• Tikus berdasi itu merugikan negara.
  • Dia menjadi bintang kelas tahun ini.

Simile

Berbeda dengan metafora, majas simile menggunakan kata pembanding seperti bagai, laksana, ibarat, atau seperti.

Contoh:

Iklan

  • Wajahnya bersinar seperti bulan purnama.
  • Hidupnya bagaikan roda yang terus berputar.

Hiperbola

Selain itu, hiperbola menyampaikan sesuatu secara berlebihan untuk memperkuat kesan dalam kalimat.

Contoh:

  • Suaranya menggelegar hingga seluruh ruangan terdiam.
  • Aku menunggumu seribu tahun lamanya.

Eufemisme

Di sisi lain, eufemisme mengganti kata yang kasar dengan istilah yang lebih halus agar terdengar sopan.

Contoh:

  • Penyandang tunanetra memiliki hak yang sama.
  • Pemerintah membantu masyarakat prasejahtera.

2. Majas Pertentangan

Majas pertentangan menggambarkan dua hal yang saling berlawanan dalam satu kalimat. Oleh sebab itu, kalimat terasa lebih kuat dan menarik perhatian pembaca.

Paradoks

Majas paradoks memperlihatkan pertentangan antara kenyataan dan situasi yang terjadi.

Contoh:

  • Ia merasa kesepian di tengah keramaian kota.
  • Sawah itu tetap subur meski musim kemarau panjang datang.

Antitesis

Selain paradoks, antitesis menggunakan pasangan kata yang saling berlawanan.

Contoh:

  • Tua muda hadir dalam acara tersebut.
  • Menang kalah bukan masalah utama bagi tim kami.

Litotes

Sementara itu, litotes dipakai untuk merendahkan diri meskipun kenyataannya tidak demikian.

Contoh:

  • Silakan mampir ke gubuk sederhana kami.
  • Saya hanya orang biasa di perusahaan ini.

Oksimoron

Berikutnya, oksimoron menggabungkan dua kata yang bertentangan dalam satu ungkapan.

Contoh:

  • Dia merasakan pahit manis kehidupan.
  • Perubahan menjadi hal yang tetap di dunia ini.

3. Majas Penegasan

Majas penegasan bertujuan memperkuat makna agar pembaca lebih memahami pesan yang disampaikan.

Repetisi

Majas repetisi menggunakan pengulangan kata dalam satu kalimat untuk memberikan penekanan.

Contoh:

  • Aku ingin belajar, belajar, dan terus belajar.
  • Dia datang, datang, lalu pergi begitu saja.

Pleonasme

Selain repetisi, pleonasme menambahkan kata yang sebenarnya tidak perlu untuk mempertegas maksud.

Contoh:

  • Mereka masuk ke dalam kelas bersama-sama.
  • Kita harus maju ke depan tanpa ragu.

Retorika

Sementara itu, retorika berbentuk pertanyaan yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban.

Contoh:

  • Siapa yang tidak ingin hidup bahagia?
  • Apa ada orang yang senang dibohongi?

Klimaks

Selanjutnya, klimaks menyusun gagasan dari tingkat rendah menuju tingkat tertinggi.

Contoh:

  • Perlombaan itu berlangsung dari tingkat sekolah, kabupaten, provinsi, hingga nasional.
  • Acara tersebut dihadiri siswa, guru, kepala sekolah, dan pejabat daerah.

4. Majas Sindiran

Majas sindiran dipakai untuk menyindir seseorang secara halus maupun kasar. Biasanya, jenis majas ini digunakan dalam percakapan maupun karya sastra.

Ironi

Majas ironi menyampaikan sindiran dengan kata-kata yang bertolak belakang dari kenyataan.

Contoh:

  • Rajin sekali kamu, tugas saja tidak pernah dikerjakan.
  • Suaramu merdu sekali sampai tetangga menutup telinga.

Sinisme

Berbeda dengan ironi, sinisme menyindir secara langsung dan lebih tajam.

Contoh:

  • Kamu memang pandai mencari alasan.
  • Orang tuamu bekerja keras, tetapi kamu hanya bermalas-malasan.

Sarkasme

Bahkan, sarkasme menggunakan sindiran yang sangat kasar dan keras.

Contoh:

  • Dasar keras kepala, nasihat siapa pun tidak pernah didengar!
  • Perilakumu benar-benar memalukan.

Satire

Selain itu, satire menyampaikan kritik sosial melalui sindiran yang cukup tajam.

Contoh:

  • Hebat sekali, masih saja korupsi saat rakyat kesulitan hidup.
  • Nuranimu hilang sampai tega menipu teman sendiri.

Pentingnya Memahami Majas

Pemahaman tentang majas membantu seseorang meningkatkan kemampuan berbahasa. Selain itu, penggunaan majas juga membuat tulisan terasa lebih kreatif dan tidak membosankan.

Di sisi lain, majas membantu pembaca memahami emosi penulis secara lebih mendalam. Oleh sebab itu, banyak penulis memakai gaya bahasa ini dalam puisi, cerpen, novel, maupun pidato.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, majas merupakan gaya bahasa yang membuat kalimat lebih hidup, indah, dan bermakna. Dalam Bahasa Indonesia, majas terbagi menjadi beberapa jenis, seperti majas perbandingan, pertentangan, penegasan, dan sindiran.

Dengan memahami berbagai jenis majas beserta contohnya, seseorang dapat lebih mudah menulis maupun memahami karya sastra. Selain itu, kemampuan menggunakan majas juga membantu seseorang menyampaikan pesan secara lebih menarik dan berkesan.

(naf/wli)