dr. Iman, kebutuhan energi orang dewasa rata-rata mencapai sekitar 2.200 kalori per hari untuk laki-laki dan sekitar 2.000 kalori untuk perempuan. Meski demikian, kebutuhan tersebut tetap menyesuaikan usia, aktivitas fisik, hingga kondisi kesehatan masing-masing.
Ia menilai persoalan utama bukan hanya banyaknya kalori yang masuk ke tubuh, tetapi juga kualitas makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Sebagian besar makanan berbahan tepung, terutama yang melalui proses penggorengan, mengandung karbohidrat sederhana serta lemak jenuh dalam jumlah tinggi. Kondisi tersebut semakin kurang baik apabila proses memasaknya menggunakan minyak goreng yang dipakai berulang kali.
Kombinasi kedua zat tersebut dapat memengaruhi metabolisme tubuh apabila dikonsumsi secara terus-menerus.
Terlalu Banyak Tepung Bisa Memicu Resistensi Insulin
Karbohidrat sederhana lebih cepat dicerna daripada karbohidrat kompleks. Akibatnya, kadar gula darah meningkat dalam waktu singkat.
Kondisi itu memang membuat tubuh cepat merasa kenyang. Namun, rasa kenyang tersebut tidak bertahan lama karena glukosa juga cepat terpakai sebagai energi. Setelah itu, rasa lapar kembali muncul sehingga seseorang terdorong untuk makan lebih sering.
Menurut dr. Iman, pola makan seperti ini berpotensi meningkatkan risiko resistensi insulin. Saat tubuh mulai kurang sensitif terhadap hormon insulin, kadar gula darah menjadi tidak terkendali.
Jika kondisi tersebut berlangsung lama, risiko obesitas, diabetes melitus, hingga penyakit kardiovaskular dapat meningkat.
Selain faktor rasa, aspek ekonomi juga berpengaruh besar terhadap tingginya konsumsi makanan berbahan tepung.
Produk seperti gorengan, mi instan, roti, hingga jajanan berbahan kanji memiliki harga yang relatif murah dibandingkan makanan dengan kandungan protein atau sayuran segar. Karena itu, banyak masyarakat memilih makanan tersebut sebagai solusi praktis untuk mengenyangkan perut.
Kemudahan memperoleh produk-produk tersebut juga membuat konsumsi makanan berbasis tepung semakin sulit terkendali.
Diversifikasi Pangan Perlu Terus Didorong
Dr. Iman menilai perubahan pola makan masyarakat tidak cukup hanya melalui imbauan kepada individu. Menurutnya, berbagai pihak perlu terlibat agar masyarakat memiliki akses terhadap pilihan makanan yang lebih sehat.
Peningkatan literasi gizi menjadi langkah awal agar masyarakat memahami manfaat sekaligus risiko dari makanan yang mereka konsumsi setiap hari.
Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan bahan pangan bergizi, seperti sayuran, telur, ikan, dan sumber protein lainnya, tetap tersedia dengan harga yang terjangkau.
Ia juga mendorong masyarakat mulai memanfaatkan sumber karbohidrat lokal selain tepung terigu. Indonesia memiliki banyak pilihan pangan seperti singkong, ubi, jagung, hingga sagu yang dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi.
Diversifikasi pangan dinilai penting agar masyarakat tidak bergantung pada satu jenis sumber karbohidrat saja.
Pola Makan Seimbang Menjadi Kunci
Dr. Iman menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu menghindari tepung sepenuhnya. Yang terpenting ialah mengonsumsi makanan berbahan tepung sesuai kebutuhan tubuh dan tidak berlebihan.
Pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik yang rutin, serta variasi sumber karbohidrat tetap menjadi kunci menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Ia juga menilai penelitian mengenai pola konsumsi masyarakat Indonesia masih perlu terus dikembangkan. Hasil kajian tersebut dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pangan yang lebih efektif sekaligus membantu menekan angka penyakit tidak menular di masa mendatang.
(naf/lex)
