BANYUMAS, ifakta.co – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum membawa manfaat bagi seluruh pelaku usaha di pasar tradisional. Sejumlah pedagang eceran di Pasar Wage Purwokerto mengaku belum pernah ikut memasok kebutuhan dapur MBG. Mereka menilai pengelola program lebih banyak membeli bahan pangan dalam jumlah besar langsung kepada pedagang grosir.
Akibat kondisi tersebut, penghentian sementara MBG selama masa libur sekolah juga tidak memberikan pengaruh terhadap pendapatan mereka. Para pedagang bahkan mengaku tetap menghadapi penjualan yang lesu di tengah kondisi ekonomi yang belum pulih.
Salah seorang pedagang daging ayam, Ratem (68), mengatakan dirinya tidak pernah memperoleh pesanan untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG.
Iklan
Menurutnya, program tersebut hanya memberikan manfaat bagi pedagang tertentu yang mampu melayani pembelian dalam jumlah besar. Sementara itu, pedagang eceran tetap mengandalkan pembeli harian yang jumlahnya terus menurun.
Ia mengaku kondisi usaha saat ini jauh lebih sulit daripada sebelumnya. Dalam sehari, Ratem hanya mampu menjual sekitar empat ekor ayam. Padahal, pada kondisi normal, penjualannya dapat mencapai tujuh hingga 15 ekor ayam.
“Susah sekarang karena pembeli lebih memilih di rumah pemotongan ayam. Sekarang ekonomi sulit. MBG bagi kami cuma pedagang kecil mau berhenti apa tidak ya tidak berpengaruh,” katanya, Rabu (1/7).
Ratem juga menjelaskan dirinya merupakan pedagang yang sebelumnya berjualan di kawasan Jalan Vihara sebelum akhirnya menempati lokasi baru di dalam Pasar Wage.
Menurutnya, selama MBG berlangsung, pesanan dalam jumlah besar hanya mengalir kepada pedagang tertentu.
“Makin sepi, karena orang yang datang kaya cuma lewat-lewat doang. Kalau yang MBG, karena biasanya yang dapat itu blok-blokan dan borongan, ambilnya ke pedagang besar. Saya tidak dapat apa-apa, enggak terpengaruh MBG. Harusnya ambil semua dari yang jualan, jadi laku atau payu semua,” ujarnya.
Selain menghadapi sepinya pembeli, Ratem juga mengaku semakin sulit memperoleh pendapatan yang layak. Bahkan, untuk memperoleh penghasilan Rp200 ribu dalam sehari kini menjadi tantangan yang tidak mudah.
Harga Bahan Pangan Turun, Penjualan Tetap Belum Meningkat
Keluhan serupa juga datang dari pedagang sayuran, Tasirah (60). Ia mengatakan belum pernah memperoleh kesempatan memasok kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis sehingga penghentian sementara program tersebut tidak memberikan dampak terhadap usahanya.
Menurut Tasirah, kondisi penjualan saat ini terus menurun. Ia bahkan hanya mampu memperoleh keuntungan sekitar Rp70 ribu setelah berjualan sejak pagi hingga sore hari. Padahal sebelumnya, penghasilannya dapat mencapai ratusan ribu rupiah.
“Ya memang rekasa (susah) banget. Jualan dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Dapatnya paling sedikit ada Rp70 ribu. Dulu bisa sampai ratusan ribu. MBG juga tidak ambil sini, saya tidak kebagian. Kita cuma pedagang kecil kali ya,” katanya.
Tasirah menambahkan, banyak sayuran akhirnya tidak terjual hingga tutup pasar. Sebagian hasil dagangan terpaksa ia buang, sementara sebagian lainnya ia berikan kepada orang lain agar tidak menjadi limbah.
Ia mengakui harga berbagai kebutuhan pokok memang mengalami penurunan selama MBG memasuki masa libur. Namun, kondisi tersebut belum mampu mendorong peningkatan jumlah pembeli.
Menurut para pedagang, penurunan permintaan juga berkaitan dengan minimnya kegiatan hajatan selama Bulan Sura. Akibatnya, kebutuhan bahan pangan ikut menurun sementara pasokan tetap melimpah.
Kondisi tersebut membuat harga sejumlah komoditas ikut terkoreksi. Harga ayam potong, misalnya, turun dari sekitar Rp36 ribu menjadi Rp32 ribu per kilogram. Harga telur juga berada pada kisaran Rp22 ribu per kilogram di tingkat eceran, sedangkan harga pada pedagang besar sekitar Rp20 ribu per kilogram.
Penurunan harga paling besar terjadi pada komoditas sayuran. Beberapa jenis sayur bahkan mengalami penurunan hingga sekitar 50 persen karena stok melimpah dan permintaan terus melemah. Banyak pedagang akhirnya memanfaatkan sayuran yang tidak laku sebagai pakan ternak agar tidak terbuang sia-sia.
Komoditas buah juga mengikuti tren serupa. Harga semangka turun dari Rp15 ribu menjadi sekitar Rp12 ribu per kilogram. Sementara itu, harga buah naga dan melon turun sekitar 20 hingga 30 persen. Berbeda dengan komoditas tersebut, harga mangga dan jeruk masih relatif stabil. Adapun buah impor justru mengalami kenaikan harga akibat pengaruh nilai tukar dolar Amerika Serikat.
Harga cabai rawit merah juga turun menjadi sekitar Rp35 ribu hingga Rp36 ribu per kilogram dari sebelumnya sekitar Rp40 ribu per kilogram. Para pedagang menilai hasil panen yang melimpah serta melemahnya permintaan menjadi penyebab utama penurunan harga berbagai komoditas pangan.
Meski para pedagang menghadapi penurunan omzet, sebagian konsumen justru menyambut baik kondisi tersebut. Mereka mengaku kini dapat membeli kebutuhan rumah tangga dalam jumlah lebih banyak dengan anggaran yang sama. Konsumen pun berharap harga bahan pokok tetap stabil agar pengeluaran keluarga menjadi lebih ringan.
(naf/lex)



