JAKARTA, ifakta.co – Suasana khidmat menyelimuti Pendopo Tijani Wijayakusuma, Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Rabu (1/7).
Puluhan keris dan tombak pusaka menjalani prosesi jamasan atau penyucian dalam rangka menyambut Bulan Sura, bulan yang masyarakat Jawa anggap sakral.
Tradisi tahunan tersebut kembali menghadirkan nuansa budaya yang kental. Tahun ini, penyelenggara menghadirkan sesuatu yang berbeda. Untuk pertama kalinya, masyarakat umum memperoleh kesempatan mengikuti prosesi jamasan dengan membawa pusaka milik masing-masing.
Iklan
Kegiatan itu bukan sekadar membersihkan benda pusaka. Sebaliknya, seluruh rangkaian acara menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus upaya menjaga warisan budaya agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Sejak pagi, aroma dupa memenuhi area pendopo. Sementara itu, alunan gamelan Jawa mengiringi setiap tahapan prosesi. Para pembawa pusaka mengenakan pakaian adat Jawa lengkap. Mereka berjalan perlahan sambil membawa keris dan tombak yang memiliki nilai sejarah.
Prosesi kemudian berlanjut dengan kirab pusaka menuju pendopo utama. Tiga bilah keris memperoleh penghormatan khusus melalui arak-arakan di bawah payung kebesaran. Setelah itu, para pembawa pusaka menyerahkan keris kepada penjamas untuk menjalani ritual penyucian sesuai tata cara adat Jawa.
Suasana sakral semakin terasa ketika gamelan terus mengalun sepanjang prosesi berlangsung. Para peserta mengikuti setiap tahapan dengan penuh khidmat sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah bertahan selama bertahun-tahun.
Selain pemilik pusaka, sejumlah tokoh masyarakat juga hadir dalam kegiatan tersebut. Salah satunya Bupati Cilacap ke-17, Tatto Suwarto Pamuji. Dalam kesempatan itu, ia menerima Tombak Kiai Wicaksono sebagai bagian dari rangkaian prosesi adat.
Menurut Tatto, tradisi jamasan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar ritual tahunan. Tradisi tersebut, menurutnya, menjadi salah satu cara masyarakat mempertahankan identitas budaya daerah.
“Merawat budaya berarti menjaga jati diri. Anak cucu kita harus mengetahui seperti apa warisan leluhurnya sehingga nilai-nilai itu tidak hilang ditelan waktu,” katanya.
Tradisi Jamasan Kini Mulai Melibatkan Masyarakat Umum
Pimpinan Tijani Nusantara, Awan Ukaya, menjelaskan penyelenggara sengaja membuka prosesi jamasan bagi masyarakat umum pada tahun ini. Langkah tersebut bertujuan memperluas partisipasi masyarakat sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian budaya.
Menurutnya, antusiasme warga cukup tinggi. Banyak masyarakat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membawa pusaka keluarga agar menjalani prosesi jamasan bersama pusaka-pusaka lain yang memiliki nilai sejarah.
Awan menilai keterlibatan masyarakat menjadi langkah penting agar tradisi tidak hanya bertahan sebagai seremoni tahunan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan generasi sekarang.
Melalui keterlibatan warga, tradisi jamasan diharapkan terus berkembang tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan para leluhur.
Bagi masyarakat Jawa, Bulan Sura memang memiliki makna khusus. Berbagai daerah memanfaatkan momen tersebut untuk menggelar tradisi budaya, doa bersama, hingga ritual penyucian pusaka. Seluruh kegiatan itu mencerminkan rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap sejarah dan nilai-nilai yang telah hidup di tengah masyarakat selama bertahun-tahun.
Awan mengakui penyelenggaraan jamasan tahun ini masih berlangsung dengan berbagai keterbatasan. Meski begitu, tingginya antusiasme peserta dari berbagai wilayah di Kabupaten Cilacap menjadi dorongan untuk terus mengembangkan kegiatan tersebut pada tahun-tahun mendatang. Menurutnya, komunitas budaya dari Majenang, Dayeuhluhur, Wanareja, hingga Cimanggu ikut memeriahkan prosesi tersebut.
“Ini menjadi langkah awal yang baik. Komunitas dari Majenang, Dayeuhluhur, Wanareja hingga Cimanggu ikut hadir. Tahun-tahun berikutnya kami berharap pelaksanaannya bisa lebih besar dan melibatkan lebih banyak pegiat budaya,” katanya.
Selain itu, Awan berharap Pendopo Tijani Wijayakusuma dapat berkembang menjadi ruang bersama bagi para seniman, budayawan, serta komunitas pelestari tradisi di Cilacap. Ia menilai pertemuan rutin antarkomunitas akan memperkuat upaya menjaga warisan budaya sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat.
“Kami ingin, tempat ini menjadi rumah bersama bagi para pelaku seni dan budaya. Semakin sering masyarakat berkumpul dan berdiskusi, semakin kuat pula upaya menjaga warisan budaya yang kita miliki,” ujarnya.
(naf/lex)



