JAKARTA, ifakta.co – Liburan sekolah identik dengan waktu luang yang lebih panjang bagi anak. Setelah berbulan-bulan menjalani rutinitas belajar, banyak anak memanfaatkan masa liburan untuk beristirahat dan mencari hiburan. Namun, tidak sedikit yang akhirnya menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar gadget.
Ponsel pintar, tablet, maupun perangkat digital lainnya memang mampu memberikan hiburan yang menarik. Anak dapat bermain gim, menonton video, hingga berinteraksi melalui media digital. Meski demikian, penggunaan gadget yang berlebihan tetap perlu mendapat perhatian serius dari orang tua.
Jika tidak diimbangi dengan aktivitas lain, kebiasaan tersebut berpotensi memengaruhi perkembangan emosional, sosial, hingga kesehatan anak. Karena itu, masa liburan sebaiknya dimanfaatkan untuk menciptakan keseimbangan antara aktivitas digital dan kegiatan di dunia nyata.
Iklan
Penggunaan Gadget Berlebihan Dapat Memengaruhi Emosi Anak
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto sekaligus Psikolog Klinis, Shinta Adella, M.Psi., menjelaskan bahwa penggunaan gadget yang tidak terkendali dapat memunculkan berbagai dampak negatif.
Menurutnya, salah satu dampak yang paling mudah terlihat berkaitan dengan kemampuan anak dalam mengelola emosi. Anak yang terlalu sering menggunakan gadget cenderung menunjukkan reaksi emosional yang lebih kuat ketika akses terhadap perangkat tersebut dibatasi.
“Penggunaan gadget yang berlebihan atau mungkin tidak seimbang dengan aktivitas yang harus dilakukan di dunia nyata akhirnya membawa dampak-dampak negatif. Salah satu hal yang paling utama terlihat dari regulasi emosi,” kata Shinta.
Kondisi tersebut dapat membuat anak lebih mudah marah, kecewa, atau frustrasi ketika orang tua mengambil atau membatasi penggunaan gadget. Akibatnya, hubungan antara anak dan orang tua pun berpotensi mengalami gesekan.
Konsentrasi dan Kemampuan Sosial Bisa Menurun
Selain memengaruhi emosi, penggunaan gadget secara berlebihan juga dapat berdampak pada kemampuan konsentrasi anak. Paparan konten digital yang terus-menerus membuat anak terbiasa menerima stimulasi secara cepat.
Akibatnya, anak dapat mengalami kesulitan saat harus fokus pada aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama. Misalnya membaca buku, mengerjakan tugas, atau mengikuti kegiatan yang membutuhkan kesabaran.
Di sisi lain, waktu yang terlalu banyak anak habiskan bersama gadget juga dapat mengurangi kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sekitar.
“Ketika dia dengan gadgetnya maka interaksi dan juga komunikasi itu menjadi sangat terbatas,” ujar Shinta.
Padahal, interaksi sosial memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan komunikasi, empati, kerja sama, dan keterampilan sosial lainnya. Karena itu, anak tetap membutuhkan kesempatan untuk bermain dan berkomunikasi secara langsung dengan teman sebaya maupun anggota keluarga.
Waspada Risiko Gangguan Tidur
Paparan layar dalam waktu lama juga dapat memengaruhi kualitas tidur anak. Terlebih jika gadget digunakan hingga malam hari atau menjelang waktu tidur.
Kebiasaan tersebut dapat membuat anak sulit beristirahat dengan optimal. Akibatnya, jam tidur menjadi tidak teratur dan tubuh tidak memperoleh waktu pemulihan yang cukup.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan fisik, suasana hati, hingga kemampuan belajar anak setelah masa liburan berakhir.
Karena itu, orang tua perlu mengatur waktu penggunaan gadget agar tidak mengganggu pola tidur yang sehat.
Dorong Anak Lebih Aktif Selama Liburan
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap gadget, orang tua dapat menyediakan berbagai aktivitas menarik di luar dunia digital. Aktivitas fisik menjadi salah satu pilihan yang sangat dianjurkan.
Anak dapat bermain bersama teman, bersepeda, berjalan santai, atau mengikuti kegiatan olahraga yang sesuai dengan usianya. Selain menyehatkan tubuh, kegiatan tersebut juga membantu meningkatkan kemampuan sosial anak.
Di samping itu, orang tua dapat memanfaatkan momen liburan untuk mempererat hubungan keluarga. Misalnya dengan makan bersama, mengobrol lebih banyak, melakukan kegiatan akhir pekan, atau mengunjungi tempat rekreasi yang edukatif.
“Orang tua memfasilitasi anak-anak bermain, misalnya bermain bersama dengan temannya, bersepeda, aktivitas fisik, olahraga. Kemudian bisa mengisi kegiatan dengan makan malam bersama, bercerita lebih banyak, ketika weekend quality time,” jelasnya.
Orang Tua Perlu Menjadi Contoh
Pengawasan penggunaan gadget tidak akan berjalan efektif tanpa keteladanan dari orang tua. Anak cenderung meniru kebiasaan yang mereka lihat setiap hari di rumah.
Karena itu, orang tua juga perlu menunjukkan penggunaan gadget yang bijak. Selain itu, keluarga dapat membuat aturan bersama mengenai waktu penggunaan perangkat digital.
Dengan batasan yang jelas, anak dapat belajar mengelola waktu secara lebih baik. Sementara itu, keseimbangan antara aktivitas digital dan aktivitas nyata tetap terjaga.
Masa liburan sekolah seharusnya menjadi kesempatan bagi anak untuk berkembang melalui berbagai pengalaman baru. Dengan pendampingan yang tepat, anak tetap dapat menikmati teknologi tanpa mengorbankan kesehatan emosional, kemampuan sosial, maupun kualitas hidupnya.
(naf/lex)

