JAKARTA, ifakta.co – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali menunjukkan peran aktifnya di forum akademik internasional.
Dua guru besar UNJ tampil sebagai pembicara utama dalam DCEST 2026 International Conference yang diselenggarakan oleh University of Management and Technology di Ho Chi Minh City, Vietnam, pada Jumat (6/3).
Kedua akademisi tersebut adalah Prof. Dedi Purwana, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) sekaligus Direktur Sekolah Pascasarjana UNJ, serta Prof. Efri Sandi, Guru Besar Fakultas Teknik (FT) UNJ.
Iklan
Kehadiran keduanya sebagai keynote speaker menjadi bagian dari upaya memperkuat diplomasi akademik sekaligus memperluas jaringan kolaborasi internasional UNJ.
Dikutip dari rilis UNJ, konferensi internasional ini mengangkat tema “Convergence of Engineering Science and Life in the Digital Age” yang menyoroti pentingnya integrasi ilmu rekayasa, bisnis, dan dinamika sosial dalam menghadapi era transformasi digital.
Forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara yang berdiskusi melalui tiga jalur utama, yakni technology track, business track, dan society track.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dedi Purwana menyampaikan keynote speech berjudul “The Primacy of Autonomous Motivation: How Green Education Fosters Sustainable Entrepreneurial Intentions.”
Ia menekankan bahwa di tengah percepatan transformasi digital serta tuntutan pembangunan berkelanjutan, pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang inovatif sekaligus memiliki kesadaran terhadap lingkungan.
Menurutnya, konsep green education tidak hanya berkaitan dengan isu pelestarian lingkungan, tetapi juga dapat menjadi dasar dalam membangun kewirausahaan berkelanjutan yang mampu menjawab tantangan ekonomi masa depan.
Sementara itu, Prof. Efri Sandi menyampaikan keynote speech berjudul “Digital Infrastructure for the Future: Leveraging 5G/6G and Sensing Technologies for Economic Resilience and Social Progress.”
Dalam paparannya, ia menyoroti pentingnya penguatan infrastruktur digital sebagai fondasi utama daya saing negara di era ekonomi berbasis teknologi.
Ia menjelaskan bahwa pengembangan jaringan generasi baru seperti 5G dan 6G, yang dipadukan dengan teknologi smart sensing, berpotensi mentransformasi berbagai sektor strategis, mulai dari industri, layanan publik, hingga model pertumbuhan ekonomi yang lebih adaptif dan inklusif.
Partisipasi dua guru besar UNJ dalam konferensi tersebut juga merupakan bagian dari implementasi kerja sama akademik antara UNJ dan University of Management and Technology yang mulai dirintis sejak tahun 2024.
Kerja sama ini berawal ketika Mutia Delina, dosen Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) UNJ yang saat itu menjabat sebagai staf ahli kerja sama luar negeri, menghadiri pameran pendidikan internasional yang diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Ho Chi Minh City.
Dalam kesempatan tersebut, ia bersama tim Pensosbud KJRI mengunjungi kampus UMT untuk menjajaki peluang kolaborasi akademik antara kedua institusi.
Kolaborasi tersebut kemudian berkembang lebih lanjut. Pada tahun 2025, University of Management and Technology mengirimkan sejumlah mahasiswanya ke UNJ untuk mengikuti program academic–industrial immersion yang diselenggarakan oleh Kantor Urusan Internasional (KUI) UNJ dan dikoordinasikan oleh Sekretaris KUI, Sri Rahayu.
Program ini memberikan pengalaman pembelajaran lintas negara sekaligus memperkenalkan ekosistem akademik dan industri di Indonesia kepada mahasiswa internasional.
Ke depan, kerja sama antara kedua perguruan tinggi juga akan diperkuat melalui program pertukaran mahasiswa (student exchange). Pada tahun 2026, UNJ dijadwalkan mengirimkan mahasiswa untuk mengikuti program pertukaran di University of Management and Technology.
Partisipasi UNJ dalam konferensi internasional ini menegaskan komitmen universitas dalam memperluas jejaring akademik global sekaligus membuka peluang kolaborasi riset, pendidikan, dan inovasi yang lebih luas bagi civitas akademika di masa mendatang.
(naf/kho)



