JAKARTA, ifakta.co – Pelajaran matematika masih menjadi tantangan bagi banyak pelajar, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai studi menunjukkan adanya penurunan minat dan kemampuan matematis siswa yang berpotensi memengaruhi kualitas pembelajaran pada jenjang pendidikan lanjutan.

Penelitian yang dilakukan oleh University of Eastern Finland dan dipublikasikan dalam British Journal of Educational Psychology pada akhir 2023 mengungkapkan bahwa anak-anak umumnya memiliki minat serta persepsi kompetensi yang positif terhadap matematika saat pertama kali masuk sekolah.

Iklan

Namun, dalam kurun tiga tahun pertama di sekolah dasar, minat dan kepercayaan diri tersebut cenderung mengalami penurunan signifikan. Kondisi ini menjadi sinyal awal melemahnya fondasi pembelajaran matematika sejak usia dini.

Fenomena penurunan kemampuan matematika tidak hanya terjadi di tingkat nasional, tetapi juga menjadi tren global. Hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh OECD pada 2025 menunjukkan adanya penurunan konsisten pada skor matematika, literasi, dan sains sejak 2015.

Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa kemampuan berpikir numerik dan logis generasi muda semakin tergerus.

Dampak Terasa di Perguruan Tinggi

Dosen Matematika Aljabar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. rer. nat. Indah Emilia Wijayanti, menyebut penurunan tersebut juga terlihat jelas pada kemampuan mahasiswa baru.

“Jika dibandingkan, mahasiswa baru program studi Matematika lima atau sepuluh tahun lalu memiliki kemampuan berpikir matematis yang lebih mumpuni dibandingkan sekarang,” ujarnya, dikutip dari laman resmi UGM, Senin (30/3).

Menurut Indah, penurunan kemampuan mahasiswa tidak terlepas dari lemahnya pemahaman dasar matematika sejak jenjang sekolah dasar dan menengah. Ketika materi matematika di level awal berkurang atau tidak tuntas, dampaknya akan terasa hingga pendidikan tinggi.

“Sederhananya, jika di SD atau SMP materi matematikanya berkurang, maka di SMA juga ikut berkurang,” jelasnya.

Teknologi dan Fokus Belajar Jadi Tantangan

Indah juga menyoroti kemajuan teknologi sebagai faktor lain yang memengaruhi kemampuan matematika siswa. Kemudahan akses teknologi dinilai dapat mengurangi proses berpikir mendalam jika tidak diimbangi dengan pendampingan yang tepat.

Selain itu, gangguan fokus selama belajar turut memperlemah daya konsentrasi siswa. Karena itu, peran pengajar menjadi krusial dalam menciptakan metode pembelajaran yang menarik dan bervariasi.

“Pengajar perlu menghadirkan pengalaman belajar matematika yang beragam agar konsistensi dan fokus pelajar tetap terjaga,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa penguasaan matematika tidak bisa dicapai secara instan. Latihan yang dilakukan secara konsisten, termasuk mengerjakan soal-soal sederhana, sangat penting untuk menstimulasi kemampuan berpikir logis.

“Dengan berlatih, siswa dan mahasiswa dapat meningkatkan kompetensinya sendiri dan menemukan fokus sesuai minat mereka,” kata Indah.

Kurikulum Perlu Lebih Fleksibel

Lebih lanjut, Indah menilai bahwa membangun budaya sains yang kuat tidak hanya menjadi tanggung jawab pendidik atau keluarga, tetapi juga bergantung pada kebijakan pendidikan. Ia menekankan pentingnya fleksibilitas kurikulum agar tidak membatasi ruang eksplorasi mahasiswa.

“Kurikulum seharusnya membebaskan. Universitas perlu diberi keleluasaan untuk mengatur muatan pembelajaran, sehingga mahasiswa bisa mengeksplorasi bidang lain di luar matematika,” ujarnya.

Di lingkungan perguruan tinggi, ruang bagi mahasiswa untuk mempelajari bidang lain dinilai dapat memperkaya cara berpikir dan membantu memahami konsep matematika yang kompleks. Indah juga menekankan pentingnya strategi pengajaran yang komunikatif dan kontekstual.

“Kita harus bisa mengemas materi dengan lebih menarik. Biasanya saya mulai dengan motivasi, lalu masuk ke teori, dan setelah itu mahasiswa diajak langsung menerapkannya,” tuturnya.

Penurunan kemampuan matematika menjadi tantangan serius yang perlu ditangani secara menyeluruh. Melalui kolaborasi antara pengajar, kebijakan pendidikan yang adaptif, serta inovasi metode pembelajaran, kualitas literasi matematika generasi muda diharapkan dapat kembali meningkat.

(naf/kho)