JAKARTA, ifakta.co – Invasi Rusia di Ukraina pada Februari 2022 silam ternyata tidak membuat Ukraina tunduk. Kenapa Rusia belum bisa menaklukkan Ukraina menjadi pertanyaan yang kembali muncul setelah perlawanan Kyiv terus berlanjut selama empat tahun.
Ukraina, di bawah kepemimpinan Volodymyr Oleksandrovych Zelenskyy, justru terus memberi perlawanan. Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan mengakui negaranya kini menghadapi “kekurangan” bahan bakar setelah serangan berulang Ukraina dalam empat tahun terakhir.
Ukraina menyebut serangan itu sebagai “pembalasan yang adil” atas serangan Rusia yang setiap hari menargetkan warga sipil dan infrastruktur energi Ukraina sejak Februari 2022, artinya sudah empat tahun perang berjalan.
Iklan
“Mengenai serangan terhadap infrastruktur penting secara umum, dan infrastruktur energi khususnya, tentu saja serangan terhadap fasilitas ini menimbulkan masalah, itu jelas,” kata Putin dalam sebuah wawancara.
“Saat ini kami mengamati kekurangan tertentu, namun tidak kritis,” imbuhnya, dikutip AFP.
Dalam wawancara itu, Putin juga mengaku berharap tim negosiator Amerika Serikat datang ke Moskow untuk membahas akhir perang dengan Ukraina, setelah AS tidak lagi terlalu sibuk dengan Iran dan konflik Timur Tengah.
Akar konflik lebih jauh dapat ditelusuri ke hubungan historis Rusia-Ukraina. Ukraina adalah bekas republik Soviet yang semula bersekutu dengan Rusia ketika meraih kemerdekaan. Seiring waktu, Ukraina bergerak mendekat ke negara-negara Barat dan menata diri untuk kemungkinan menjadi anggota NATO.
Pada 2014, demonstran Ukraina menggulingkan presiden pro-Rusia Viktor Yanukovych setelah ia menolak mengizinkan negara itu bergabung dengan Uni Eropa (UE). Setelah kejatuhan Yanukovych, Presiden Rusia Vladimir Putin mengerahkan pasukan militer ke Ukraina untuk mencaplok Krimea, wilayah strategis Ukraina yang menjadi lokasi Armada Laut Hitam Rusia. Pada pertengahan dekade 2020-an, Krimea tetap menjadi bagian republik Rusia.
Kisah itu menggambarkan ketegangan antara Rusia dan Ukraina serta kecenderungan Ukraina ke arah Barat dan NATO, yang memicu bantuan luas bagi Kyiv selama perang, termasuk dukungan militer.
Selama empat tahun konflik, pertempuran berlanjut. Pada 2023 dan 2024, Rusia membuat kemajuan penting di beberapa front, melancarkan serangan terhadap fasilitas energi Ukraina dan merebut hampir dua ratus permukiman di berbagai wilayah Ukraina.
Di sisi lain, Ukraina mencatat kemajuan di front timur dan selatan, menghancurkan pasukan Rusia di beberapa area penting, termasuk di wilayah Kursk di Rusia selatan, di mana pasukan Moskow mengalami banyak korban. Pasukan Ukraina juga menerima peningkatan dukungan dari NATO, termasuk persenjataan canggih, serta bantuan dari AS dan sekutunya, menurut tulisan di laman ebsco.com.
Menurut Francois Heisbourg, Penasihat Senior Eropa untuk International Institute for Strategic Studies, Rusia gagal mencapai tujuan politik yang dinyatakannya, yakni menguasai kendali politik atas Ukraina. Kudeta kilat yang diharapkan berlangsung singkat berubah menjadi perang besar yang berkepanjangan.
Pasukan Moskow telah menderita penghinaan akibat salah satu kampanye paling tidak kompeten dalam sejarah militer modern, yang mengingatkan pada serangan dahsyat Benito Mussolini terhadap Yunani pada tahun 1940.
“Hal ini terus berlanjut hingga saat ini. Tujuan perang yang dinyatakan Ukraina konsisten dengan perang pembebasan dan pertahanan nasional: integritas teritorial, kedaulatan politik, dan jaminan pertahanan. Selain itu, Ukraina menambahkan tujuan pasca-perang yang mencakup penghukuman kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, serta ganti rugi untuk pembangunan kembali negara,” kata Heisbourg.
(fza/fza)



