JAKARTA, ifakta.co – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan Jumat pagi dengan tren positif. Mata uang Garuda menguat 63 poin atau 0,35 persen ke posisi Rp18.065 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp18.128 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai penguatan rupiah dipicu membaiknya sentimen global setelah perkembangan terbaru hubungan Amerika Serikat dan Iran mendorong penurunan harga minyak dunia.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat pada kisaran di Rp18.050-Rp18.120 dipengaruhi faktor global penguatan mata uang regional seiring stabilnya index dollar dan penurunan harga minyak,” ujar Rully dilansir ANTARA di Jakarta, Jumat (10/7).
Iklan
Menurut laporan Sputnik, militer Amerika Serikat untuk sementara menangguhkan serangan terhadap Iran di tengah berlangsungnya proses negosiasi. Meski demikian, Washington disebut tetap siap melanjutkan operasi militer apabila kondisi mengharuskannya.
Pemerintah AS juga menegaskan bahwa informasi mengenai serangan baru terhadap Iran pada Kamis malam tidak benar. Di sisi lain, Washington masih mengedepankan jalur diplomasi untuk menyelesaikan konflik dengan Teheran.
Sebelumnya, pada Rabu (8/7) dini hari, militer AS melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Iran. Sebagai balasan, Iran mengklaim telah menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait.
Pemerintah Iran juga menuduh Washington telah melanggar nota kesepahaman penghentian permusuhan yang sebelumnya disepakati kedua negara.
Meski sentimen global mendukung penguatan rupiah, Rully mengingatkan masih terdapat sejumlah faktor domestik yang berpotensi membatasi kenaikan nilai tukar.
“Dari domestik, masih menjadi pemberat rupiah menguat lebih jauh seperti data ekonomi, di antaranya defisit neraca perdagangan, defisit anggaran yang melampaui ekspektasi, dan data penjualan ritel dan keyakinan konsumen,” ungkapnya.
Data terbaru menunjukkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026. Kondisi tersebut mengakhiri tren surplus perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Sementara itu, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada akhir 2026 diproyeksikan melebar menjadi Rp734,3 triliun atau setara 2,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut lebih tinggi dibanding target awal APBN 2026 sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen dari PDB.
Di sektor konsumsi, Bank Indonesia melalui Survei Penjualan Eceran memperkirakan kinerja penjualan ritel pada Juni 2026 masih terjaga. Hal itu tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang diproyeksikan berada di level 221,6, meskipun masih mengalami kontraksi sebesar 4,4 persen secara tahunan.
Selain itu, Bank Indonesia juga mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 tetap berada pada zona optimistis di level 117,8 atau di atas angka 100. Namun, capaian tersebut lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 120,9, sehingga menunjukkan optimisme masyarakat mulai melandai.
(den/jo)


