YOGYAKARTA. ifakta.co – Universitas Gadjah Mada (UGM) memastikan pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 berjalan inklusif bagi seluruh peserta. Oleh karena itu, kampus memberikan perhatian khusus kepada 13 peserta disabilitas yang mengikuti ujian pada 21–27 April 2026.
Sejak tahap awal, Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM langsung mengidentifikasi kebutuhan peserta secara spesifik. Selain itu, tim menggunakan pendekatan berbasis individu agar setiap peserta menerima fasilitas yang tepat sesuai kondisinya.
Kepala ULD UGM, Wuri Handayani, menjelaskan bahwa timnya mengumpulkan data melalui formulir asesmen. Formulir tersebut memuat identitas, jenis disabilitas, serta kebutuhan selama ujian. Di sisi lain, peserta juga melampirkan surat keterangan medis sebagai bagian dari proses verifikasi.
Iklan
“Kami ingin memastikan setiap peserta mendapatkan fasilitasi yang sesuai dengan kebutuhannya, bukan disamaratakan,” ujar Wuri dalam laman UGM, Selasa (21/4).
Selanjutnya, ULD mencatat 13 peserta yang mengisi asesmen, terdiri dari 12 peserta tuli dan 1 peserta dengan disabilitas fisik. Berdasarkan data tersebut, tim langsung menentukan bentuk layanan yang relevan.
Fasilitasi Peserta Tuli dan Penguatan Komunikasi
Dalam pelaksanaannya, UGM memfokuskan layanan pada peserta tuli dan fisik. Sementara itu, panitia pusat mengarahkan peserta netra untuk mengikuti ujian di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Untuk peserta tuli, UGM menyesuaikan strategi komunikasi secara fleksibel. Peserta tetap mengerjakan soal secara mandiri. Namun demikian, mereka membutuhkan bantuan penerjemah untuk memahami instruksi dari panitia.
“Ada peserta yang menggunakan bahasa isyarat, ada juga yang membaca gerak bibir, sehingga pendekatannya perlu fleksibel,” tutur Wuri.
Selain itu, ULD memastikan peserta tetap menggunakan alat bantu dengar selama ujian. Pihak kampus menganggap alat tersebut sebagai kebutuhan dasar yang tidak bisa dipisahkan.
“Meminta peserta melepas alat bantu dengar sama dengan melanggar hak dasar mereka sebagai penyandang disabilitas,” tegas Wuri.
Di sisi lain, ULD sebenarnya merekomendasikan ruang khusus bagi peserta tuli. Namun, panitia belum menerapkan skema tersebut secara penuh karena mengikuti kebijakan pusat. Akibatnya, pengawas meningkatkan intensitas pengawasan di ruang reguler.
“Idealnya mereka berada dalam satu ruang agar lebih mudah dipantau tanpa mengurangi kenyamanan,” ujarnya.
Pendamping Hadir, Kemandirian Tetap Dijaga
Selain komunikasi, UGM juga menghadirkan pendamping selama ujian berlangsung. Pendamping membantu menyampaikan instruksi teknis kepada peserta.
Meski begitu, pendamping tidak terlibat dalam pengerjaan soal. Dengan demikian, peserta tetap menjaga kemandirian selama ujian.
“Pendamping hanya membantu pada aspek komunikasi, bukan pada substansi ujian,” jelas Wuri.
Rekomendasi untuk Peserta Netra
Walaupun UGM tidak menjadi lokasi ujian bagi peserta netra, ULD tetap menyusun rekomendasi teknis. Misalnya, penggunaan komputer dengan screen reader dan headphone.
Selain itu, ULD menyarankan penyediaan ruang khusus agar peserta bisa fokus. Di sisi lain, tim juga menekankan pentingnya penyesuaian soal berbasis visual menjadi narasi.
“Perangkat dan lingkungan yang sesuai akan sangat menentukan kemandirian peserta netra dalam mengerjakan soal,” tuturnya.
Lebih lanjut, peserta netra juga membutuhkan tambahan waktu pengerjaan minimal 30 persen. Hal ini penting karena proses membaca melalui alat bantu membutuhkan waktu lebih lama.
“Mereka membutuhkan waktu lebih karena tidak bisa membaca secara cepat seperti peserta lain,” ucapnya.
Dalam kondisi tertentu, ULD juga menyiapkan pendamping khusus. Idealnya, satu peserta didampingi satu pendamping agar proses berjalan optimal.
“Pendampingan dilakukan agar peserta tetap mandiri, tetapi tidak kesulitan dalam memahami materi ujian,” jelas Wuri.
Komitmen Inklusivitas dan Tantangan di Lapangan
UGM menjalankan seluruh layanan ini berdasarkan regulasi nasional. Di antaranya Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023 serta panduan layanan mahasiswa disabilitas.
“Kami memastikan setiap layanan yang diberikan sesuai dengan prinsip akomodasi yang layak,” ungkap Wuri.
Namun demikian, UGM tetap menghadapi sejumlah tantangan. Misalnya, belum semua soal ramah bagi peserta netra. Selain itu, sebagian peserta juga belum terbuka terkait kondisi disabilitasnya.
Meski begitu, UGM terus melakukan evaluasi dan perbaikan. Kampus juga memastikan seluruh lokasi ujian memenuhi standar aksesibilitas, mulai dari jalur masuk hingga fasilitas pendukung.
“Inklusivitas bukan sekadar memastikan peserta bisa mengikuti ujian, tetapi juga memastikan mereka merasa aman, dihargai, dan didukung sejak datang ke lokasi,” pungkas Wuri.
(naf/kho)




