BANYUMAS, ifakta.co – Petungan Jawa merupakan salah satu warisan budaya yang masih bertahan di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Masyarakat Jawa telah memanfaatkan sistem perhitungan tradisional ini selama ratusan tahun sebagai pedoman dalam berbagai aspek kehidupan.

Meski saat ini masyarakat lebih akrab dengan astrologi atau horoskop modern, petungan Jawa tetap memiliki tempat tersendiri karena mengandung nilai budaya, filosofi, dan kearifan lokal.

Upaya pelestarian tradisi tersebut terus berlangsung. Salah satunya tampak melalui penyelenggaraan workshop Tradisi Petungan Jawa: Dari Kelahiran Sampai Kematian di Pendopo Si Panji Purwokerto, Banyumas. Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan kembali petungan Jawa kepada generasi muda agar pengetahuan leluhur tidak hilang seiring perubahan zaman.

Iklan

Pengertian Petungan Jawa

Petungan Jawa merupakan sistem perhitungan tradisional yang memanfaatkan kalender Jawa sebagai dasar penentuan berbagai keputusan. Sistem ini menggabungkan hari dalam kalender Masehi dengan lima hari pasaran Jawa, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.

Gabungan nilai hari dan pasaran tersebut menghasilkan angka yang dikenal sebagai neptu. Selanjutnya, masyarakat memanfaatkan neptu sebagai acuan untuk menentukan hari baik, memahami karakter berdasarkan hari kelahiran atau weton, hingga memperkirakan kecocokan pasangan.

Meski sering dikaitkan dengan ramalan, petungan Jawa sejatinya merupakan bagian dari tradisi budaya yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat Jawa dalam memahami kehidupan.

Filosofi di Balik Petungan Jawa

Petungan Jawa tidak sekadar berisi hitungan angka. Tradisi ini juga menyimpan filosofi mengenai hubungan manusia dengan alam, waktu, serta kehidupan sosial.

Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menjelaskan bahwa petungan Jawa merupakan warisan budaya leluhur yang memuat cara pandang masyarakat terdahulu terhadap perjalanan hidup manusia. Oleh sebab itu, petungan tidak hanya berfungsi sebagai pedoman memilih waktu, tetapi juga menjadi media untuk memahami nilai-nilai kehidupan.

Selain itu, forum pembelajaran seperti workshop juga membuka ruang diskusi agar pengetahuan tersebut tetap terdokumentasi sekaligus dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Unsur Penting dalam Petungan Jawa

Beberapa unsur utama dalam petungan Jawa antara lain sebagai berikut.

UnsurPenjelasan
WetonGabungan hari lahir dan hari pasaran Jawa.
NeptuNilai angka yang berasal dari kombinasi hari dan pasaran.
Hari PasaranLegi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
PetunganProses menghitung neptu sebagai dasar berbagai pertimbangan.
Juru Hitung WetonTokoh atau sesepuh yang memahami tata cara perhitungan tradisional.

Seluruh unsur tersebut saling berkaitan sehingga menghasilkan sistem penanggalan yang telah lama berkembang dalam masyarakat Jawa.

Fungsi Petungan Jawa dalam Kehidupan

Masyarakat Jawa memanfaatkan petungan dalam berbagai kegiatan. Beberapa fungsi yang masih cukup dikenal antara lain:

  • menentukan hari baik untuk pernikahan;
  • memilih waktu memulai usaha;
  • menentukan hari pindah rumah;
  • memperkirakan kecocokan pasangan;
  • memahami karakter berdasarkan weton kelahiran;
  • menjadi pedoman dalam sejumlah upacara adat.

Walaupun tidak semua masyarakat menjadikannya sebagai acuan utama, petungan tetap memiliki nilai budaya yang kuat karena mencerminkan cara berpikir masyarakat Jawa pada masa lalu.

Pelestarian Petungan Jawa di Era Modern

Perkembangan teknologi membuat generasi muda semakin akrab dengan berbagai bentuk ramalan modern. Akibatnya, pengetahuan mengenai weton dan kalender Jawa mulai jarang dipelajari.

Karena itu, berbagai komunitas budaya terus mengadakan kegiatan edukatif. Ketua Paguyuban Kawruh Rasa Sejati, Feby Lestari, menilai banyak anak muda yang belum lagi memahami makna weton seperti Senin Pahing, Jumat Wage, atau kombinasi hari pasaran lainnya. Padahal, pengetahuan tersebut merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa.

Workshop budaya menjadi salah satu langkah nyata untuk mengenalkan kembali sistem petungan kepada masyarakat. Selain menghadirkan pegiat budaya, kegiatan tersebut juga melibatkan akademisi agar pembahasan berlangsung secara ilmiah sekaligus mudah dipahami.

Mengapa Petungan Jawa Masih Relevan?

Petungan Jawa tetap relevan bukan karena berfungsi sebagai alat meramal masa depan, melainkan karena mengandung nilai sejarah, budaya, dan filosofi. Tradisi ini memperlihatkan bahwa masyarakat Jawa sejak dahulu telah memiliki sistem pengetahuan sendiri dalam memahami waktu, kehidupan, serta hubungan antarmanusia.

Melalui pelestarian budaya, masyarakat tidak hanya menjaga tradisi leluhur, tetapi juga memperkuat identitas budaya bangsa. Oleh sebab itu, mengenalkan petungan Jawa kepada generasi muda menjadi langkah penting agar warisan tersebut terus hidup dan dapat dipelajari sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

(naf/lex)

Iklan