JAKARTA, ifakta.co – Media sosial tidak lagi sekadar menjadi tempat berbagi aktivitas sehari-hari. Kini, platform digital berubah menjadi ruang pamer pencapaian karier, mulai dari promosi jabatan, sertifikasi profesional, hingga pengumuman pekerjaan baru. Kondisi tersebut memicu fenomena career FOMO atau fear of missing out dalam dunia kerja.
Career FOMO menggambarkan rasa cemas ketika seseorang merasa tertinggal dari pencapaian profesional orang lain. Fenomena ini semakin marak di kalangan Gen Z yang tumbuh di tengah budaya digital dan paparan media sosial tanpa henti.
Setiap unggahan tentang kesuksesan karier dapat memicu tekanan psikologis, terutama ketika seseorang mulai membandingkan pencapaiannya dengan orang lain di internet. Akibatnya, banyak anak muda merasa apa yang mereka miliki belum cukup meski sebenarnya sudah berkembang dengan baik.
Iklan
Perkembangan media sosial ikut mengubah standar kesuksesan profesional. Jika dulu seseorang hanya membandingkan diri dengan lingkungan sekitar, kini mereka membandingkan diri dengan ribuan orang di dunia maya.
Unggahan tentang kenaikan jabatan, proyek besar, hingga pencapaian akademik terus muncul di linimasa setiap hari. Kondisi tersebut akhirnya membentuk standar sosial baru bahwa kesuksesan harus terlihat dan mendapat validasi publik.
Bagi Gen Z, media sosial juga menjadi ruang untuk mencari pengakuan diri. Karena itu, banyak anak muda merasa perlu menunjukkan perkembangan karier mereka agar dianggap berhasil oleh lingkungan sosialnya.
Selain itu, algoritma media sosial terus menampilkan konten pencapaian profesional secara berulang. Akibatnya, pengguna lebih sering melihat “versi terbaik” kehidupan orang lain tanpa mengetahui perjuangan di baliknya.
Career FOMO Picu Siklus Perbandingan Sosial
Paparan pencapaian orang lain secara terus-menerus membuat banyak individu sulit berhenti membandingkan diri. Bahkan, setelah mencapai target tertentu, rasa tertinggal tetap muncul ketika melihat orang lain memiliki pencapaian yang dianggap lebih tinggi.
Fenomena tersebut akhirnya menciptakan siklus perbandingan sosial yang sulit diputus. Seseorang terus mengejar standar baru karena takut dianggap gagal atau kalah bersaing.
Selain itu, tekanan digital juga memunculkan keraguan terhadap kemampuan diri sendiri. Banyak anak muda mulai mempertanyakan apakah karier mereka sudah berkembang cukup baik atau justru tertinggal jauh dari orang lain.
Kondisi itu membuat sebagian individu mengalami penurunan rasa percaya diri dan kecemasan berlebihan terhadap masa depan profesional mereka.
Career FOMO tidak hanya memengaruhi kondisi emosional, tetapi juga berdampak pada cara seseorang mengambil keputusan karier. Banyak individu akhirnya mengambil langkah impulsif demi mengejar standar yang mereka lihat di media sosial.





