JAKARTA, ifakta.co – Bau mulut menjadi keluhan yang kerap muncul selama bulan Ramadan. Kondisi ini sering dikaitkan dengan makanan saat sahur, namun penyebab utamanya tidak selalu sesederhana itu.

Selama berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman dalam waktu lama sehingga produksi air liur menurun. Padahal, air liur berfungsi sebagai pembersih alami rongga mulut sekaligus penghambat pertumbuhan bakteri.

Ketika mulut menjadi kering, bakteri lebih mudah berkembang biak dan menghasilkan senyawa sulfur yang menimbulkan aroma tidak sedap.

Iklan

Inilah alasan mengapa bau mulut lebih sering terasa saat bangun tidur atau menjelang siang hari selama puasa.

Jenis-Jenis Bau Mulut

Secara umum, bau mulut dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan penyebabnya.

1. Bau Mulut Patologis

    Jenis ini merupakan yang paling sering terjadi. Penyebabnya adalah aktivitas bakteri anaerob gram negatif di rongga mulut yang memproduksi senyawa Volatile Sulfur Compounds (VSCs).

    Bakteri tersebut umumnya berkembang di pangkal lidah, sela-sela gigi, gigi berlubang, karang gigi, hingga gusi yang meradang.

    Kondisi ini biasanya masih bisa diatasi dengan menjaga kebersihan mulut secara menyeluruh. Namun, jika dibiarkan, bau dapat terus berulang meski sudah menyikat gigi.

    2. Bau Mulut Akibat Makanan

    Aroma napas juga dapat dipicu oleh konsumsi makanan berbau tajam seperti petai, jengkol, bawang putih, maupun kebiasaan merokok. Bau jenis ini biasanya bersifat sementara dan akan hilang ketika pemicu tidak lagi dikonsumsi.

    3. Pseudohalitosis dan Halitofobia

    Pada kondisi ini, seseorang merasa napasnya berbau padahal secara pemeriksaan tidak ditemukan aroma tidak sedap.

    Faktor psikologis seperti kecemasan, stres, dan depresi dapat memicu keluhan subjektif ini. Pemeriksaan objektif diperlukan untuk memastikan apakah bau mulut benar-benar ada atau hanya persepsi.

    Cara Meminimalkan Bau Mulut selama Ramadhan

    Agar napas tetap segar sepanjang hari, beberapa langkah berikut dapat diterapkan:

    1. Menyikat gigi dengan teknik yang benar.
    2. Membersihkan lidah secara rutin.
    3. Menggunakan benang gigi.
    4. Memilih obat kumur non-alkohol.
    5. Memastikan tidak ada gigi berlubang atau karang gigi melalui pemeriksaan rutin.

    Waktu Terbaik Menyikat Gigi saat Puasa

    Selama Ramadhan, menyikat gigi minimal dilakukan dua kali sehari, yaitu saat sahur dan sebelum tidur. Jika diperlukan, dapat ditambah setelah berbuka puasa. Yang terpenting bukan hanya frekuensi, tetapi teknik menyikat yang benar, termasuk membersihkan permukaan lidah dan menggunakan benang gigi untuk menjangkau sela-sela gigi.

    Penggunaan obat kumur non-alkohol juga disarankan agar tidak memperparah kondisi mulut kering.

    Mengapa Bau Mulut Tetap Muncul Meski Sudah Sikat Gigi?

    Menyikat gigi saja belum tentu cukup jika tekniknya kurang tepat. Beberapa faktor yang membuat bau tetap muncul antara lain:

    • Penurunan produksi saliva selama puasa sehingga bakteri lebih aktif.
    • Sisa makanan di lidah dan sela gigi yang tidak terangkat sempurna.
    • Metabolisme keton, yaitu proses pembakaran lemak saat tubuh kekurangan karbohidrat yang menghasilkan aroma khas pada napas.
    • Masalah kesehatan gigi dan gusi seperti karies dan karang gigi.

    Rekomendasi Menu Sahur untuk Menjaga Kesegaran Napas

    Pemilihan makanan saat sahur berpengaruh besar terhadap kondisi mulut selama berpuasa. Beberapa pilihan yang disarankan antara lain:

    • Makanan tinggi serat seperti apel, pir, dan timun yang membantu efek pembersihan alami dan merangsang produksi saliva.
    • Sumber protein tidak beraroma tajam seperti telur, tahu, tempe, dan ayam.
    • Asupan air putih yang cukup saat sahur dan berbuka untuk menjaga hidrasi tubuh.

    Sebaliknya, sebaiknya membatasi konsumsi makanan berbau menyengat dan makanan yang lengket di gigi.

    Jika bau mulut tetap muncul meski sudah menjaga kebersihan mulut, sebaiknya berkonsultasi ke dokter gigi untuk pemeriksaan lebih lanjut.

    (naf/kho)