JAKARTA, ifakta.co – Perkembangan media sosial mendorong perubahan besar dalam pola komunikasi generasi muda. Saat ini, penggunaan bahasa gaul atau slang semakin mendominasi percakapan sehari-hari kalangan Generasi Z, terutama di platform digital seperti TikTok, Instagram, hingga X atau Twitter.
Gen Z tidak hanya memakai bahasa Indonesia dalam komunikasi daring. Sebaliknya, mereka juga sering mencampurkan istilah asing, singkatan, hingga kata-kata populer yang muncul dari tren internet. Fenomena tersebut membuat dinamika bahasa berkembang sangat cepat dan terus berubah dalam waktu singkat.
Kecepatan penyebaran bahasa gaul itu kemudian memunculkan perhatian dari berbagai kalangan. Sebagian generasi sebelumnya bahkan mulai kesulitan mengikuti istilah-istilah baru yang terus bermunculan di media sosial.
Iklan
Fenomena tersebut ternyata tidak sekadar tren sesaat. Pemenang III Putri Duta Bahasa Kaltim-Kaltara 2025, Afifah Amani, menilai penggunaan bahasa slang memiliki kaitan erat dengan identitas sosial dan pola komunikasi generasi muda di era digital.
“Karena bagi generasi muda atau generasi Z ini bukan hanya sekadar tren sesaat, tetapi juga sebagai bentuk adaptasi linguistik. Untuk sebagai sarana untuk menunjukkan identitas sosial sekaligus juga untuk sarana menyampaikan humor dalam interaksi daring,” ujar Afifah Amani dalam program Literasi Digital di Pro1 RRI Samarinda.
Media Sosial Percepat Penyebaran Bahasa Slang
Media sosial menjadi faktor utama yang mempercepat penyebaran bahasa gaul di kalangan anak muda. Konten viral membuat istilah baru cepat dikenal luas, lalu dipakai secara berulang oleh pengguna lain.
Selain itu, algoritma media sosial ikut memperkuat tren tersebut. Ketika satu istilah populer muncul dalam video atau unggahan viral, pengguna lain akan menirukan penggunaan kata itu agar merasa relevan dengan lingkungan pergaulan digital mereka.
Akibatnya, istilah baru dapat menyebar hanya dalam hitungan hari. Bahkan, sebagian kata slang kemudian masuk ke percakapan sehari-hari di luar media sosial.
Afifah Amani menilai kondisi itu menunjukkan kemampuan adaptasi linguistik generasi muda yang sangat tinggi. Menurutnya, Gen Z mampu mengikuti arus budaya global tanpa sepenuhnya meninggalkan identitas lokal mereka.
Selain itu, penggunaan bahasa gaul juga membantu anak muda membangun kedekatan emosional dalam kelompok pertemanan digital. Banyak remaja merasa lebih santai dan nyaman ketika memakai bahasa yang dianggap lebih akrab serta ekspresif.
Gen Z Lebih Nyaman Mengekspresikan Emosi dengan Bahasa Asing
Di sisi lain, fenomena penggunaan bahasa campuran memunculkan pertanyaan baru. Banyak anak muda kini lebih nyaman mengungkapkan perasaan memakai istilah asing alih-alih menggunakan bahasa Indonesia secara penuh.
Pemenang IV Putra Duta Bahasa Kaltim-Kaltara 2025, Muhammad Zaini Ghoni, menilai kondisi tersebut berkaitan dengan keterbatasan penguasaan kosakata baku di kalangan generasi muda.
“Kenapa mereka mungkin lebih nyaman dengan bahasa asing ketika mengungkapkan perasaannya, mungkin karena di situ kreativitas mereka lebih bisa keluar. Mungkin juga, mereka belum banyak mengetahui atau belajar diksi-diksi indah yang ada di bahasa Indonesia karena mereka merasa terlalu puitis,” jelas Ghoni.
Menurutnya, banyak anak muda menganggap bahasa Indonesia baku terlalu formal untuk percakapan santai. Karena itu, mereka memilih istilah asing atau bahasa slang yang terasa lebih ringan dan fleksibel.
Selain itu, pola komunikasi media sosial yang serba cepat juga membuat generasi muda jarang mengeksplorasi kekayaan diksi bahasa Indonesia. Padahal, bahasa Indonesia memiliki banyak kosakata ekspresif yang dapat digunakan dalam berbagai situasi komunikasi.
Bahasa Gaul Tidak Selalu Berdampak Negatif
Meski penggunaan bahasa slang terus meningkat, fenomena tersebut tidak selalu berdampak negatif. Banyak kalangan menilai bahasa gaul menjadi bagian dari perkembangan budaya komunikasi digital.
Bahasa slang bahkan sering melahirkan kreativitas baru dalam cara anak muda menyampaikan humor, opini, maupun emosi. Selain itu, penggunaan bahasa yang fleksibel juga membuat komunikasi terasa lebih cair dan dekat.
Namun demikian, penggunaan bahasa Indonesia yang baik tetap perlu dijaga, terutama dalam situasi formal, pendidikan, dan komunikasi resmi. Keseimbangan antara bahasa populer dan bahasa baku penting agar generasi muda tetap mampu menjaga identitas bahasa nasional.
Karena itu, para pegiat literasi dan duta bahasa terus mendorong generasi muda untuk mengenal lebih banyak kosakata bahasa Indonesia. Langkah tersebut penting agar anak muda tidak hanya mengikuti tren digital, tetapi juga memahami kekayaan bahasa nasional secara lebih luas.
Fenomena bahasa gaul di era digital diperkirakan masih akan terus berkembang. Selama media sosial menjadi bagian utama kehidupan Gen Z, istilah-istilah baru kemungkinan akan terus muncul dan berubah mengikuti tren komunikasi masyarakat digital.
(naf/lex)





