“Kenapa mereka mungkin lebih nyaman dengan bahasa asing ketika mengungkapkan perasaannya, mungkin karena di situ kreativitas mereka lebih bisa keluar. Mungkin juga, mereka belum banyak mengetahui atau belajar diksi-diksi indah yang ada di bahasa Indonesia karena mereka merasa terlalu puitis,” jelas Ghoni.

Menurutnya, banyak anak muda menganggap bahasa Indonesia baku terlalu formal untuk percakapan santai. Karena itu, mereka memilih istilah asing atau bahasa slang yang terasa lebih ringan dan fleksibel.

Selain itu, pola komunikasi media sosial yang serba cepat juga membuat generasi muda jarang mengeksplorasi kekayaan diksi bahasa Indonesia. Padahal, bahasa Indonesia memiliki banyak kosakata ekspresif yang dapat digunakan dalam berbagai situasi komunikasi.

Iklan

Bahasa Gaul Tidak Selalu Berdampak Negatif

Meski penggunaan bahasa slang terus meningkat, fenomena tersebut tidak selalu berdampak negatif. Banyak kalangan menilai bahasa gaul menjadi bagian dari perkembangan budaya komunikasi digital.

Bahasa slang bahkan sering melahirkan kreativitas baru dalam cara anak muda menyampaikan humor, opini, maupun emosi. Selain itu, penggunaan bahasa yang fleksibel juga membuat komunikasi terasa lebih cair dan dekat.

Namun demikian, penggunaan bahasa Indonesia yang baik tetap perlu dijaga, terutama dalam situasi formal, pendidikan, dan komunikasi resmi. Keseimbangan antara bahasa populer dan bahasa baku penting agar generasi muda tetap mampu menjaga identitas bahasa nasional.

Karena itu, para pegiat literasi dan duta bahasa terus mendorong generasi muda untuk mengenal lebih banyak kosakata bahasa Indonesia. Langkah tersebut penting agar anak muda tidak hanya mengikuti tren digital, tetapi juga memahami kekayaan bahasa nasional secara lebih luas.

Fenomena bahasa gaul di era digital diperkirakan masih akan terus berkembang. Selama media sosial menjadi bagian utama kehidupan Gen Z, istilah-istilah baru kemungkinan akan terus muncul dan berubah mengikuti tren komunikasi masyarakat digital.

(naf/lex)