Di sisi lain, ULD sebenarnya merekomendasikan ruang khusus bagi peserta tuli. Namun, panitia belum menerapkan skema tersebut secara penuh karena mengikuti kebijakan pusat. Akibatnya, pengawas meningkatkan intensitas pengawasan di ruang reguler.
“Idealnya mereka berada dalam satu ruang agar lebih mudah dipantau tanpa mengurangi kenyamanan,” ujarnya.
Pendamping Hadir, Kemandirian Tetap Dijaga
Selain komunikasi, UGM juga menghadirkan pendamping selama ujian berlangsung. Pendamping membantu menyampaikan instruksi teknis kepada peserta.
Iklan
Meski begitu, pendamping tidak terlibat dalam pengerjaan soal. Dengan demikian, peserta tetap menjaga kemandirian selama ujian.
“Pendamping hanya membantu pada aspek komunikasi, bukan pada substansi ujian,” jelas Wuri.
Rekomendasi untuk Peserta Netra
Walaupun UGM tidak menjadi lokasi ujian bagi peserta netra, ULD tetap menyusun rekomendasi teknis. Misalnya, penggunaan komputer dengan screen reader dan headphone.
Selain itu, ULD menyarankan penyediaan ruang khusus agar peserta bisa fokus. Di sisi lain, tim juga menekankan pentingnya penyesuaian soal berbasis visual menjadi narasi.
“Perangkat dan lingkungan yang sesuai akan sangat menentukan kemandirian peserta netra dalam mengerjakan soal,” tuturnya.
Lebih lanjut, peserta netra juga membutuhkan tambahan waktu pengerjaan minimal 30 persen. Hal ini penting karena proses membaca melalui alat bantu membutuhkan waktu lebih lama.
“Mereka membutuhkan waktu lebih karena tidak bisa membaca secara cepat seperti peserta lain,” ucapnya.
Dalam kondisi tertentu, ULD juga menyiapkan pendamping khusus. Idealnya, satu peserta didampingi satu pendamping agar proses berjalan optimal.
“Pendampingan dilakukan agar peserta tetap mandiri, tetapi tidak kesulitan dalam memahami materi ujian,” jelas Wuri.
Komitmen Inklusivitas dan Tantangan di Lapangan
UGM menjalankan seluruh layanan ini berdasarkan regulasi nasional. Di antaranya Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023 serta panduan layanan mahasiswa disabilitas.
“Kami memastikan setiap layanan yang diberikan sesuai dengan prinsip akomodasi yang layak,” ungkap Wuri.
Namun demikian, UGM tetap menghadapi sejumlah tantangan. Misalnya, belum semua soal ramah bagi peserta netra. Selain itu, sebagian peserta juga belum terbuka terkait kondisi disabilitasnya.
Meski begitu, UGM terus melakukan evaluasi dan perbaikan. Kampus juga memastikan seluruh lokasi ujian memenuhi standar aksesibilitas, mulai dari jalur masuk hingga fasilitas pendukung.
“Inklusivitas bukan sekadar memastikan peserta bisa mengikuti ujian, tetapi juga memastikan mereka merasa aman, dihargai, dan didukung sejak datang ke lokasi,” pungkas Wuri.
(naf/kho)




